Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Jumat, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Setan Semakin Kalap

Senin 10 Des 2012 04:30 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri

Apa namanya kalau bukan setan semakin kalap. Sehari setelah Sidang Umum pbb yang meningkatkan status Palestina menjadi negara pengamat nonanggota, Zionis israel langsung mengumumkan akan kembali membangun 3.000 unit rumah di wilayah pendudukan di Madinatul Quds (Yerusalem Timur) dan Tepi Barat.

Dua wilayah terakhir itu adalah tanah Palestina yang di-ghasab alias diserobot Israel. Mereka juga akan mempercepat proses izin seribu perumahan lainnya yang telah direncanakan. Pembangunan Permukiman yahudi itu, dikenal dengan sebutan E1, akan membelah kawasan Tepi Barat menjadi dua.

Dengan begitu, permukiman kaum Zionis itu akan mencegah pembentukan wilayah Palestina bersatu. Hingga sekarang, lebih dari 500 ribu warga Yahudi tinggal di lebih dari 100 permukiman yang dibangun sejak Zionis Israel menduduki (baca: menjajah) Tepi Barat dan Madinatul Quds. Pembangunan permukiman ini dianggap ilegal di bawah undang-undang internasional.

Menurut pejabat tinggi Israel, pengumuman untuk membangun permukiman baru Yahudi itu merupakan reaksi awal dari keputusan Sidang Umum PBB yang menyetujui Palestina sebagai negara pengamat nonanggota. “Itu hanyalah reaksi awal. Reaksi berikutnya akan lebih dahsyat,” ujar pejabat yang tak mau disebutkan namanya, seperti dilaporkan koran berbahasa Arab Al Sharq Al Awsat. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan reaksi yang lebih dahsyat tersebut. Pekan lalu (29/11), Majelis Umum PBB menyelenggarakan pemungutan suara mengenai Palestina. Yakni, apakah negara anggota PBB menyetujui Palestina diterima sebagai negara pengamat nonanggota di lembaga internasional itu.

Hasilnya, sebanyak 138 negara mengatakan oke, sembilan negara menolak, dan 41 negara abstain. Dengan keputusan Sidang Majelis Umum PBB itu, Palestina kini lahir sebagai negara merdeka dan berdaulat yang diakui dunia internasional. Tidak seperti selama ini yang hanya menyandang status sebagai otoritas, yaitu Otoritas Palestina.

Karena itu, pendudukan Israel terhadap wilayah Palestina merupakan sebuah penjajahan. Bukan lagi otoritas, seperti yang dinyatakan Zeonis Israel selama ini. “Ini adalah sebuah tindakan agresi Israel atas sebuah negara. Dunia internasional harus ikut memikul tanggung jawabnya,” ujar seorang pejabat senior Palestina Hanan Ashrawi mengenai keputusan Zionis Israel yang akan membangun permukiman Yahudi di wilayah Palestina.

Keuntungan lain dengan status barunya itu, Palestina kini bisa mengambil bagian dalam sidang-sidang dan perdebatan di PBB. Palestina juga dapat menjadi anggota di badan-badan PBB, termasuk Mahkamah Kriminal (Pidana) Internasional di Denhaag, Belanda. Dengan begitu, Palestina bisa menyeret para pejabat Zionis Israel yang selama ini terlibat dalam pelanggaran HAM dan kejahatan perang ke Pengadilan Kejahatan Internasional di Den Haag.

Karena itulah, pantas bila Zionis Israel marah besar. Bahkan, bisa dikatakan kalap. Saking marahnya, hingga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut Presiden Palestina Mahmud Abbas yang menyampaikan pidato pada Sidang Umum PBB akhir bulan lalu sebagai setan terkutuk. Pertanyaannya, siapakah sebenarnya yang lebih pantas disebut setan terkutuk, apakah Presiden Palestina Mahmud Abbas atau sebaliknya, PM Israel Benjamin Netanyahu dan pejabat tinggi pemerintahannya?

Mari saya jelaskan sebuah fakta sejarah. Negara Israel didirikan atas konsep 'tanah yang dijanjikan', sebuah konsep Yudaisme zaman kuno. Intinya, Tuhan bangsa Isarael menjanjikan akan memberikan kepada mereka sebuah negara. Entah di mana negara itu.

Mimpi bangsa Israel atas 'tanah yang dijanjikan' itu kemudian bertemu dengan kepentingan negara-negara penjajah saat itu. Yakni, mereka harus mencari cara lain untuk tetap menjajah negara-negara Arab setelah ada pertanda negara-negara jajahan satu per satu akan memerdekakan diri. Cara itu adalah “menanam” sebuah negara yang akan selalu membuat onar di kawasan sekitarnya.

Setelah Perang Dunia I usai, Liga Bangsa Bangsa (baca: konspirasi negara-negara penjajah) secara sepihak menyetujui dijadikannya Mandat Britania untuk mewujudkan negara Israel. Negara itu ternyata di atas tanah Palestina. Sejak itu, terjadilah eksodus orang-orang Yahudi dari berbagai negara ke tanah Palestina.
Pada 1947, PBB mengiyakan pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara, negara Yahudi dan negara Palestina. Pada 1948, Israel memproklamasikan kemerdekaannya. Tindakan Zionis Israel dan konspirasi negara-negara penjajah itu tentu saja ditolak mentah-mentah oleh bangsa-bangsa Arab, utamanya bangsa Palestina.

Sejak itu, terjadilah konflik dan peperangan berkepanjangan antara Israel dan bangsa-bangsa Arab. Tapi, karena Israel didukung penuh negara-negara Barat, militer maupun ekonomi, perjuangan bangsa-bangsa Arab selalu kandas. Apalagi, antarbangsa Arab sering terjadi konflik. Akibatnya, dalam Perang Enam Hari pada 1967 Zionis Israel berhasil mencaplok wilayah Tepi Barat, Yerusalem Timur, Jalur Gaza, Dataran Tinggi Golan, dan Semenanjung Sinai. Dataran Tinggi Golan adalah wilayah Suriah. Sedangkan, Sinai sudah dikembalikan ke Mesir setelah penandatanganan penjanjian damai pada 1979.

Di daerah-daerah pendudukan milik Palestina itulah kini Zionis Israel berusaha untuk memperkuat cengkeramannya dengan gencar membangun permukiman untuk warga Yahudi. Pembangunan yang dianggap masyarakat internasional liar dan melanggar hukum. Jadi, pertanyaannya, relakah Anda sebagai pemiliki sah diusir dari rumah sendiri? Lalu, siapa sebenarnya yang setan terkutuk?

sumber : Resonansi
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA