Selasa, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Selasa, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Diperkirakan, CPO Indonesia Naik Dua Juta Ton

Kamis 01 Nov 2012 03:03 WIB

Red: Djibril Muhammad

CPO

CPO

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- Produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia diperkirakan naik sekitar dua jutaan ton pada 2013 dibanding produksi 2012 yang berkisar 25 juta ton lebih.

"Penambahan produksi itu berasal dari hasil TBM (tanaman belum menghasilkan) menjadi TM (tanaman menghasilkan) pada tahun depan," kata Ketua Presidium Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun di Medan, Rabu (31/10).

Dengan bertambah banyaknya produksi CPO Indonesia, tentu saja diharapkan harga jual pada tahun depan juga bisa pulih dari tahun ini yang tren turun akibat krisis global. "Memang ada keraguan harga bisa naik pada tahun depan mengingat krisis di Eropa dan termasuk AS masih berkepanjangan hingga tahun depan. Tapi harus tetap optimis," katanya.

Menurut dia, optimisme harus tetap dijaga apalagi negara produsen sawit lainnya yakni Malaysia dan Thailand tetap sepakat untuk melakukan berbagai cara untuk mempertahankan harga jual tetap bagus khususnya di tingkat petani.

Dia menyebutkan, untuk Indonesia, pemerintah harus menekan bea keluar (BK) CPO, dan termasuk meningkatkan penggunaan biodiesel di dalam negeri. Dengan penggunaan biodiesel yang semakin banyak, maka ketergantungan ekspor juga bisa ditekan sehingga harga jual stabil dan bagus. "Saat harga CPO rendah, penggunaan menjadi biodiesel sebenarnya sangat menguntungkan," katanya.

Dia memberi contoh, pada tahun 2007-2008, banyak biodiesel di ekspor ke Eropa dan Amerika Serikat. Mengenai produksi CPO tahun ini, kata Bangun, diperkirakan tidak sampai 25,9 juta ton seperti yang diperkirakan pada awalnya akibat faktor cuaca. "Memang masih tetap di atas 25 juta ton, tapi saya kira tidak sampai 25,9 juta ton seperti prediksi awal,"katanya.

Pada 2011 produksi CPO Indonesia sebanyak 24,1 juta ton. Tidak sampainya produksi CPO seperti yang diperkirakan pada awalnya sebesar 25,9 juta ton disebabkan faktor anomali cuaca yang bukan saja berpengaruh pada perubahan waktu panen, tetapi juga menurunkan produksi.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA