Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

From Rubama to Obama

Senin 12 Nov 2012 07:00 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Ikhwanul Kiram Mashuri

Ikhwanul Kiram Mashuri

Foto: Republika/Daan

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri

Seorang anggota parlemen Lebak, Banten, Bama Rubama, beberapa hari lalu memasang iklan ucapan selamat atas kemenangan Barack Obama menjadi Presiden Amerika Serikat (AS). Iklan itu dipasang di dua koran lokal. Isinya: ‘Mengucapkan selamat dan sukses atas terpilihnya kembali Barack Obama sebagai Presiden AS. Semoga memberi kemakmuran bagi umat manusia di dunia’’.

Iklan ini disertai foto Obama di bagian atas dan foto Bama Rubama di bawah. Apa hubungan Bama Rubama dengan Obama? Obama sang presiden belum tentu membaca iklan ucapan selama itu. Apalagi hanya dimuat di koran lokal Banten.

Sebagai politikus, mungkin ia mengharapkan Obama Effect, seperti halnya banyak politikus lain menginginkan Jokowi Effect, yang beberapa pekan lalu memenangkan pemilihan gubernur Jakarta. Kepada media, anggota DPRD Lebak yang namanya mirip Obama itu hanya mengatakan, benar ia yang memasang iklan tersebut.

Seorang wartawan di Banten menyatakan Bama Rubama memang pengagum Obama. Wajar kalau dia kemudian mendoakan kesuksesan buat Obama. Atau istilahnya: From Rubama to Obama.Tentu Bama tidak sendirian. Banyak orang di muka bumi ini yang menginginkan Obama terpilih kembali jadi presiden.

Termasuk sebagian rakyat Indonesia yang ‘merasa’ punya hubungan emosional dengan ‘Si Barry’ yang pernah tinggal empat tahun di Menteng, Jakarta itu. Juga rakyat di negara-negara Arab. Mereka menilai kebijakan Obama dari Partai Demokrat terhadap negara-negara Arab dan umat Islam pada umumnya lebih baik dari pesaingnya dari Partai Republik, Mitt Romney.

Sebaliknya, banyak juga yang justru menginginkan Romney yang terpilih jadi Presiden AS. Terutama rakyat Israel. Romney dinilai lebih pro terhadap negara Zeonis itu daripada Obama. Karena itu, siapa yang jadi orang nomor satu di Gedung Putih bukan hanya urusan masyarakat pemilih Amerika, tapi juga menjadi perhatian luas masyarakat dunia.

Bahkan gegap gempitanya pemilu AS selalu menjadi berita utama media di berbagai negara.Seorang kolomnis Arab, Imaduddin Adib, mengibaratkan menunggu hasil pemilu di AS bagi kebanyakan masyarakat Arab seperti seorang janda yang sedang galau mencari surat-surat berharga almarhum suaminya. ‘’Kita (pemimpin Arab) selalu menunggu solusi dari ‘Mama Amerika’ melalui keputusan ‘Papa’ Presiden Amerika,’’ tulis Imaduddin di media online As Sharq Al Awsat beberapa hari lalu. Imaduddin mungkin tidak berlebihan menggambarkan pengaruh dan peran besar Amerika di berbagai belahan dunia.

Lihatlah apa yang disebut sebagai bantuan Amerika dan bahkan perjanjian perdagangan dunia akan selalu dikaitkan dengan orang nomor satu di Gedung Putih itu. Begitu pula halnya ketika menyangkut kerja sama militer dan bantuan persenjataan, akan selalu menunggu arahan dari sang presiden. Di kawasan Timur Tengah, kehadiran Amerika bahkan bisa dikatakan betul-betul nyata.

‘Hitam’ atau ‘putihnya’ politik dan keamanan di wilayah tersebut akan sangat ditentukan Negara Adidaya itu. Masalah Palestina, misalnya, menjadi berkepanjangan dan belum ada tanda-tanda penyelesaian, antara lain, karena sikap Presiden Amerika yang selalu memihak kepada Israel. Bahkan ketika pecah revolusi rakyat Arab – Barat menyebutnya Arab Spring --, peran presiden AS begitu nyata.

Dialah yang menafsirkan serta mendefinisikan apakah gerakan revolusi di suatu negara sebagai ‘hanya protes biasa, revolusi yang direkayasa pihak asing, revolusi rakyat yang sebenarnya, dan seterusnya…’ Presiden Amerikalah yang mengatakan kepada Husni Mubarak (Presiden Mesir), sekarang saatnya ia meninggalkan kekuasaan.
Ketika Mubarak ‘membandel’ dan bahkan menyerang demonstran, orang nomor satu di negeri Paman Sam itu lebih tegas menyatakan, ‘’Ketika saya mengatakan sekarang, maka itu berarti juga sekarang…’’Presiden Amerikalah yang juga mempunyai andil besar dalam menyusun peralihan kekuasaan secara damai di Yaman melalui para penguasa di negara-negara Teluk.

Ia semacam memberi jaminan kepada Presiden Ali Abdullah Saleh apabila mau mengundurkan diri secara damai. Presiden Amerika pulalah yang memerintahkan angkatan bersenjatanya bergabung dengan pasukan sekutu untuk ikut menyerang pasukan Muamar Qadafi hingga sang kolonel terdesak dan kemudian terbunuh mengenaskan.
Presiden yang sama juga memberikan lampu hijau untuk mengejar dan membunuh pemimpin Alqaidah Usama bin Ladin. Ketika proses operasi pembunuhan berlangsung, ia dengan santai bersama koleganya menyaksikan secara langsung melalui saluran khusus di ruang darurat di Gedung Putih. Sebaliknya, ketika Presiden Amerika tidak bersikap tegas kepada Suriah, Presiden Bashar Assad masih bisa bertahan.

Dengan demikian, siapa yang menjadi Presiden Amerika menjadi penting, bukan hanya buat rakyat Amerika, tapi juga bagi bangsa-bangsa di dunia. Kita menunggu apa yang akan dilakukan Presiden Obama empat tahun ke depan. Di kawasan Timur Tengah, minimal ada empat hal penting yang kini dunia menunggu sikap Obama.

Pertama, mengenai rencana Israel untuk menyerang reaktor nuklir Iran. Kedua, tentang gejolak di Suriah yang kini telah menelan kurban puluhan ribu rakyat. Ketiga, proses perjanjian damai Israel-Palestina/Arab. Keempat, bagaimana Gedung Putih menjalin hubungan dengan pemerintahan baru di negara-negara Arab pascarevolusi rakyat.
Kita berharap peran dan pengaruh Amerika akan semakin positif dalam menciptakan stabilitas dan perdamaian di dunia. Saya pun latah mengikuti Bama Rubama untuk mengucapkan selamat kepada Obama ‘si anak Menteng’.

sumber : Resonansi
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA