Saturday, 10 Jumadil Akhir 1442 / 23 January 2021

Saturday, 10 Jumadil Akhir 1442 / 23 January 2021

Lomba Guru Menulis Artikel

Sejarah Penuh Pesona

Sabtu 16 Mar 2013 10:22 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Soekarno dan Ratna Sari Dewi

Soekarno dan Ratna Sari Dewi

Foto: Dok. Republika

REPUBLIKA.CO.ID,oleh: Ni Nyoman Ayu Suciartini

Masa lalu itu selalu menarik. Memperkenalkan sejarah dan cerita masa lalu negeri Indonesia tercinta bukanlah semata-mata tugas guru sejarah. Saya sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia merasa terpanggil untuk ikut menggaungkan JAS MERAH kepada siswa saya. Saya punya cerita menarik sekaligus inspiratif ketika mengintegrasikan sejarah ke dalam mata pelajaran bahasa Indonesia.

Di kelas yang riuh dengan tawa manusia usil, mereka memahami tentang sejarah. Saya membentuk kelas menjadi etalase tertentu. Ada restorant, mall, dan pasar tradisional. Anak-anak yang sudah terbagi ke dalam kelompok-kelompok tertentu mendatangi tempat yang mereka suka. Setiap tempat ada hal pokok yang harus mereka beli, yaitu menulis argumentasi dalam bentuk kritik opini. Tawa sumringah anak-anak seketika menggelegar.

Mereka bisa percaya bahwa di suatu tempat seperti pusat perbelanjaan ada barang yang mungkin tidak dibeli oleh orang kebanyakan, yaitu materi menulis. Namun, saya membiarkan ketidakwajaran sebagai bumbu pembelajaran hari ini. Ada juga maksud lain yang terselip, supaya mereka sadar bahwa ada sesuatu yang tak mungkin bisa terjadi di dunia ini. Saya pun tertawa sendiri.  “Mengapa Presiden Soekarno banyak sekali punya istri, Bu?”

Salah satu siswa bertanya dengan rasa ingin tahunya yang berlebih. Ia memancarkan itu pada raut wajahnya. Teman-teman yang lain serentak menertawakan pertanyaan tersebut. “Karena Soekarno normal”, “Soekarno itu mata cewek”, dan jawaban aneh-aneh pun terdengar.

Saya akhirnya mengajak mereka memasuki zaman pemerintahan Soekarno. Saya mengimbau mereka untuk berimajinasi. Mereka hanya mengenal nama Ibu Fatmawati dan Ratna Sari Dewi. Selebihnya mereka tidak mengenal istri sosok pria yang katanya “penakluk wanita” ini. Mereka juga tidak mengenal ssosok perempuan bernama Inggit Ganarsih.  Melalui monolog Inggit Ganarsih, diperankan oleh Happy Salma yang saya sajikan kepada mereka, mereka seperti menemukan jawaban baru yang tentunya lebih bijak.

Inggit menghapus keringat ketika Soekarno kelelahan, menghibur ketika kesepian, menjahitkan ketika kancing baju Soekarno yang lepas, hadir ketika Soekarno muda membutuhkan kehangatan perempuan baik sebagai Ibu maupun teman. Namun, saat Soekarno kawin lagi, melangkah ke gerbang istana dan Inggit pulang ke Bandung, menenun sepi. Inggit tidak mengeluh. tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit pada Soekarno. Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti, tanpa pamrih tanpa motivasi.

Ketika narasi ini saya lontarkan kepada anak-anak tentang sejarah percintaan Bung Karno dan Inggit, tawa mereka semakin membahana. Mereka mengerti layaknya orang dewasa, bahwa cinta adaah perihal keikhlasan.

Dengan menggugah pemikiran mereka tentang hubungan sejarah dengan kehidupan, mereka seperti menemukan oase dalam memahami sejarah. Sejarah bukan soal sebarapa banyak kita tahu, namun jauh dari itu, soal seberapa banyak kita paham. Sejarah harus dipahami, dihayati, dan bukan dihafal atau mengingat fakta. Mempelajari sejarah bangsa dan negara adalah teras kepada pembentukan jati diri dan asas kepada patriotisme serta cintakan negara.

Terkadang mereka jenuh belajar sejarah karena pengetahuan yang didapat seperti membawa mereka pada zaman sebelum mengenal tulisan. Anak-anak ini dicecoki pembelajaran feodal yang tidak pernah lepas dari hapalan.Coba mulai dari sejarah yang paling mudah yang bisa kita selidiki, mulailah dari keluarga. Saya sendiri suka mempelajari sejarah keluarga saya sendiri, hasilnya pun sungguh mengesankan. Saya pernah menemukan sebuah silsilah yang bahkan selama ini belum saya ketahui.

Salah satu cara lain mempelajari sejarah adalah dengan menontonnya. Melalui media film, terutama film dokumenter yang disebutkan memiliki kekuatan visual, ada peluang bagi siswa termasuk guru untuk saling berdiskusi dan berefleksi bersama atas tema-tema film yang dihadirkan. Karya film, terutama dokumenter diakui ada banyak lapis. Pertama, bagaimana film punya sifat menghibur,sebagai syarat bisa menarik banyak penonton. Lewat media film sebagai pengantar sejarah cukup menarik. Sayangnya, memang tak banyak guru memilih pola pembelajaran visual atau memanfaatkan film dokumenter untuk membantu proses belajar siswa.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya” Bung Karno berucap. Sejarah adalah akumulasi rekaman pengalaman manusia. Mempelajari sejarah mempelajari segala bentuk puncak pengalaman dan perubahan yang telah dicapai manusia sepanjang abad. Kehidupan manusia selalu harusdan haus akan dialog dengan sejarah masa lalu untuk dapat membangun sejarah di masa sekarang.

Jadi, mulailah belajar sejarah dengan cara yang berbeda. Siapa tau anda akan menemukan hal-hal menarik tentang sejarah. Dan, siapa tahu Anda bisa membuat sebuah sejarah yang akan dikenang.

Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia di SMAN Bali Mandara (Sampoerna Academy)
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA

 
 
 

TERPOPULER

Kamis , 01 Jan 1970, 07:00 WIB