'Bebas dari Neraka di Sepertiga Malam Terakhir'

Red: A.Syalaby Ichsan

 Ahad 04 Aug 2013 09:20 WIB

Iktikaf di masjid. Foto: Republika/Edy Yusuf Iktikaf di masjid.

REPUBLIKA.CO.ID, Sepuluh hari terakhir justru kerap diabaikan oleh kebanyakan Muslim Tanah Air. Menurut dosen Fakultas Syariah Institut Ilmu Al Quran Jakarta, Ustaz M Ziyad Ulhaq SQ SEi MA, fenomana ini adalah contoh adat yang tak bersendi syariat.

Alumnus Perguruan Tinggi Ilmu Alquran Jakarta (PTIQ) itu melihat pentingnya peran para ustaz untuk memberikan pemahaman terkait keistimewaan 10 hari terakhir Ramadhan. 

Berikut petikan perbincangan wartawan Republika Nashih Nashrullah dengan sosok yang tengah menempuh Program Doktoral di International Islamic University Malaysia (IIUM) itu:   

Apa makna 'bebas dari api neraka' di sepertiga akhir Ramadhan?

Makna 'itqun minan naar' adalah satu prestasi atau capaian seorang hamba yang telah melalui proses merengkuh rahmat (kasih sayang) Allah SWT pada 10 hari pertama dan menggapai maghfirah (ampunan)-Nya selama 10 hari kedua. 

Praktis, terbebas dari api neraka tidak dapat dicapai dengan cara singkat dan tiba-tiba. Ia harus dititi, dirajut, dan dipintal sejak awal Ramadhan. Satu konsekuensi yang logis dan balasan yang setimpal bagi siapa saja yang semula telah bersedia secara ikhlas menghidupkan Ramadhan dengan amal ibadah, baik ritual maupun sosial.

Apa sunah dan keistimewaan 10 terakhir Ramadhan?

Meski Nabi Muhammad SAW tidak menyinggung secara tegas tentang kapan persisnya malam lailatul qadar terjadi, namun bila diamati dan ditelisik dari kebiasaan Nabi yang meningkatkan intensitas ibadah pada 10 hari terakhir, hal ini merupakan indikator yang kuat bahwa malam seribu bulan itu terjadi pada 10 hari terakhir. Sebagian ulama memberikan penekanan pada malam-malam ganjil, merujuk pada riwayat "innallaaha witrun yuhibbul witra" (sungguh Allah itu ganjil dan menyukai (angka) ganjil.

Justru semangat beribadah kendur di waktu-waktu ini?

Ini adalah fenomena adat tidak bersendi syariat. Mestinya pada 10 hari terkahir, setiap Muslim lebih meningkatkan intensitas ibadahnya sebagaimana dicontohkan Nabi. Meski shalat qiyamul lail dan menghidupkan malam Ramadhan tidak mesti di masjid, namun sering kali ramai atau tidaknya masjid itu menjadi tolok ukur makmur atau tidaknya kegiatan keagamaan di suatu tempat. 

Dan satu hal, ramainya rumah Allah dengan berbagai macam kegiataan keagamaan adalah bagian dari syiar agama yang sangat disukai dan dianjurkan Allah dan bagian dari tanda-tanda ketakwaan. Lihat surah al-Hajj ayat 32.

Apa solusinya?

Dengan tidak henti-hentinya para ustaz dan ulama memberikan pengertian dan pemahaman kepada umat. Pemahaman terhadap syariat dan pesan agama mutlak diperlukan dalam rangka mencapai pengamalan ajaran agama yang baik dan benar.

Tak ada cara lagi selain melakukan manajemen ibadah Ramadhan. Dengan cara (planning), merencanakan sejak awal Ramadhan, niatkan diri, tetapkan hati untuk mengejar target menggapai lailatul qadar, acting (pelaksanaan dan konsistensi dari apa yang telah direncanakan sesuai dengan target-target tertentu) dan reviewing (koreksi dan penilaian, mana target yang tercapai dan tidak tercapai) sehingga paling tidak ada usaha ke arah target kembali suci (fitrah) daripada kita melalui Ramadhan tak ubahnya seperti bulan biasa. 

Tanpa target ibadah yang dicapai dan berlalu tanpa makna yang berarti. Semoga kita termasuk hamba Allah yang dapat mengapai prestasi Idul Fitri (kembali kepada kesucian). 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X