Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Wednesday, 11 Syawwal 1441 / 03 June 2020

Membayar Dam di Pasar Kakiyah

Jumat 05 Oct 2012 11:41 WIB

Rep: Heri Ruslan/ Red: Dewi Mardiani

Pasar hewan Kakiyah di Makkah yang menjual kambing untuk dam.

Pasar hewan Kakiyah di Makkah yang menjual kambing untuk dam.

Foto: Republika/Heri Ruslan

REPUBLIKA.CO.ID, Bau kambing langsung menusuk hidung ketika memasuki areal pasar ini. Sejumlah pria berkulit hitam melambai-lambaikan tangan mengajak setiap orang yang datang untuk menepi. ''Ayo... Ayo...'' pria itu menunjukkan berbagai jenis kambing yang bergerombol di sepanjang jalan masuk menuju pasar hewan itu.

Pasar hewan itu bernama Kakiyah. Letaknya 10 kilometer dari Masjidil Haram. Dari pasar itu, Royal Clock, menara jam di  Masjidil Haram, tampak menjulang ke angkasa.

Sore itu, saya dan sejumlah kawan menyambangi Pasar Kakiyah untuk membayar Dam haji tamatu. Dam adalah ibadah pengganti  dengan menyembelih seekor kambing. ''Ini pasar hewan yang paling besar di Kota Makkah,'' kata Satori Atinah, seorang mukimin yang mengantar saya dan rombongan.

Pria kelahiran Majalengka, Jawa Barat itu sudah hafal seluk-beluk Pasar Kakiyah. Ia meminta sopir yang mengantar agar langsung menuju tempat penyembelihan. ''Orang-orang hitam itu adalah calo. Mereka mencari pembeli untuk mendapatkan komisi. Dari setiap kambing mereka akan meminta komisi sebesar 5 riyal kepada pedagang,'' tutur mukimin yang sudah menetap di Makkah sejak 1989 itu.

Begitu turun dari mobil, Satori meminta kami mengumpulkan uang Dam. ''Harga seekor kambing sebesar 300 riyal. Itu sudah sangat murah,'' ujarnya. Ia lalu menelepon kawannya dengan menggunakan bahasa Arab.  Seorang pria Arab bertubuh jangkung keluar dari rumah pemotongan hewan. Keduanya lalu bersalaman dan berbincang.

Saya dan kawan-kawan diajak masuk menuju rumah pemotongan. Suara golok menghantam tulang-tulang kambing memenuhi ruangan.  Sejumlah kambing bergantungan setelah dikuliti. Pekerja di rumah pemotongan itu didominasi oleh orang-orang berkulit hitam. ''Kebanyakan mereka berasal dari Niger,'' cetus Zaini, seorang mukimin.

Lalu, kami diminta melihat kambing-kambing yang akan disembelih untuk Dam. Jumlahnya ada 11 ekor, sesuai jumlah rombongan yang akan membayar Dam. ''Tulis nama lengkap dan orangtua,'' ujar Satori sambil menyerahkan kertas kosong dan balpoint.

Lalu, ia berdoa sambil menyebut setiap nama untuk seekor kambing yang akan disembelih. Seorang pria memegang kambing dan tukang jagal langsung menyembelihnya. Daging kambing Dam yang disembelih itu akan dibagikan kepada orang-orang miskin yang tinggal di sekitar Pasar Kakiyah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA