Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

HNW: Jangan Mubazirkan Hak Pilih Kita

Jumat 09 Nov 2018 08:52 WIB

Red: Gita Amanda

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid.

Foto: MPR
Satu suara bisa menciptakan kondisi yang lebih baik.

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) menghadiri Sosialisasi Empat Pilar di hadapan ratusan anggota Serikat Pekerja Nasional (SPN). Dalam sosialisasi HNW menyampaikan agar masyarakat menggunakan hak pilihnya saat Pemilihan Umum (Pemilu) pada 2019.

“Untuk itu jangan mubazirkan hak pilih kita. Jangan menganggap satu suara tidak berarti, satu suara bisa menciptakan kondisi yang lebih baik,” tambahnya seperti dalam siaran pers, Kamis (8/11) lalu.

Menurutnya, Undang-Undang Dasar (UUD) memberi ruang yang sangat lebar kepada rakyat untuk memperbaiki kondisi bangsa salah satunya lewat Pemilu. Untuk itu bila masyarakat memilih calon pemimpin, diharap memilih yang mempunyai kapasitas, baik, dan mengedepankan kepentingan bangsa. Hal demikian disebut sebagai langkah konstitusional.

photo

Wakil Ketua MPR HNW melakukan Sosialisasi Empat Pilar dihadapan ratusan anggota SPN.

UUD memberi ruang untuk perubahan menuju kondisi yang lebih baik, dikatakan tidak hanya pada masalah kedaulatan rakyat. Dalam pendidikan pun juga mengarahkan bangsa dan negara pada tujuan seperti amanat yang tertera dalam Pembukaan UUD.

“Negara tidak membiarkan pendidikan begitu saja. Pendidikan kita mengarahkan kepada masyarakat yang beriman, bertakwa, dan mempunyai akhlak yang mulia," ujarnya.

Dalam acara sosialisasi yang diselenggarakan di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, HNW mengungkapkan sosialisasi yang dilakukan oleh MPR merupakan amanat dari UU. No. 17 Tahun 2014 Tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD. “Dengan demikian kita menjalankan undang-undang”, ujarnya.

Dengan melakukan sosialisasi, menurut Wakil Ketua Badan Wakaf Pondok Pesantren Gontor itu MPR telah mematuhi aturan hukum yang ada. Dalam melakukan sosialisasi, disebut MPR menggunakan berbagai metode, seperti lewat cerdas cermat, outbond, Focus Group Discussion, training of trainer, legal drafting, debat konstitusi, seni dan budaya, serta metode lainnya.

Diungkapkan, dirinya merasa kagum saat lomba cerdas cermat Empat Pilar yang peserta datang dari kalangan pelajar SMA. Mereka bisa hafal UUD NRI Tahun 1945, istilahnya dari A sampai Z. “Luar biasa,” paparnya.

photo

Hidayat Nur Wahid melakukan Sosialisasi Empat Pilar MPR.

Lebih lanjut dikatakan, sosialisasi yang dilakukan itu bekerja sama dengan berbagai pihak seperti guru, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah daerah, perguruan tinggi, TNI, Polri, pekerja atau buruh, dan komponen masyarakat lainnya. “Dari semua yang dilakukan menunjukan posisi sosialisasi sangat jelas legal hukumnya,” ucap pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu.

Dalam sosialisasi yang juga dihadiri oleh Ketua SPN Banten, Ahmad Syaukani, HNW memaparkan bagaimana proses lahirnya Pancasila. Pancasila dilahirkan oleh berbagai kalangan dengan latar suku, agama, profesi, yang beragam untuk menyepakati dan bertanggung jawab dalam membentuk satu kebersamaan, Indonesia.

Bila ada kritik dan perdebatan diharapkan untuk memperbaiki kondisi bangsa dan negara. “Pendiri bangsa dahulu mengkritik dengan  baik dan benar,” paparnya.

Kritik dianggap oleh HNW sebagai bukti masyarakat cinta pada bangsa dan negara. Dalam kritik biasanya ingin terciptanya sebuah tatanan yang adil. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 
 
Terpopuler