Sabtu, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Sabtu, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Bila Suami Kehilangan Penghasilan

Jumat 24 Mei 2013 14:33 WIB

Red: Endah Hapsari

Bila Suami Kehilangan Penghasilan

REPUBLIKA.CO.ID, Salam kenal Pak Hari, saya seorang ibu rumah tangga, melihat pemberitaan akhir-akhir ini di media massa baik cetak maupun elektronik.  Seorang ibu rumah tangga yang tidak tahu aktivitas suaminya, tiba-tiba dituduh teroris.  Seorang ibu yang punya satu anak, tiba-tiba suaminya ditangkap KPK dengan tuduhan korupsi.  

 

Saya jadi takut jangan-jangan suami saya akan mengalami hal yang sama.  Walau kami sudah melewati usia pernikahan 10 tahun, tetap saja saya takut, tiba-tiba suami saya tidak bisa menafkahi saya dan anak-anak lagi.  Oleh karena itu, apa yang harusnya saya lakukan untuk mengantisipasinya. Terima atas saran dan masukannya.

Estu 

Medan

 

Jawaban WF 19

Salam kenal kembali Bu Estu. Saya rasa, apa yang ibu rasakan, juga dirasakan oleh ibu-ibu lain.  Pada dasarnya manusia memiliki 2 hal, rasa takut (khauf) dan rasa harap (‘roja).  Rasa takut akan kematian, kehilangan penghasilan, suami tidak bisa menafkahi istri dan anak-anak, sementara di sisi lain ada rasa harap (hope) untuk bisa hidup layak, anak-anak bisa sekolah setinggi-tingginya, bisa naik haji dan seterusnya.

Antara rasa harap dan takut ini, akan kita alami selagi kita hidup dan bersosialisasi di masyarakat. Ketika tetangga memiliki mobil baru, kitapun ada rasa ingin punya mobil baru juga, walau kita sudah punya motor.

Ketika melihat orang lain tertimpa musibah, kitapun ada rasa takut, jangan-jangan itupun akan kita alami hal yang sama. Dari rasa harap dan takut tersebut, yang perlu kita lakukan adalah mengaturnya, sehingga takut dan harap menjadi proporsional.

Dalam ilmu motivasi keuangan, rasa harap dan rasa takut bisa dianalogikan dengan proteksi/insurance (jaminan yang baik untuk siap sedia terhadap keadaan darurat) dan akumulasi terhadap impian-impian yang akan kita laksanakan dari rencana-rencana kita hari ini.

Berbicara tentang kondisi darurat (emergency), adalah sebuah kondisi yang tidak kita harapkan, tetapi kemungkinan bisa saja terjadi pada siapa pun, kapan pun dan dimana pun kejadiannya.  Seorang pasangan keluarga dengan anak-anak yang lucu-lucu, bisa saja tiba-tiba menjadi pecah kapal yang ditumpangi ketika ada badai keuangan menimpa.

Yang perlu kita persiapkan ketika badai keuangan tersebut menimpa adalah early warning system dan langkah-langkah taktis menyelamatkan diri.

Ketika ibu sudah tidak dapat penghasilan lagi dari suami, alangkah baiknya mempersiapkan dana darurat (jangka pendek) dan punya skill/keterampilan untuk bisa digunakan, baik sebagai profesional maupun pengusaha

Seberapa besar kita harus mempersiapkan dana darurat?

Jika seorang lajang, minimal memiliki dana darurat sebesar 3x pengeluaran bulanannya.  Contohnya, pengeluaran seorang lajang di Jakarta tiap bulan adalah Rp 2 juta, maka dana daruratnya adalah Rp 6 juta. Jika pasangan suami isteri punya anak 1, minimal punya dana darurat 6x pengeluaran dst.  Idealnya dana darurat yang dibutuhkan adalah 24x atau 24 bulan alias 2 tahun.

Kenapa harus 2 tahun?

Ibu bisa bayangkan, ketika tiba-tiba suami ibu tidak bisa menafkahi keluarga lagi, maka apa bisa seorang ibu rumah tangga biasa, tanpa skill bisa langsung punya penghasilan?

Paling tidak perlu waktu dan proses agar skillnya terasa, dan waktu 2 tahun adalah hal yang cukup untuk melakukannya.

Yang kedua, masih dalam kerangka kondisi darurat, perlu disiapkan proteksi, baik untuk kesehatan ibu, maupun anak.  Sekarang pemerintah sudah punya program Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) untuk rakyat yang kurang mampu.  Tetapi mesti diingat, bahwasanya proteksi kesehatan tetap diusahakan secara mandiri dahulu, baru menggantungkan pada pemerintah.  Secara teori Jamkesmas dari pemerintah bisa dilaksanakan kapanpun, tetapi dalam pelaksanaannya, masih jauh dari ideal.  Oleh karena itu, proteksi kesehatan adalah hal yang perlu kita persiapkan.

Yang juga tidak kalah pentingnya adalah dana pendidikan buat anak serta tempat tinggal (properti).

Itulah sebabnya kenapa dibutuhkan jasa layanan seorang Finansial Motivator, yang tidak hanya berbicara secara teknis untuk menghitung kebutuhan biaya hidup dan investasi akan sebuah produk yang bisa mewujudkan rencana-rencana jangka panjang serta antisipasi jika mengalami kegagalan dalam perencanaan keuangan keluarga, tetapi juga bisa memotivasi orang atau klien secara emosi dan spiritual yang spesialis di bidang emergency. Selamat mengantisipasi kondisi darurat!

Anda tertarik mempelajari penggabungan ilmu motivasi dan financial planning?

Silahkan Buka www.P3KCheckUp.com atau Sms ke No 0815 1999 4916 untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

 

Hari ‘Soul’ Putra 

Financial Motivator

 

Kolom ini diasuh oleh WealthFlow 19 Technology Inc.,Motivation, Financial & Business Advisory (Lembaga Motivasi dan Perencana Keuangan Independen berbasis Sosial-Spiritual Komunitas). Pertanyaan kirim ke email : uang@rol.republika.co.id  SMS 0815 1999 4916.

twitter.com/h4r1soulputra
www.p3kcheckup.com

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA