Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Thursday, 28 Jumadil Awwal 1441 / 23 January 2020

Mendeteksi Gangguan Pendengaran Si Kecil

Ahad 07 Apr 2013 10:30 WIB

Rep: Edy Setiyoko/ Red: Dewi Mardiani

Bayi menangis/ilustrasi

Bayi menangis/ilustrasi

Foto: telegraph.co.uk

REPUBLIKA.CO.ID, Waspadailah gangguan pendengaran pada anak-anak. Bila si kecil dalam usia tertentu belum bisa merespon apapun, bila mendengar bunyi atau ketika dirangsang untuk berkomunikasi face to face.

Jika kondisi yang terjadi kondisi demikian, barang kali si kecil mengalami gangguan pendengaran, atau tuli kongentinal. Mulai saat seperti ini, orangtua musti mengambil langkah tindakan pemeriksaan medis.

Kapan orangtua mulai curiga bila anak mengalami gangguan pendengaran? Bayi dalam usia 12 belum bisa berceloteh atau meniru, usia 18 bulan tidak dapat menyebut satu kata berarti, usia 24 bulan perbendaharaan kata kurang dari 10 kata, 30 bulan belum dapat merangkai dua kata. Bila dalam kondisi demikian, orangtua wajib mulai curiga.

Dokter spesialis anak, Oktora W Wijayanto, menegaskan, orangtua memegang peranan penting dalam detelsi dini pada gangguan pendengaran anak. ''Keterlambatan menyebabkan tertundanya diagnosis secara dini,'' kata dia dalam seminar awam 'Deteksi Dini Terapi Gangguan Pendengaran Anak' di RS PKU Muhammadiyah Solo, Sabtu (6/4).

Arti pentingnya deteksi dini anak dalam usia tumbuh kembang. Ini dilakukan untuk pemeriksaan menemukan penyimpangan sejak dini. Jika mengalami kelambatan, intervensi lebih sulit. Jenis deteksi pertumbuhan menyangkut status gizi dan lingkar kepala, perkembangan mengenai gangguan daya lihat dan daya dengar. Hal ini juga dilakukan untuk mendeteksi gangguan mental emosional, autisme, pemusatan perhatian, dan hiperaktif.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA