Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

Saturday, 13 Rabiul Akhir 1442 / 28 November 2020

PBB: Tanaman Koka di Bolivia Berkurang

Rabu 07 Aug 2013 01:33 WIB

Red: Dewi Mardiani

Daun koka.

Daun koka.

Foto: bolivia.for91days.com

REPUBLIKA.CO.ID, VIENA -- Budidaya koka di Bolivia, penghasil terbesar ketiga kokain di dunia setelah Peru dan Kolombia, turun dalam dua tahun berturut-turut pada 2012. Ini terjadi, seiring upaya pemerintah meningkatkan pemberantasan, kata data resmi, yang dikeluarkan pada Senin (5/8).

Harga daun koka, yang dapat digunakan untuk membuat kokain, juga mengalami penurunan, kata survai tahunan, yang disusun Kantor PBB urusan Narkotika dan Kejahatan (UNODC) serta Pemerintah Bolivia. Budidaya tanaman koka di Bolivia turun sekitar tujuh persen menjadi sekitar 25.300 hektar, menyusul penurunan 12 persen pada tahun 2011, menurut survei.

Antonino De Leo, perwakilan UNODC di Bolivia, mengatakan upaya pemberantasan yang dipimpin pemerintah serta dialog dengan petani dan insentif sosial telah membantu mengekang penyebarluasan tanaman itu. Dia mengatakan Pemerintah Bolivia harus terus mengurangi kelebihan tanaman koka dengan meningkatkan alternatif bagi petani dan memperkuat program penegakan pemberantasan narkotika.

Presiden Evo Morales, yang juga merupakan seorang mantan petani daun koka dan pernah mengatakan jika tanaman itu memiliki manfaat kesehatan, menyambut baik laporan PBB itu. Menurut laporan Reuters, Selasa (6/8), dia terlibat dalam perseteruan panjang dengan Washington atas apa yang ia sebut sebagai upaya Amerika Serikat mencampuri urusan Amerika Latin di bawah kedok perang terhadap narkotika.

Pada tahun 2008, ia mengusir agen Badan Anti Narkotika Amerika Serikat (DEA) dari Bolivia, dengan tuduhan mereka berkomplot melawan pemerintahnya. "Pertarungan nasional kita melawan narkotika sedang terjadi tanpa pemaksaan, syarat atau kompensasi dari luar negeri," kata Morales. "Kebijakan yang diberlakukan (oleh Amerika Serikat) tidak berfungsi."

Pemerintahannya memberantas sekitar 11 ribu hektar tanaman koka tahun lalu, naik 5 persen dari angka 2011. Potensi daun kokal berada di kisaran 45 ribu metrik ton, turun 6 persen dari jumlah tahun sebelumnya, menurut data survei. Harga daun koka turun 5 persen, sekitar 7,40 dolar per kg di dua pasar resmi di negara itu.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA