Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Perbankan Syariah Masih Didominasi Dana Mahal

Senin 17 Dec 2012 15:32 WIB

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Fitria Andayani

Salah satu outlet Bank Syariah Mandiri.

Salah satu outlet Bank Syariah Mandiri.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perbankan syariah masih didominasi oleh dana mahal dalam penghimpunan dan penyaluran dana masyarakat.

Penghimpunan dana masyarakat meningkat sekitar 32 persen yang sebagian besar 58,39 persen terhimpun dalam deposito.

Sementara itu, dari sisi penyaluran dana meningkat sekitar 40 persen menjadi Rp 135,58 triliun, di mana piutang Murabahah paling mendominasi dengan portofolio sebesar 59,71 persen.

"Ini mengindikasikan perbankan syariah masih didominasi dana mahal," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah, dalam acara Seminar Akhir Tahun Perbankan Syariah, Senin (17/12).

Dana mahal tersebut, kata Halim, terutama pada marjin dari piutang Murabahah yang cukup tinggi dibandingkan rata-rata suku bunga 2012 sampai dengan September yang sebesar 14,31 persen. 

Menurutnya, berdasarkan hal tersebut perlu dikaji kembali faktor-faktor yang berpengaruh dalam menggeser struktur bisnis perbankan syariah. "Supaya bisa menjadi lembaga keuangan yang efisien dan memberikan kemanfaatan lebih besar," ucapnya.

Ditinjau dari sisi preferensi masyarakat terhadap produk-produk perbankan syariah, masyarakat cenderung memilih produk yang memberikan imbal hasil tinggi. Imbal hasil deposito berfluktuasi antara 5,74 persen sampai dengan 6,28 persen. Sementara imbal hasil tabungan sekitar 2,32 persen dan giro sekitar 0,88 persen. "Produk simpanan berjangka (deposito) lebih diminati dibanding produk tabungan," ujarnya.

Halim menyebut pertumbuhan penghimpunan dana cukup baik diimbangi dengan pertumbuhan penyaluran dana kepada sektor riil. Baik berupa pembiayaan (Mudharabah dan Musyarakah), piutang (Mudharabah, Istisna dan Qardh) dan dalam bentuk pembiayaan Ijarah. Dengan demikian, fungsi intermediasi perbankan dapat relatif terjaga. Ini tercermin dari rata-rata Financing to Deposit Ratio (FDR) perbankan yang tercatat cukup tinggi yakni 100,84 persen. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 95,08 persen. 

Direktur Eksekutif Perbankan Syariah, Edy Setiadi mengatakan, perkembangan perbankan syariah selama satu tahun terakhir, sampai dengan Oktober 2012 (yoy) cukup menggembirakan. Perbankan syariah mampu tumbuh sekitar 37 persen sehingga total asetnya menjadi Rp 174,09 triliun. "Pembiayaan telah mencapai Rp 135,58 triliun (40,06 persen yoy) dan penghimpunan dana menjadi Rp 134,45 triliun (32,06 persen yoy)," ucapnya. 

Penghimpunan dana masyarakat terbesar dalam bentuk deposito yaitu Rp 78,50 triliun (58,39 persen) diikuti tabungan Rp 40,84 triliun (30,38 persen) dan giro sebesar Rp 15,09 triliun (11,22 persen). Penyaluran dana masih didominasi piutang Murabahah sebesar Rp 80,95 triiliun atau 59,71 persen, lalu pembiayaan Musyarakah Rp 25,21 triliun (18,59 persen) dan pembiayaan Mudharabah sebesar Rp 11,44 triliun (8,44 persen) dan piutang Qardh sebesar Rp 11,19 triliun (8,25 persen). 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA