Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Ketakutan Menjalar Muslim Myanmar

Kamis 11 Apr 2013 19:13 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Kerusuhan etnis di Myanmar

Kerusuhan etnis di Myanmar

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON -- Banyak muslim di Yangon mengungkapkan ketakutannya usai pembunuhan belasan pemeluk muslim pada kerusuhan Maret lalu oleh kaum Buddha radikal.

Pembantaian yang diprovokasi oleh gerakan 969, sebuah gerakan yang berasal dari simbol-simbol Buddha, ajaran dan kebiksuan. Ketenangan perlahan mulai terasa di Meikhtila dan area sentral setelah otoritas militer setempat memberlakukan darurat militer dan mengirim tentara.

Soal kekerasan di Meikhtila, Reuters melaporkan, pembantaian tersebut terorganisir. Terlihat dengan adanya sikap tutup mata polisi dan nuansa persekongkolan mereka.

Ketakutan itu membara saat tigabelas anak tewas di sekolah islam pada 2 April lalu. Pejabat setempat menyalahkan peralatan listrik. Akan tetapi, muslim percaya kalau kebakaran dipicu dengan sengaja.

"Saat malam, tak ada orang yang tertidur,"ujar Mohammed Irshad saat perjalanan pulang setelah menunaikan ibadah Sholat Zuhur di Masjid yang terletak di Mingalar Taung Nyunt, sebuah lingkungan muslim. "Kami punya penjaga, karena beberapa kali mereka datang menyerang,"ujarnya.

Jamaah lainnya, Ruhla Min menjelaskan, imam masjid mengingatkan kepada jamaah agar tidak mudah terprovokasi kepada kekerasan. Akan tetapi, jamaah harus tetap sabar dan tenang. "Kami berdoa agar tenang,"ungkapnya.

Jumlah populasi muslim sekitar 5 persen dari 60 juta penduduk Myanmar. Hanya, mereka memiliki representasi yang baik dibalik jumlahnya yang kecil. Mereka mendominasi kelas yang lebih kaya, membuat mereka menjadi sasaran kebencian dari orang yang berkepentingan secara politik dan ekonomi.

Beberapa Pendeta Buddha yang masuk gerakan 969 telah berkhotbah di Yangon. Meyakinkan soal betapa muslim mengancam mereka. Pedagang sekitar,  Ma Than Htwe mengaku menaruh stiker 969 di kios jus nya karena beberapa orang mengira seperti muslim. Dugaan itu  membuatnya kehilangan bisnis.

Seorang penjual DVD di pusat Yangon Kyi Lwin mengungkapkan, pergerakan 969 bukan gerakan anti Muslim. Akan tetapi, membangun pertahanan kaum Buddha dari perasaan rendah diri saat berinteraksi dengan Muslim yang mungkin berupaya menarik mereka ke agama Islam.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA