Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Generasi Muda Bukan Pemanis Demokrasi

Selasa 30 Oct 2018 09:35 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

 'Diskusi Empat Pilar MPR, Senin (29/10) dengan pembicara, yakni pakar politik Adi Prayitno (kiri) dan anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar, Firman Subagyo (kanan).

'Diskusi Empat Pilar MPR, Senin (29/10) dengan pembicara, yakni pakar politik Adi Prayitno (kiri) dan anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar, Firman Subagyo (kanan).

Foto: mpr
Indonesia dibesarkan oleh anak muda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Pakar politik UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno  mengatakan generasi milineal bukan hanya artifisial, bumbu dan pemanis demokrasi. Generasi muda harus dilibatkan dalam persoalan-persoalan yang ada.

Adi mengatakan, suka tak suka bangsa ini dibesarkan oleh anak muda. Dicontohkan kemerdekaan dan nasionalisme  disemaikan oleh anak muda. "Anak muda bukan komoditas politik tetapi generasi yang menentukan Indonesia ke depan," kata dia, Senin (29/10).

MPR memperingati Sumpah Pemuda dengan  menggelar 'Diskusi Empat Pilar' yang diadakan di Press Room, Senin (29/10). Diskusi dengan tema 'Makna Sumpah Pemuda Bagi Generasi Milineal' itu menghadirkan dua pembicara, yakni Adi Prayitno dan anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar, Firman Subagyo.

Firman mengatakan Indonesia saat ini dihadapkan pada perubahan peradaban bangsa. Perubahan yang terjadi mengandung tantangan. Tantangan yang ada seperti globalisasi ekonomi, globalisasi politik, serta perkembangan teknologi yang bisa mempengaruhi perilaku anak muda. Dikatakan, tantangan itu serius untuk diperhatikan.

Dari sebuah riset yang dirilis New York Times, generasi milineal adalah mereka yang lahir pada tahun 1981 hingga 1996. Generasi ini berkisar antara 22 dan 30 tahun. Dalam riset tersebut juga menyebut perilaku generasi ini tidak hanya bersifat positif namun juga mempunyai potensi negatif.

"Generasi ini mempunyai ego yang besar sehingga mengatakan dirinya paling benar," kata Firman mengutip riset itu.

Berangkat dari riset itu, Firman mewanti-wanti agar waspada dan ekstra hati-hati dari ancaman globalisasi terutama perkembangan informasi lewat teknologi. Perkembangan informasi diakui diakui sangat berpengaruh pada  anak muda.

Ia mengingatkan kalau kita tidak memahami dan menyaring apa yang benar dan apa yang salah, apa yang boleh dilakukan dan tidak, maka dampak buruk informasi itu akan menggerus generasi muda. "Dan ini mengancam persatuan dan kesatuan bangsa," ungkapnya.

Dia mencontohkan banyak anak muda bahkan anak kecil,  setiap hari membuka HP dan mereka bisa memilih apa yang disukai dan apa saja bisa ditonton. Firman Subagyo menegaskan dampak seperti ini yang harus dibendung. Diakui perubahan perilaku anak muda tidak hanya di perkotaan namun juga di pedesaan.
 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler