Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Resonansi

Presiden Berprestasi dan Presiden Numpang Lewat

Senin 27 Mei 2013 06:39 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri

Dalam beberapa pekan ini, hampir setiap hari terdapat artikel di berbagai media Arab mengulas soal turki . Media itu, antara lain, Al Ahram dan Al Akhbar (Mesir), Aljazirah (Qatar), Al Sharq Al Awsat (Saudi), Al 'Arabiyah, dan Al Khalij.

Intinya, mereka ingin membandingkan pemerintahan Perdana Menteri Recep Tayyib erdogan dengan para pemimpin Arab. Utamanya, para pemimpin yang terpilih pascarevolusi rakyat yang menjatuhkan rezim diktator-otoriter.

Mengutip pernyataan pengusaha Mesir Ahmad Haikal, kolumnis Afsyin Maulafi menulis di Al Sharq Al Awsat, “Kalau kita melangkah dengan benar, dalam 10 tahun kita akan menyamai Turki. Namun, bila kita salah langkah, kita akan seperti Pakistan hanya dalam 18 bulan.”

Haikal, menurut Maulafi, mengatakan, hal itu beberapa hari setelah revolusi rakyat Mesir berhasil menggulingkan rezim Presiden Husni Muabarak. Kini, lanjutnya, setelah dua tahun revolusi, ekonomi Mesir ternyata lebih mendekati Pakistan daripada Turki. Pakistan adalah contoh negara yang ekonominya buruk dan diwarnai konflik sektarian. Sedangkan, Turki merupakan contoh negara yang berhasil membangun ekonomi dan menyejahterakan rakyat.

Dua tahun setelah revolusi, ekonomi Mesir terus memburuk. Sekitar 80 persen lulusan universitas susah mencari kerja. Cadangan devisa negara anjlok dari 36 miliar dolar AS menjadi kurang dari 15 miliar dolar. Nilai tukar pound Mesir terhadap dolar AS juga terus menurun. Begitu juga, angka wisatawan dan investasi. Bersamaan dengan itu, harga-harga kebutuhan pokok pun terus merangkak yang memberatkan kehidupan rakyat. Kehidupan politik pun terus gonjang-ganjing.

Bagaimana dengan Turki? Taufik Bu'isyrin, pengamat Timur Tengah, menyatakan, keberhasilan Turki adalah cerita tentang 10 tahun. Tidak lebih. Sepuluh tahun itu adalah perjalanan pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan pimpinan PM Erdogan. Sejak memerintah, ia telah meletakkan dasar-dasar negara ke arah yang benar. Hasilnya, sebelum 10 tahun lalu pendapatan perkapita warga Turki hanya 3.000 dolar AS dan kini mencapai 11 ribu dolar.

Artinya, taraf kehidupan masyarakat negara itu membaik hingga tiga kali lipat hanya dalam tempo 10 tahun. “Pendapatan yang meningkat, berarti pula kesulitan hidup yang semakin berkurang,” tulis Bu'isyrin. Dengan kata lain, ia ingin mengatakan, kehidupan rakyat Turki di era Erdogan kini sudah lebih sejahtera.

Lalu, ekonomi Turki yang dulu mengandalkan sektor pertanian kini beralih ke negara industri dan jasa. Jumlah kunjungan wisatawan asing yang hanya 4 juta, sekarang mendekati 35 juta orang/tahun. Sebagian besar mereka datang dari negara-negara Islam dan Arab. Sebelum 10 tahun lalu, Turki punya pinjaman pada Bank Dunia 23 miliar dolar AS dan hari ini boleh dikatakan tak lagi berutang. Bahkan, sekarang ini mereka bisa membantu negara-negara miskin sekitar 3,5 juta dolar AS setiap tahun.

Untuk mengubah Turki seperti sekarang tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, sebelum 10 tahun lalu Turki dikenal sebagai negara sakit di Timur Tengah dengan tiga penyakit kronis. Pertama, dominasi militer di segala kehidupan negara. Kedua, korupsi yang merajalela dari pusat hingga daerah. Ketiga, perang terbuka dengan suku Kurdi. Yang terakhir ini menuntut pemisahan diri dan mendirikan negara Kurdi merdeka.

Erdogan, tulis Bu'isyrin, tampaknya paham betul bahwa untuk memperbaiki ekonomi Turki diperlukan stabilitas politik dan keamanan. Karena itu, tiga penyakit kronis itu menjadi prioritasnya. Terkait peran militer, ia bersiasat, Turki penting menjadi anggota Masyarakat Eropa dan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara).

Dan, untuk menjadi anggota di dua organisasi itu, syarat utama negara itu harus menerapkan demokrasi dan memberantas korupsi. Salah satu prasyarat demokrasi adalah tanpa ikut campur militer alias mereka harus kembali ke barak. Inilah yang sukses dilakukan Erdogan. Kini, peran militer Turki sebatas menjaga bangsa dan negara dari serangan musuh dan menyerahkan urusan politik kepada para politikus, parpol, dan mekanisme pemilu.

Sementara itu, untuk memberantas korupsi Erdogan sangat keras kepada dirinya dan partainya sebelum memberlakukannya ke pihak lain. Ia tak segan-segan menghukum orang-orang partainya apabila terlibat korupsi. Hasilnya, pemerintahan Erdogan dikenal bersih. Bersamaan dengan itu, ia pun memangkas birokrasi panjang warisan dari pemerintahan sebelumnya.

Ternyata, korupsi dan birokrasi erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Ini terbukti, ketika pejabat tidak korup dan birokrasi semakin tidak bertele-tele, ekonomi Turki pun cepat menggeliat. Kini, 10 tahun kemudian, Turki sudah menjadi kekuatan ekonomi ketujuh di Eropa. Negara ini juga menjadi partner strategis kegiatan ekonomi dengan Cina, Eropa, AS, Brazil, dan negara-negara Arab.

Sedangkan, terhadap suku Kurdi di mana militer Turki menghabiskan miliaran dolar dari pajak rakyat untuk memerangi mereka, bukan lagi persoalan besar buat negara itu. Setelah pemerintahan Erdogan mengakui hak-hak suku Kurdi untuk menggunakan bahasa dan budaya mereka, pemimpin Kurdi Abdullah Ocalan pun menawarkan perundingan. Dia pun memerintahkan tentaranya untuk meletakkan senjara. Apalagi, Erdogan juga telah berjanji menjamin keterwakilan suku Kurdi dalam parlemen Turki.

Atas keberhasilan pemerinahan Erdogan itu, sejumlah media di Timur Tengah pun mengharapkan agar para pemimpin Arab bisa berkiblat kepada Turki Erdogani. Mereka bersepakat, Erdogan adalah pemimpin yang berprestasi.

Ya, pemimpin negara yang berprestasi memang tidak bisa diukur dari berapa lama ia berkuasa, tapi seberapa besar ia bisa memajukan bangsa dan negaranya. Pemimpin yang hanya berkuasa, tapi tidak berprestasi-baik itu presiden, perdana menteri, raja, atau apa pun sebutannya-istilahnya hanya menumpang lewat saja. Bagaimana dengan Indonesia? Penilaiannya terserah Anda.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA