Jumat 05 Apr 2013 01:17 WIB

Satu dari Tiga Orang Indonesia Menderita Hipertensi

Penderita Hipertensi (darah tinggi) sedang diperiksa tekanan darahnya, Ilustrasi
Foto: Blogspot
Penderita Hipertensi (darah tinggi) sedang diperiksa tekanan darahnya, Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 31,7 persen atau sekitar satu dari tiga orang Indonesia mengalami hipertensi namun mayoritas (76,1 persen) tidak mengetahui telah mengalami hipertensi sehingga tidak mendapatkan pengobatan, demikian data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007.

"Saat ini, tes (hipertensi) sudah bisa dilakukan dimana saja, termasuk di puskesmas atau klinik. Fasilitas sudah tersedia dimana-mana. Yang diperlukan hanya kesadaran kita semua agar masyarakat menjadikan pemeriksaan hipertensi ini menjadi pemeriksaan rutin," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama dalam temu media memperingati Hari Kesehatan Sedunia 2013 di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (4/4).

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2011 mencatat hingga satu miliar orang di dunia mengalami hipertensi dan dua pertiga di antaranya berada di negara berkembang yang berpenghasilan rendah-sedang.

Prevalensi hipertensi yang semakin meningkat dinilai merupakan masalah yang mencemaskan sehingga peringatan Hari Kesehatan Dunia 2013 pun mengambil tema 'Waspadai Hipertensi, Kendalikan Tekanan Darah' yang bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan hipertensi.

Statistik Kesehatan Dunia tahun 2012 WHO melaporkan bahwa hipertensi adalah suatu kondisi beresiko tinggi yang menyebabkan sekitar 51 persen dari kematian akibat stroke dan 45 persen dari penyakit jantung koroner.

Selain itu, Tjandra menyebut hipertensi saat ini telah bergeser secara umum ke usia lebih muda dibandingkan beberapa tahun lalu.

Banyak orang tidak memahami bahaya hipertensi yang seringkali tidak bergejala sehingga dikenal juga sebagai 'the silent killer' padahal sebenarnya hipertensi dapat dicegah dan diobati.

Untuk melakukan pencegahan, Tjandra mengatakan masyarakat dalam menerapkan perilaku CERDIK atau Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat yang cukup dan Kelola stres.

WHO Representative to Indonesia, Khanchit Limpakarnjanarat menyebutkan empat faktor resiko utama untuk hipertensi itu adalah kebiasaan makan yang tidak seimbang, merokok, alkohol serta kurang aktivitas fisik dan stres.

"Faktor risiko ini sama untuk setiap individu, tapi jika membandingkan pola perilaku yang kurang baik antara kota dan desa, memang lebih banyak ditemukan di kota," ujar Khancit.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement