Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Menjajah Lewat Candu

Ahad 20 Jan 2013 06:35 WIB

Red: Heri Ruslan

Pohon Opium

Pohon Opium

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul

Sebuah museum di Chiang Saen, Provinsi Chiang Rai, Thailand Utara, menampakkan hal berbeda. Bukan benda-benda bersejarah yang ditampilkan melainkan informasi mengenai opium yang disajikan kepada pengunjungnya.

Bangunan seluas 5.600 meter persegi itu terletak di pertemuan perbatasan Thailand-Myanmar-Laos, di tepi Sungai Mekhong, di kota kecil Chiang Saen, sekitar 60 kilometer dari Kota Provinsi Chiang Rai, Thailand Utara. Rumah ini bukan sekadar museum, melainkan juga rumah edukasi dan inspirasi melawan candu.

Museum ini menyajikan terowongan dengan relief berupa jiwa-jiwa yang tersiksa sepanjang ratusan meter dengan pencahayaan redup. Wajah manusia dalam relief itu digambarkan berteriak dengan mulut terbuka, menampakkan susunan gigi, dan mata terpejam, seperti sedang disiksa. Tulang dalam tubuh mereka terlihat keluar. Relief tersebut menggambarkan kesengsaraan akibat hidup dengan menghirup opium.

Setelah melewati terowongan, pengunjung akan sampai pada ruang berkubah dengan dinding-dinding yang dilengkapi perangkat multimedia. Tiba-tiba salah satu dinding menyala. Layar tipis menampakkan salah satu kota di Sumeria. Lewat pengeras suara yang merata ke seluruh ruang berkubah, berkisahlah dinding tersebut tentang candu yang dikonsumsi bangsa Sumeria, Yunani, Roma, dan Mesir kuno ribuan tahun yang lalu. Mereka mengonsumsi candu sebagai obat dan sebagai bagian dari upacara spiritual mereka.

Selanjutnya, dari dinding ke dinding, dari ruang ke ruang, perangkat multimedia dan peraga lainnya menjelaskan tentang sejarah candu dari Barat hingga ke Timur. Dijelaskan di sana melalui gambar-gambar berupa lukisan dan tampilan slide komputer bahwa candu ketika memasuki abad 19 digunakan untuk berperang.

Perang ini berlangsung dari tahun 1839 - 1842 dan 1856 - 1860 sebagai klimaks dari sengketa perdagangan antara Cina di bawah Dinasti Qing dengan Inggris. Penyelundupan opium yang dilakukan Inggris dari India ke Cina dan usaha Pemerintah Cina menerapkan hukum obat-obatan menyebabkan konflik militer.

Mendekati abad 19, Inggris kesulitan melakukan perniagaan dengan Cina. Inggris tidak kehilangan akal. Negara tersebut akhirnya memasukkan opium dengan dalih sebagai obat. Opium masuk ke Cina semula mencapai 250 ton. Mulai 1850, Cina mengimpor opium hingga 4.480 ton.

Masuknya opium menyebabkan masyarakat Cina mulai menjadi pecandu. Mereka terus mengalami ketergantungan terhadap opium. Jika tidak menghirup opium maka mereka akan mengalami sakau. Angka pecandu di Cina terus bertambah, hingga mencapai 40 juta orang dari jumlah penduduk ketika itu, sekitar 200 juta jiwa lebih. Berbagai profesi menghirup opium, tidak terkecuali militer. Warga pesisir Cina paling banyak menjadi pecandu, di antaranya, Shanghai dan Yangtze.

Kondisi seperti ini memancing amarah seorang politisi Dinasti Qing, Lin Zexu. Pada saat perang opium terjadi, antara 1840-1842 dan 1856-1860, Lin memusnahkan 1.188.127 kilogram opium yang dibawa Inggris. Cina terus mendapatkan perlawanan dari negara Eropa itu. Perang adu senjata tidak terelakkan. Pasukan Inggris terus-menerus menghabisi pertahanan Cina. Sementara, pasukan Cina kehilangan tenaga akibat mengonsumsi candu. Perang meletus pada 1839 hingga 1842 dengan tujuan memaksa Cina mengimpor opium.

Pasukan Inggris berhasil menguasai Cina. Inggris memenangkan perang ini dan memperoleh kekuasaan terhadap Hong Kong.

Kekaisaran Cina dipaksa untuk menandatangani perjanjian agar kapal-kapal dagang Inggris bisa memasuki pelabuhan-pelabuhan di Cina. Pihak Cina menyetujui perjanjian tersebut dengan syarat bahwa Inggris menghentikan menyuplai opium ke Cina.

Tapi, syarat tersebut ditolak dengan alasan karena masih banyak warga dan pegawai kekaisaran yang menjadi pecandu opium. Para pecandu ini adalah pangsa pasar yang sangat potensial. Jika suplai opium dihentikan maka potensi pasar itu akan dimanfaatkan oleh pihak lain.

Pulau Shamian di Distrik Huangsha adalah saksi mata perang tersebut. Shamian adalah pulau tua historis yang sampai saat ini keberadaannya tetap dijaga seperti aslinya di masa lampau. Nama pulau tersebut dulunya adalah Shameen, kemudian diganti menjadi Shamian pada 1961. Pulau ini menjadi milik Inggris pada awal abad ke-19, tepatnya saat Inggris berhasil menang atas Cina dalam perang candu.

Lokasinya diapit sungai terpanjang di Guangzhou, Pearl River, sehingga membuat kawasan itu menjadi terisolasi dari daratan di sekitarnya. Namun, ini bagi pemerintah Inggris memberi nilai untung karena mereka tidak mau bercampur dengan penduduk lokal. Setelah Inggris hengkang dari Cina, mayoritas bangunan di Shamian kini berubah fungsi. Sejumlah bangunan berubah menjadi bank komersial, kafe waralaba, dan butik. Sebagian lainnya digunakan sebagai Gedung Konsulat Amerika serta Inggris.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA