Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Kamis, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 Januari 2020

Hatta: Demokrasi Jadi Tanda Tanya Besar

Senin 27 Mei 2013 20:45 WIB

Rep: Stevy Maradona/ Red: Dewi Mardiani

Hatta Rajasa

Hatta Rajasa

Foto: Agung Fatma Putra

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum DPP PAN, Hatta Rajasa, menyerukan gerakan Reformasi Gelombang II. Reformasi jilid II ini perlu dijalankan, menurut Hatta, karena melihat situasi demokrasi dan ekonomi di Indonesia saat ini.

"Demokrasi sekarang menjadi tanda tanya besar. Bukan dari sisi prosedural, tapi dari sisi etik. Kita justru mundur," kata Hatta dalam pidato politiknya di acara Diskusi Terbuka Dari Reformasi Politik Menuju Reformasi Ekonomi, Senin (27/5). Diskusi berlangsung di kantor DPP PAN dan dihadiri sejumlah tokoh seperti pengamat politik LIPI Mochtar Pabottinggi, pengamat ekonomi Aviliani.

Hatta memaparkan, demokrasi politik sekarang menjadi liberal. Demokrasi, kata dia, justru membuat oligarki pemilik modal. Oligarki ini justru berbalik menyerang demokrasi. "Oligarki menginvasi demokrasi," katanya.

Menko Perekonomian ini lantas mengatakan, terjadi akumulasi modal pada sebagian kecil kelompok masyarakat di Indonesia. Kelompok kelas atas ini ekselerasi penambahan modalnya berjalan sangat cepat ketimbang mayoritas rakyat Indonesia lainnya.

Hatta ingin keadaan seperti itu berubah karena justru membuat kesenjangan pendapatan di Indonesia makin lebar. Rasio di Indonesia sekarang mencapai 0,41 persen. Karena itu gerakan Reformasi Pembangunan II harus berjalan. Gerakan ini, ia jelaskan, bisa diartikan sebagai reformasi ekonomi yang menyejahterakan.

Secara khusus, Hatta menyebut reformasi pembangunan harus terfokus pada reformasi agraria dan pengelolaan sumber daya alam. Berikutnya baru politik kesejahteraan, budaya kesejahteraan, dan ketahanan kesejahteraan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA