Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Menjajal Air Asin di Dataran Tinggi Sangiran

Sabtu 22 Jun 2013 09:17 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

 Warga menunjukan sumber mata air asin yang terletak di sekitar Museum Manusia Purba Sangiran, jawa Tengah

Warga menunjukan sumber mata air asin yang terletak di sekitar Museum Manusia Purba Sangiran, jawa Tengah

Foto: Republika/Agung Suprianto

Oleh Erik Purnama Putra

REPUBLIKA.CO.ID,  Terdapat satu objek menarik yang sering terlupakan sebagian besar pengunjung Museum Sangiran. Objek wisata itu adalah sumber air asin.

Letaknya berada di Dusun Pablengan, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, dan Kabupaten Sragen. Untuk mencapai lokasi dua sumber mata air ini, hanya perlu dengan berjalan kaki.

Ini lantaran jaraknya dengan museum sekitar 700 meter. Namun karena sedang musim hujan dan lokasinya berada di tengah areal ladang, disarankan untuk mengenakan alas kaki yang sesuai. Kalau tidak, kaki dipastikan belepotan lumpur karena tanah yang dilewati sangat gembur.

Saya ditemani warga setempat, Waridi (33 tahun) ketika meninjau sumber mata air asin. Diameter sumber sekitar 30 cm, dan dari tengahnya bermunculan gelembung sebagai tanda keluarnya air.

Berdasarkan penuturan versi orang tua di kampungnya, sumber air asin sudah ada sejak dulu. Dapat dikatakan, sumber ini muncul bertepatan dengan adanya Sangiran.

Ia menceritakan mengapa dusunnya diberi nama Pablengan. Hal itu tidak lain karena arti kata bleng bermakna air asin. Alhasil, Pablengan merupakan tempat munculnya sumber air asin. Ketika masih kecil, ia dulu gemar bermain di sekitaran sumber air tersebut.

Kalau sekarang tinggal dua. Dulu, seingatnya, ada empat sumber air asin. Volume air yang dikeluarkan pun, sekarang lebih sedikit daripada sebelumnya. Meski begitu, sumber ini terus menghasilkan air tanpa henti. Tiadanya perhatian dari pemda maupun pihak museum membuat keberadaan sumber air asin terancam.

Padahal, menurut dia, tidak sedikit biasanya rombongan datang untuk melihatnya. “Ketika masyarakat meminta pihak museum untuk membuat akses jalan, jawabannya kurang memuaskan,” kata Waridi.

Begitu pula saat ia meminta agar ada perhatian, berupa pembangunan gubuk atau bangunan sebagai sarana istirahat pengunjung, ia melanjutkan, jawaban pihak museum sangat mengecewakan. “Katanya, kalau di sini dibangun, nanti sumber air asinnya mati.”

Fenomena alam

Meski berada di dataran tinggi, munculnya sumber air asin sebenarnya bukan sebuah keanehan. Pasalnya, pada dua juta tahun lalu, wilayah Sangiran merupakan sebuah lautan dalam. Terjadinya pergeseran bumi dan letusan gunung berapi membuat hamparan laut itu berubah menjadi daratan.

Hal itu dibuktikan  dengan beberapa lapisan tanah  pembentuk  wilayah  Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah di tempat lain. Setiap lapisan tanah di Sangiran ditemukan berbagai fosil sesuai jenis dan jamannya yang berbeda. Misalnya, fosil binatang laut banyak ditemukan lapisan tanah paling dasar, yang dulu merupakan kawasan pesisir.

“Adanya dua sumber air asin di dataran tinggi bukan sebuah keanehan, karena wilayah Sangiran dulunya merupakan lautan,” kata Kepala Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) Harry Widianto.

Menurut Harry, munculnya sumber air asin karena ketika terjadi pergeseran lapisan tanah, terdapat bagian air laut yang terjebak tidak ikut mengalir ke tempat lebih rendah. Meski hamparan lautan sudah menjadi dataran tinggi, namun karena volume air laut itu jumlahnya banyak, hingga kini sumber air asin masih terus mengalir.

Harry memprediksi, sesuai kajiannya, sangat mungkin sumber ini berhenti memproduksi air asin. Hal itu terjadi kalau pasokan air laut yang terjebak di dalam tanah itu sudah habis. Namun, ia tidak tahu kapan jangka waktunya sumber air asin ini mati. “Bisa saja nanti suatu saat airnya kering.”

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA