Saturday, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Saturday, 26 Rabiul Awwal 1441 / 23 November 2019

Resonansi

Tuan Obama, Keretanya Sangat Berat!

Senin 25 Mar 2013 06:30 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan

REPUBLIKA.CO.ID,Ikhwanul Kiram Mashuri

Kereta yang dimaksud adalah kereta kuda. Orang Jawa menyebutnya dokar atau andong. Kereta dan kuda menjadi populer dalam beberapa hari ini setelah diucapkan Presiden AS Barack obama saat bertemu Presiden palestina Mahmud Abbas, di ramallah , beberapa hari lalu. “Jangan letakkan kereta di depan kuda,” ujar Obama kepada Abu Mazen. Yang terakhir ini adalah panggilan akrab Mahmud Abbas.

Kereta yang dimaksud Obama adalah segala persoalan yang bisa menghambat dimulainya perundingan langsung Palestina dengan israel . Sedangkan kuda adalah proses perundingan itu sendiri. Abu Mazen ngotot perundingan langsung kedua negara yang menjadi seteru bebuyutan itu baru bisa dimulai dengan syarat Israel harus membekukan dulu semua pembangunan permukiman Yahudi. Sebaliknya, PM Israel Benjamin netanyahu ogah bila perundingan harus ada syarat tertentu.

Puluhan ribu rumah telah dibangun Israel sejak negara itu menduduki sejumlah wilayah Palestina. Kini, lebih 500 ribu warga Yahudi tinggal pada lebih dari 100 permukiman di Tepi Barat dan Al-Quds (Madinatul Quds/Yerusalem). Meskipun pembangunan permukiman ini dianggap ilegal di bawah undang-undang internasional, Netanyahu tak peduli alias bodo amat.

Bahkan, ia semakin gencar memperluas permukiman baru setelah tuntutan Abu Mazen dalam pidato di depan Sidang Umum PBB, akhir November tahun lalu, dikabulkan. Yaitu, PBB menerima Palestina sebagai negara pengamat nonanggota dengan status negara merdeka yang berdaulat.

Seolah kalap dengan status baru Palestina, Netanyahu pun mengancam akan membangun 3.000 unit rumah baru bagi warga Yahudi. Ancaman Netanyahu ternyata bukan sekadar gertak sambal. Ia pun merealisasikan ancamannya dan sudah mulai membangun permukiman Yahudi di wilayah yang di-ghosob dari Palestina itu. Hal inilah yang membuat marah Abu Mazen. Kemarahan yang kemudian ia tumpahkan ketika bertemu Obama di Ramallah.

Pembangunan permukiman Yahudi memang menjadi masalah pelik bagi Obama yang membawa misi mempertemukan pemimpin Palestina dengan Israel di meja perundingan secara langsung. Alih-alih Obama mau memaksa 'anak buahnya', si Netanyahu, untuk membekukan pembangunan permukiman Yahudi, ia justru mengikuti kemauan 'si anak bandel'.

Kata Obama kepada Abu Mazen, “jangan menaruh kereta di depan kuda” bila ingin memulai perundingan untuk menyelesaikan segala musykilah, termasuk masalah pembangunan permukiman. Tidak jelas bagaimana jawaban Abu Mazen, tapi tampaknya ia keberatan. Ia tetap kokoh pada pendiriannya untuk membekukan pembangunan permukiman Yahudi sebelum memulai segalanya. Seolah ia menyatakan kepada Presiden AS, “Tuan Obama, keretanya sangat berat. Berapa pun kuda yang akan menariknya tidak akan kuat.”

Menurut sumber Palestina yang dikutip harian Al Sharq al-Awsat, Abu Mazen mengancam akan menyeret para pejabat dan pimpinan militer Zionis Israel yang selama ini terlibat dalam pelanggaran HAM dan kejahatan perang ke Mahkamah Kriminal (Pidana) Internasional di Den Haag, Belanda. Termasuk pelanggaran yang terkait dengan pembangunan permukiman Yahudi di tanah Palestina yang jelas-jelas ilegal menurut undang-undang internasional. Abu Mazen memberi tenggat waktu dua bulan kepada Obama untuk memaksa Netanyahu membekukan pembangunan permukiman Yahudi, terutama permukiman yang kini sedang dibangun di wilayah yang diberi nama E 1.

Pembangunan permukiman E 1 yang berada di antara Ramallah dan Al-Quds merupakan proyek yang paling berbahaya dalam sejarah pembangunan permukiman Yahudi. Sebab, itu akan memperluas permukiman yang sudah ada, yaitu permukiman Maale Adumim yang berada di atas tanah Palestina dan akan menghubungkan secara langsung dengan Al-Quds. Permukiman ini akan membelah Tepi Barat menjadi dua bagian dan memisahkan Al-Quds dari wilayah Tepi Barat yang tersisa, yang kini dihuni warga Palestina.

“Kami akan menyeret mereka (pejabat dan militer Zionis Israel) ke Mahkamah Kriminal Internasional bila Israel tetap membangun permukiman E 1. Kami tidak akan menunggu lagi (setelah tenggat waktu dua bulan),” ujar Abu Mazen saat bertemu kalangan pebisnis Palestina di Ramallah. “Kami ingin melihat apakah Obama benar-benar serius mengupayakan perdamaian di Timur Tengah.”

Berbagai kalangan pesimistis dengan misi perdamaian Obama. Kunjungannya ke Ramallah dan bertemu Abu Mazen pun dianggap basa-basi. Tujuan utamanya, berkunjung ke Israel dan memberi selamat kepada Netanyahu yang baru terpilih kembali jadi PM. Juga untuk mengetahui (baca: mematangkan) rencana Netanyahu menyerang pusat-pusat nuklir Iran.

Sangat aneh, misalnya, ketika Obama mengunjungi Pusat Pemuda di Ramallah dan mengatakan, seharusnya tidak boleh ada anak-anak Palestina yang hidup di bawah tekanan penjajahan asing.

“Ya, salam, apakah ini masuk akal? Selama ini kemane aje, Mr President? Kok baru tahu kalau Palestina dijajah Zionis Israel? Mengapa Tuan Obama di periode kedua pemerintahannya baru tahu kalau anak-anak Palestina hidup di bawah hinaan penjajahan Zionis Israel?” Kalimat ini bukan dari saya, melainkan saya kutip dari kolomnis tetap di Al Sharq al-Awsat, Imaduddin Imad. Ia pesimistis kunjungan Obama akan dapat menciptakan perdamaian di Timur Tengah.

Menurutnya, kunjungan Obama ke Ramallah hanyalah untuk mengambil hati bangsa-bangsa di Timur Tengah. Ini sebagaimana ia tunjukkan saat berpidato di Universitas Kairo empat tahun lalu untuk menarik simpati umat Islam.

Saya tidak sepesimistis Imaduddin Imad dan pengamat lain. Saya mengamini Abu Mazen menunggu dua bulan, apakah Obama bisa memaksa 'anak bendel' Netanyahu sehingga kuda mampu menarik kereta.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA