Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Parpol Kamboja Perebutkan Pemilih Muda

Selasa 23 Jul 2013 09:44 WIB

Red:

Pemilu di Kamboja

Pemilu di Kamboja

SINGAPURA -- Partai-partai politik di Kamboja bersaing memperebutkan suara kaum muda dalam pemilu mendatang. Lebih dari sepertiga pemilih terdaftar berusia antara 18 dan 30 dan sangat aktif di media sosial.

Pemilu mendatang ini dijuluki Cambodian Spring, ditandai dengan sejumlah besar aktivis muda turun ke jalan dan sangat aktif di media sosial menuntut perubahan.

Partai Penyelamatan Nasional Kamboja (CNRP) yang beroposisi misalnya, berusaha merangkul pemilih muda. "Kami berusaha merangkul kaum muda yang kecewa terhadap pemerintah," kata seorang caleg CNRP, Mu Sochua. "Pemerintah begitu korup sehingga dana pendidikan, lapangan kerja, pelatihan kejuruan untuk kaum muda menghilang, jatuh ke tangan keluarga golongan kaya," katanya.

Jika bersatu dengan partai-partai oposisi lainnya, CNRP mempunyai kesempatan memenangkan pemilu dan menggulingkan pemerintah Hun Sen yang telah berkuasa selama 28 tahun.

CNRP berkampanye dengan janji memberantas korupsi dan memperbaiki upah dan kesempatan kerja.

Partai Rakyat Kamboja (CPP) yang memerintah masih dipandang favorit untuk menang dalam pemilu karena popularitasnya di antara golongan miskin dan komunitas pedesaan.

Partai tersebut juga menargetkan pemilih muda, dengan mengerahkan Gerakan Pemuda CPP yang terdiri dari pemilih di bawah 30 tahun, untuk turun ke jalan.
 

LSM pemantau pemilu Komisi Pemilu yang Bebas dan Adil  (COMFREL) Kamboja menyatakan, meskipun tingkat keaktifan pemuda sangat tinggi, itu bukan jaminan kampanye berjalan bebas dan adil.

COMFREL menuduh media tradisional mendukung CPP dan Komisi Pemilu Nasional tidak transparan.

Sebuah NGO lainnya, Lembaga Demokratik Nasional, mengatakan, 10 persen nama dalam daftar pemilih adalah palsu.

Sejumlah anggota Kongres AS sebelumnya mengancam akan menarik bantuan ke Kamboja seandainya pemilu dianggap tidak demokratis.

Pemerintah Kamboja sangat marah menanggapi ancaman itu.

COMFREL mempunyai 10 ribu pengamat pemilu, 70 persen di antaranya kaum muda. Tapi dengan 19 ribu TPS di seluruh Kamboja, organisasi tersebut mengakui, pihaknya tidak bisa memastikan pemilu akan berjalan adil.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA