Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Wednesday, 7 Syawwal 1442 / 19 May 2021

Ahmadinejad Berang Minyak Iran Dirampok Negara-negara Barat

Jumat 04 Jan 2013 06:00 WIB

Red: Citra Listya Rini

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad.

Foto: Vahid Salemi/AP

REPUBLIKA.CO.ID, KIRMANSHAH -- Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad mengatakan perekonomian seharusnya tidak berada dalam kontrol kelompok elit minoritas. Pernyataan tersebut dilontarkannya karena Iran masih belum mendapat keuntungan apa-apa dari pendapatan minyak negaranya.

"Ekonomi sebuah negara tidak boleh terikat pada tiga ribu atau 10 ribu orang saja, melainkan seluruh bangsa," kata Ahmadinejad dalam pidatonya di Kirmanshah seperti dikutip Hurriyet Daily News. Kamis (3/1).

Menurut Ahmadinejad, negara-negara barat telah mengeksploitasi dan merampok minyak di negaranya. Termasuk mengeruk keuntungan dari gas alam yang ada di Iran selama bertahun-tahun.

Akibatnya, Iran masih belum menikmati keuntungan atas kekayaan alamnya tersebut. Ahmadinejad mengungkapkan Iran kehilangan pendapatan tersebut karena minyak dari negaranya dijual dengan harga yang lebih murah.

Lantaran perekonomian di Iran yang masih dinikmati segelintir orang, akibatnya pendapatan minyak di negara tersebut pun diterima secara parsial.

Tidak heran jika Ahmadinejad menyebut total pendapatan minyak belum diterima oleh Iran sejauh ini. Sejak revolusi Islam pada tahun 1979, Iran hanya menerima  pendapatan secara parsial.

"Keadilan, kesejahteraan dan ekonomi yang stabil hanya akan mungkin tercipta dengan sistem dimana orang-orang tetap aktif (berpartisipasi)," ujar Ahmadinejad.

Untuk menempuh kesejahteraan rakyat Iran, ia mengimbau Iran harus meninggalkan kebiasaan menjual bahan baku sumber daya alamnya. Dengan begitu, bahan mentah tersebut bisa diubah menjadi produk jadi di dalam negeri. Selanjutnya jika mencapai surplus produk barulah diekspor ke negara-negara lain.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA