Selasa, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 Desember 2019

Selasa, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 Desember 2019

Politisasi Sepak Bola di Negeri Para Mullah (2)

Jumat 29 Mar 2013 04:33 WIB

Red: Fernan Rahadi

Para suporter sepak bola di Iran.

Para suporter sepak bola di Iran.

Foto: bbc.co.uk

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Aqwam Fiazmi Hanifan

Semenjak revolusi islam yang digerakan para mullah, dalam waktu yang singkat Iran berbenah total. Budaya pop diberantas dengan singkat, segala hal yang banyak mengumbar daging ditolak dengan tegas, apapun yang berbau Amerika dan kebarat-barat difilter secara ketat. Iran dapat mencegah Coca Cola, McDonald, KFC, Carrefour,Holywood dll. Namun Iran tak bisa membentengi negaranya dari satu pintu yaitu "sepakbola"

Para mullah tak berani melarang sepak bola. Bagaimanapun juga sepakbola sudah mengakar kuat di benak rakyat Iran sejak akhir abad 18. Melarangnya, sama saja dengan menabuhgenderang perang terhadap rakyat.

Kendati begitu, rezim enggan melepas sepakbola begitu saja. Bagaimanapun juga kehidupan secara syar’i harus diterapkan di sepak bola. Oleh karena itu, berbagai upaya Khoemeini lakukan sejak didapuk jadi penguasa, mulai dari menasionalisasi klub dibawah kontrol Departemen Olahraga, menyensor semua pertandingan luar negeri, melarang wanita untuk menonton sepakbola, menempatkan agen-agen rezim diantara penonton hingga mempropagandakan semangat "anti Amerika dan Israel" saat pertandingan di Stadion. Saat politik mengatur terlalu dalam, bagi suporter dianggap suatu kekonyolan.

Memberikan ruang bagi sepakbola sama saja membuka keran derasnya arus globalisasi ke Iran. Antusias rakyat terhadap sepakbola semakin meningkat dari tahun ke tahun. Teknologi yang digunakan untuk memicu revolusi menjadi boomerang bagi rezim itu sendiri. Siaran televisi dan internet lah menjadi penyebabnya.

Penulis berdarah Yahudi, Franklin Foer secara sentimen dalam buku How Soccer Explain The World: The Unlikely theory of Globalization mengatakan fenomena itu terjadi akibat kegilaan rakyat iran terhadap pertandingan internasional, karena hanya sepak bola-lah yang mampu menghubungkan mereka dengan dunia luar.

Tergambar dalam film iran yang berjudul Zendengi Edame Darad karya Abbas Kiarostami, dalam kondisi sesudah gempa besar, orang-orang malah bersusah payah untuk menyetel antene TV agar bisa menangkap siaran pertandingan Austria versus Skotlandia.

Tayangan piala dunia dan liga-liga eropa akan membuat rakyat lebih dekat dengan produk-produk globalisasi macam Nike, Pepsi,Mc donald dll. Saat menjadi Wali Kota Teheran, Mahmoud Ahmadinejad bahkan pernah melarang keberadaan billboard iklan kacamata yang dibintangi David Beckham di seluruh Teheran.



BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA