Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Wednesday, 15 Sya'ban 1441 / 08 April 2020

Profesi

Segudang Profesi Balik Layar

Rabu 05 Jun 2013 01:20 WIB

Red: Zaky Al Hamzah

Film Laskar Pelangi, salah satu film berkualitas di Indonesia.

Film Laskar Pelangi, salah satu film berkualitas di Indonesia.

Foto: kaskus.us

REPUBLIKA.CO.ID, Dalam produksi film layar lebar, kesuksesan tak hanya melibatkan satu atau dua komponen saja. Tapi, banyak unit yang turut berkontribusi hingga sebuah film siap dinikmati penonton. Mulai dari praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi, puluhan hingga ratusan orang terlibat di belakang layar.

Tapi, hanya segelintir profesi belakang layar yang kerap 'terdengar' khalayak. Sutradara dan produser merupakan dua profesi belakang layar yang paling umum diketahui masyarakat. Padahal, selain dua profesi tersebut, banyak profesi lain yang juga memegang peran penting dalam keberlangsungan pembuatan film. Orang-orang ini bahkan bisa menjadi nyawa sekaligus penggerak sebuah produksi.

Sudah beberapa puluh tahun belakangan Yadi Sugandi merasakan dinamika hidup di dunia belakang layar perfilman di Indonesia. Sejak memutuskan menjadi director of photography (DOP) film Kuldesak, nama Yadi perlahan tapi pasti terus mengisi kursi DOP sejumlah box office Tanah Air.
 
Sejumlah judul, seperti Pasir Berbisik, Petualangan Sherina, Eliana Eliana, Laskar Pelangi, the Photograph, Tanda Tanya?, Rectoverso, hingga Cinta Brontosaurus merupakan segelintir karya yang lahir dari tangan dingin Yadi.

Menurutnya, tak banyak DOP yang mampu terus ‘panjang umur’ menghasilkan karya hingga saat ini. “Terus belajar dan banyak bergaul mungkin kunci saya masih terpakai sampai sekarang,” ujar Yadi yang telah merasakan berbagai era teknologi pembuatan film.

Menjadi motivator

Sesungguhnya, menjadi DOP dalam produksi film tak melulu bertanggung jawab secara teknis. Tapi, banyak hal lain yang juga menjadi tugas DOP. Salah satunya adalah menjadi motivator para kru saat produksi film berlangsung.
 
Menurut Yadi, jika dilihat sekilas, tugas DOP adalah bertanggung jawab penuh atas segala muatan visual dalam film. Tapi, tanggung jawab tersebut tak hanya sebatas teknik pengambilan gambar. Sutradara, kata dia, sudah mengurusi berbagai hal, mulai dari a sampai z mengenai urusan film. Tingkat pusing yang dialami tak lagi sebatas fisik, tapi juga mental.

Di sinilah DOP lalu hadir berperan. “Tugas DOP adalah membantu sutradara menjadi motivator di lapangan saat syuting,” ungkap Yadi yang juga sempat menjadi sutradara di film Merah Putih.
Menurut Yadi, DOP yang baik harus bias menjadi penyemangat. Tak hanya bagi sutradrara, tapi juga buat para kru dan pemain di lapangan.

Ia harus mampu membantu menjaga mood sutradara, sekaligus membangkitkan semangat kru lain yang terlibat dalam film. “Kadang, saya bercanda di lapangan buat mencairkan suasana,” ujar Yadi.

Bagi Yadi, banyak hal menyenangkan yang didapatnya selama menekuni profesi sebagai DOP. Ia bahkan lebih memilih menjadi DOP ketimbang kembali ditunjuk sebagai sutradara. Sebab, jiwanya memang lebih terpanggil untuk menjadi sinematografer ketimbang posisi lain dalam film. Ego yang besar untuk menghasilkan karya berkualitas menjadi pegangannya dalam menghasilkan karya.

Tak heran, meski hampir 30 tahun eksis, ia masih membuahkan gambar-gambar indah yang fresh di setiap film garapannya. “DOP harus memiliki chemistry dengan sutradara. Tapi, dompet DOP lebih tebal daripada sutradara,” ujarnya berkelakar.

Mencicipi Semuanya

Berangkat dari aktor laga, Steven Sakari kini lebih memilih hijrah ke balik layar. Menurutnya, bekerja di balik layar lebih dapat memberinya banyak pelajaran berharga.

Steven yang kini aktif sebagai salah satu pengajar akting di Sanggar Ananda berkisah, tak hanya satu dua profesi di balik layar yang pernah dicoba, tapi sudah banyak profesi yang ia lakoni.

“Dunia balik layar banyak memberi saya pelajaran berharga ketimbang waktu saya di depan layar,” ujar Steven yang pernah menjadi unit bagian umum, manajemen, pelatih bela diri, astrada, hingga stuntmant dalam film.

Menurut Steven, langkahnya beralih kebelakang layar di mulai setelah ia kembali dari Cina untuk syuting salah satu serial televisi kolosal Tanah Air. Dari sana, ia merasa banyak belajar dari para kru film di Cina. Berbekal pengalaman tersebut, Steven pun hijrah ke belakang layar. Banyak pekerjaan yang pernah dicobanya.

Mulai dari bagian umum yang banyak melakukan hal-hal remeh, seperti menghubungi pemain, menjadi pencatat adegan dalam produksi, hingga astrada yang menggerakan produksi, “Dunia belakang layar memberi saya banyak pelajaran. Salah satunya, belajar sabar,” ungkap Steven.

Banyaknya orang dengan berbagai karakter yang ditemui di lapangan otomatis membuatnya harus selau memiliki stok kesabaran ekstra. Ia pun selalu berkomitmen melakukan yang terbaik dalam setiap tugas yang ia emban.

Menurut Steven, jika kita melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin pintu-pintu rezeki lainnya akan terbuka secara otomatis. Meski mahir bela diri, ia tak enggan menjajal profesi sebagai pemain pengganti.

Bukan hanya sebagai laki-laki, Steven sempat menjadi pemeran pengganti sebagai wanita yang hampir tertabrak kereta. “Satu detik saja kru terlambat menarik, saya tertabrak kereta,” ujar Steven yang tak gentar meski pekerjaannya tersebut berisiko tinggi. Kini, ayah enam orang anak ini mengaku lebih memilih menjadi pelatih akting. Menurutnya, pelatih akting juga memiliki peran besar dalam pembuatan film.

Dari sini, aktor dan aktris bisa mendapat pelajaran lebih dalam berakting. Sayang, hal ini justru kerap diabaikan para pemain pendatang baru Tanah Air.

Instannya regenerasi pemain membuat banyak pemain baru mengabaikan latihan akting. Padahal, kata Steven, justru latihanlah yang akan menjadi pembeda para aktor ketika berada di lapangan. “Orang yang belajar akting itu keliatan. Salah satunya, mereka nggak cuma sekadar menghafal skenario, tapi juga bisa lebih menjiwai,” kata dia.

Steven kini memang aktif sebagai salah satu pengajar di Sanggar Ananda milik Aditya Gumay. Bukan hanya melatih pemain-pemain remaja, Steven juga melatih anak-anak usia dini. Menurutnya, kemampuan berakting memang semakin baik diajarkan sejak usia dini. Ia juga mengingatkan para pemain baru di dunia film Tanah Air agar tak enggan mencontoh para pemain senior.

Mulai dari kualitas akting yang terus diasah dengan berlatih, hingga masalah kerendahan hati. Saat ini, menurut Steven, banyak yang berbeda dari artis zaman dahulu dengan saat ini. Salah satunya, soal kerendahan hati dan kemampuan membawa diri. n gita amanda ed: setyanavidita livikacansera

Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA