Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Selasa, 16 Safar 1441 / 15 Oktober 2019

Basarah Sebut Gawai Bisa Jadi Alat Pemecah Belah

Senin 05 Nov 2018 21:22 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Gita Amanda

Ahmad Basarah

Ahmad Basarah

Saat ini bentuk penjajahan yang terjadi justru sulit terdeteksi.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah menyebut gawai dapat menjadi alat pemecah di era masa kini. Melalui media tersebut, hal yang tidak seharusnya ada bisa masuk ke dalam bangsa Indonesia.

"Hanya dengan dua jari bisa merajalela kemana-mana dua ideologi liberalisme dan kapitalisme yang membawa kebebasan sebebas-bebasnya sehingga tidak ada aturan di muka bumi ini untuk melarang termasuk melakukan LGBT,” kata Basarah dalam dialog kebangsaan di Gedung Widyaloka, Universitas Brawijaya (UB), Kota Malang, Senin (5/11).

Menurut Basarah, permasalahan tersebut dapat terjadi karena banyak generasi muda yang sudah mengingkari makna Sumpah Pemuda. Contoh lain bisa terlihat bagaimana bahasa pergeseran bahasa persatuan Indonesia. Bagian asli bangsa ini mulai tergerus dengan adanya bahasa gaul, prokem, dan slang.

Melihat hal tersebut, Basarah pun membandingkan musuh bangsa di zaman kolonial dengan era kini. Saat ini bentuk penjajahan yang terjadi justru sulit terdeteksi. Sebab, dia melanjutkan, bentuknya lebih pada isu atau pemberitaan yang mengadu domba bangsa sendiri.

“Indonesia ditakdirkan menjadi negeri kaya raya sehingga membuat bangsa lain melakukan ekspansi, imperialisme dan kolonialisme. Salah satu cara yang dilakukannya adalah politik pecah belah. Dari situ lalu muncul kesadaran yang dilakukan persatuan-persatuaan pemuda yang akhirnya mewujudkan Sumpah Pemuda. Hari ini penjajahan tidak berhenti. Bung Karno pernah berkata bahwa di masa depan perjuangan akan lebih sulit karena menghadapi bangsa sendiri. Bentuk penjajahan saat ini adalah Neo Imperialisme politik Devide Et Impera jilid tiga,” katanya.

Dengan keadaan demikian, Basarah menilai, perlu adanya upaya untuk membentengi diri. Dalam hal ini bangsa memang sudah seharusnya berpegang teguh pada falsafah Pancasila.

"Agar tidak terombang-ambing," tambah Basarah.

<!--Clip_XXXX_181105_211433_313-->

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler