Sabtu, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Sabtu, 15 Sya'ban 1440 / 20 April 2019

Cerita Warga Kepulauan Saksikan Sidang Tahunan Langsung

Rabu 16 Agu 2017 13:05 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Sidang Tahunan MPR, DPR dan DPR di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta pada Rabu (16/8).

Sidang Tahunan MPR, DPR dan DPR di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta pada Rabu (16/8).

Foto: Republika/Yasin Habibi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jopi Bee tidak menyangka bisa melihat Sidang Tahunan MPR secara langsung. Pria kelahiran Kabupaten Tomohon, Sulawesi Utara, 20 Desember 1985, itu lebih lanjut mengatakan, tidak menyangka bisa sampai di Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta. Alumni Universitas Kristen Tomohon itu sebelumnya melihat acara sidang tahunan di televisï.

“Kalau di televisi hanya visual, sedang di sini sangat luar biasa,” kata dia.

Jopi Bee kesehariannya adalah pegawai di Puskemas Lirung, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Latar belakangnya sebagai seorang farmasi mengantarkan dirinya menjadi pegawai di Puskemas Lirung. “Di Puskesmas saya sebagai administrasi obat dan peralatan kesehatan,” ungkapnya.

Jopi Bee bisa datang ke Jakarta sebab dirinya terpilih sebagai seorang Farmasi Teladan. Dirinya terpilih setelah melalui seleksi di tingkat kabupaten dan provinsi. “Saya terpilih setelah mampu menjadi motivator di daerah,” kata dia.

Sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah kepulauan, apalagi jauh dengan Ibu Kota Sulawesi Utara, Manado, apalagi jauh dengan Ibu Kota Negara Jakarta, pasti banyak kendala yang dihadapi Jopi Bee. Naik kapal laut dari Manado sampai Talaud memerlukan waktu satu malam.

Ia menyatakan sebagai penduduk yang jauh dari Jakarta membuat dirinya sulit menyampaikan aspirasi kepada anggota MPR/DPR/DPD. Meski diakui pembangunan di Talaud baik namun hal demikian perlu ditingkatkan.

Di Jakarta, dirinya tinggal dari tanggal 13 hingga 19 Agustus 2017. Selama di Jakarta selain melihat Sidang Tahunan MPR, dirinya bersama teladan lainnya melakukan kunjungan ke Kementerian Kesehatan. “Juga pergi ke Ancol dan pusat perbelanjaan Thamrin,” ungkapnya.

Rasa syukur dan bahagia ketika melihat sidang tahunan secara langsung juga diungkapkan oleh Camat Toa Paya, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Riang Anggraini. Ia mengungkapkan demikian sebab hal demikian jarang-jarang bisa dialami. Bagi perempuan kelahiran Desa Lirik, Indragiri Hulu, 24 Februari 1983, di Gedung MPR/DPR/DPD, dirinya tidak hanya bisa melihat sidang secara langsung namun bisa berkenalan dengan camat dan teladan lainnya.

“Rasanya beda dengan melihat di televisï,” ungkapnya.

Alumni STPDN, Jatinagor, Sumedang, Jawa Barat, itu menjabat sebagai camat baru setahun. Diungkapkan, penduduk di kecamatan yang dipimpinnya mencapai 11.000 jiwa. “Terdiri dari beragam etnis,” paparnya.

Dia bangga di wilayahnya biaya sekolah dan kesehatan tak dipungut biaya alias gratis. Soal transportasi, Riang menyatakan bahwa wilayahnya berhimpit dengan Ibu Kota Kepulauan Riau, Tanjung Pinang, sehingga akses lapangan terbang dekat.  Ia optimis pembangunan di wilayahnya maju sebab Kabupaten Bintan kaya dengan daerah wisata.

Semangat untuk datang ke Gedung MPR/DPR/DPD, juga terpancar dari Sugeng Yuniarso. Pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 22 Juni 1963, itu adalah seorang transmigran teladan. Ia berhasil lolos seleksi transmigran teladan di Provinsi Kalimantan Utara. Sugeng melakukan transmigrasi pada tahun 2013. Oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, ditempatkan di Desa Sei Manggaris, Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Di daerah yang berbatasan dengan Malaysia itu, ia mendapat rumah, seperangkat alat pertanian, dan ladang seluas 3 hektar. “Saya mengikuti transmigrasi agar mengembangkan kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya.

Sebagai seorang petani sawit, dirinya mengungkapkan hasil panennya bisa dipetik dua minggu sekali. Dari tiga hektar ladang yang dimiliki, diperoleh panen sawit sebesar 6 ton. Harga perkilonya Rp1100. Jadi dalam dua minggu sekali ia memperoleh Rp 6.600.000. Sebagai seorang transmigran, dirinya mengaku merasa terhormat dan bangga bisa mengembangkan wilayah desa.

Sebagai transmigran di daerah yang terpencil, apalagi dekat dengan Malaysia, Sugeng mengakui masih banyak kendala hidup yang dialami. “Transportasi, telekomunikasi, dan air bersih masih susah,” ujarnya. Tak hanya itu, meski kebutuhan sembako tersedia namun harganya dua kali lipat dibanding dengan harga di Jawa. “Mahalnya harga sembako karena biaya transportasi mahal,” katanya. “Sebagian ada yang didatangkan dari Malaysia,” tambahnya.

Saat ditanya bisa melihat sidang tahunan secara langsung, pria yang memiliki empat anak itu menyatakan rasa bangga dan senang bisa berkunjung ke Gedung MPR/DPR/DPD.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler