Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Punya Rekan Kerja Cerewet, Bagaimana Ya?

Rabu 26 Jun 2013 12:13 WIB

Red: Endah Hapsari

Perempuan stres karena pekerjaan/ilustrasi

Perempuan stres karena pekerjaan/ilustrasi

Foto: sciencemediacentre.co.nz

REPUBLIKA.CO.ID, Pengasuh yang baik, saya memiliki masalah yang cukup menyusahkan saya. Saya memiliki seorang rekan kerja yang sedang mengalami musibah. Sebelum musibah itu datang dia memang cerewet dan saya menerima semua kelebihan dan kekurangannya.

Sejak suaminya meninggal ia makin cerewet dan cenderung sensitif. Ia sering salah mempersepsi pembicaraan orang lain dan mudah tersinggung. Sebagai teman, saya mencoba memahami dan menerima kondisinya dengan lapang dada. Namun, lama kelamaan saya pusing juga. Sikap teman-teman mulai menjauh dari teman saya ini. Saya pun mulai menghindar bertemu dengannya. Apakah sikap saya salah dan sikap seperti apa yang sebaiknya saya lakukan?

Salamah, Jakarta.

Ibu Salamah yang baik,
Saya memahami kesulitan yang sedang Ibu rasakan. Sebagai teman, Ibu ingin menemani dan menghibur dia. Namun, kecerewetan dan sikap teman Ibu itu tentu membuat perasaan Ibu tidak nyaman. Sikap Ibu sebenarnya wajar dan semua orang akan bersikap sama seperti Ibu. Sikap ini benar secara logika namun tidak benar secara budaya dan agama.

Sebagai seorang sahabat sebaiknya Ibu Salamah mencoba untuk menempatkan diri Ibu sebagai teman yang sedang ditimpa musibah. Tentunya perasaan yagn muncul adalah perasaan sedih. Banyak bentuk ekspresi kesedihan. Ada yang menangis, diam atau malah menjadi lebih banyak bicara. Pada kasus teman Ibu bentuk kesedihan bahkan mungkin perasaan tertekan yang dialaminya muncul dalam bentuk mudah marah atau cerewet. Sikap yang harus diambil oleh Ibu adalah menerima perasaannya.

Cobalah untuk memahami sikapnya dengan menanggapi pembicaraannya dengan kata: ''Sepertinya kamu kesal sekali melihat adikmu tidak mau shalat ya...'' atau ''Hmm... sedih ya kalau orang lain tidak mau mendengar nasihatmu''.

Intinya, kita berusaha mendengarkannya tapi tidak membenarkan tingkah lakunya. Agak lelah, namun usaha ini akan membantu teman Ibu mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Dengan demikian diharapkan perasaan sedihnya cepat hilang dan sikap-sikapnya kembali seperti semula karena perasannya sekarang sudah lebih nyaman. Mudah-mudahan usaha Ibu mendapat balasan dari Allah dan teman Ibu cepat mendapatkan kebahagiaan yang lain sebagai pengganti kesabarannya. Amin.

sumber : Rubrik Konsultasi Buah Hati
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA