Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Monday, 6 Sya'ban 1441 / 30 March 2020

Butuh 64,9 Miliar Dolar AS untuk Menerangi Indonesia

Kamis 07 Feb 2013 14:48 WIB

Rep: Sefti Oktarianisa/ Red: Nidia Zuraya

Dua petugas PT PLN tengah melakukan perbaikan jaringan listrik.

Dua petugas PT PLN tengah melakukan perbaikan jaringan listrik.

Foto: Antara/Jessica Helena Wuysang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT PLN (Persero) ternyata masih membutuhkan dana amat besar untuk melistriki seluruh wilayah Indonesia. Bahkan BUMN itu menuturkan setidaknya membutuhkan dana hingga 64,9 miliar dolar AS untuk membangun sarana pembangkit, transmisi dan distribusi tenaga listrik dari 2013 hingga 2021.

Menurut Direktur Utama PLN Nur Pamudji, dana itu bukan hanya berguna untuk membangun seluruh proyek PLN. Tapi juga independent power producer (IPP) yang dibangun bersama pihak swasta.

"Karenanya ini menjadi tantangan besar untuk PLN menyediakan dana tersebut," katanya, Kamis (7/2). PLN menuturkan harus mencari pijaman dengan beragam skema mulai dari penerusan pinjaman dari luar negeri (two step loan) hingga penerbitan obligasi.

Beberapa tahun terakhir misalnya, PLN telah mencari dana dari sejumlah lembaga keuangan seperti lembaga keuangan multilateral (IBRD, ADB) dan bilateral (JICA, AFD) untuk mendanai proyek-proyek kelistrikan yang besar. Mulai dari Upper Cisokan pumped storage dan transmisi HVDC Sumatera–Jawa.

Berdasarkan data PLN, guna mengembangkan pembangkit transmisi dan distribusi sampai 2021 di Jawa-Bali, pihaknya membutuhkan dana investasi 34,7 miliar dolar AS. Sementara untuk proyek pembangkitan listrik PLN membutuhkan dana 20,2 miliar dolar AS.

Untuk penyaluran dan distribusi di wilayah Indonesia Barat, sampai 2021, dibutuhkan 17,8 miliar dolar AS. Sedangkan di Indonesia Timur dibutuhkan dana hingga 12,4 miliar dolar AS.

Sementara itu, dari 2013 hingga 2016, PLN bakal menambah kapasitas pembangkit hingga 11.398 megawatt (MW). Di 2013, PLN akan menambah kapasitas pembangkit hingga 4.837 MW, lalu 2.443 MW pada 2014, 2.954 MW pada 2015, dan 1.164 MW pada 2016.
  
Saat ini rasio elektrifikasi di Tanah Air baru mencapai 73 persen. Baru DKI Jakarta dan Bangka Belitung saja yang wilayahnya sudah mampu dialiri listrik hingga 95 persen lebih.

Sementara Nusa Tenggara Barat (NTB) rasio elektrifikasinya baru 53,3 persen dan Nusa Tenggara Timur (NTT) baru 53,2 persen. Sedangkan Papua merupakan provinsi dengan rasio elektrifikasi terendah, yakni mencapai 33,1 persen.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA