Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Berziarah ke Fosil Manusia Purba, Sangiran

Sabtu 22 Jun 2013 03:46 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Museum Sangiran, Jawa Tengah

Museum Sangiran, Jawa Tengah

Foto: Republika/Agung Suprianto

Oleh Erik Purnama Putra

REPUBLIKA.CO.ID, Matahari hendak beranjak ketika saya dan fotografer sampai di Jalan Raya Solo-Purwodadi kilometer 15, tepat di perempatan Kecamatan Kalijambe.

Kereta yang membawa saya dari Jakarta sampai di Stasiun Balapan Solo memang baru tiba pukul 05.00 WIB pagi. Sesubuh ini, kami sudah harus menapak jejak kehidupan purba jutaan tahun yang lalu. Memburu Sangiran.

Setelah menumpang becak selama 10 menit, kami sampai di Terminal Tirtonadi, dan langsung naik bus jurusan Solo-Purwodadi. Karena jalanan masih sepi dan sopir bus tampak ugal-ugalan, jarak 15 km hanya ditempuh kurang dari 30 menit. Kami turun di perempatan Kalijambe, Kabupaten Sragen.

Tukang ojek yang biasanya mangkal di situ masih belum terlihat. Saya akhirnya memilih menikmati kopi sambil rebahan di warung terdekat, sekalian menunggu mentari beranjak tinggi. Usai sarapan pagi, sekitar pukul 07:00 WIB, sudah terlihat tukang ojek duduk-duduk di gapura.

Seolah bisa membaca tujuan kami, dia spontan mendekat dan menawarkan jasa transportasi menuju Museum Sangiran di Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen. 

Sesampai di pintu gerbang, petugas loket masih belum terlihat. Penjaga keamanan memberi kode bahwa museum mulai dibuka untuk umum pada pukul 08:00 WIB. Sembari menunggu jam buka museum, kami mencoba melihat suasana alam di sekitarnya.

Menginjakkan kaki di tangga museum, kami disambut dengan sebuah keterangan yang menimbulkan kekaguman. Bagaimana tidak, lapisan tanah tempat museum berdiri diperkirakan berusia 1,8 juta tahun. Lahan yang terbentuk dari lapisan vulkanis paling tua ini merupakan hasil aktivitas Gunung Lawu purba yang tidak mengandung fosil.

Lokasi museum berada di dataran tinggi sehingga bisa melihat pemandangan kehijauan di sekelilingnya. Pada 100 ribu tahun lalu, tempat museum berdiri merupakan gunung. Namun karena proses alam terjadi pelipatan dan pengangkatan lapisan tanah hingga membentuk kubah. Karena itu, Museum Sangiran terletak di kawasan Kubah Sangiran.

Situs Sangiran menjadi area penelitian kehidupan prasejarah terpenting dan terlengkap di dunia, khususnya di Asia. Situs Sangiran diperkirakan terbentang sejauh 7×8 km yang meliputi Kecamatan Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh di Sragen, serta Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

“Diperkirakan, di dalam lapisan tanah seluas itu, beragam fosil manusia purba masih terkubur,” kata Kepala Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) Harry Widianto.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA