Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Usai Periksa Nara, Panwaslu akan Rekonstruksi 'Ancaman Betawi'

Jumat 14 Sep 2012 17:47 WIB

Rep: Ira Sasmita / Red: Djibril Muhammad

Ketua Panwaslu DKI, Ramdansyah

Ketua Panwaslu DKI, Ramdansyah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ancaman yang dilakukan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli langsung disambut Panwaslu. Melalui Ketuanya Ramdansyah, Panwaslu mengaku telah melakukan proses klarifikasi terhadap Nachrowi Ramli.

Usai proses klarifikasi, lanjut dia, pihaknya akan melakukan rekonstruksi secara utuh terkait ucapan Nachrowi, yang dilaporkan tim advokasi Jokowi-Ahok. "Pak Nachrowi kami undang sebagai ketua Bamus. Dalam pelaporan, kami minta angle yang utuh. Ada beberapa frame, maksudnya video dari awal sampai akhir," ucap Ramdansyah di Jakarta, Jumat (14/9).

Dijelaskan dia, Panwaslu akan menindaklanjuti kasus tersebut dengan memanggil semua pihak. Seperti, lembaga penyiaran yang menayangkan video ucapan Nachrowi itu. 

Sebelumnya, tim advokasi pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) melaporkan Nachrowi Ramli (Nara) ke Panwaslu DKI, Selasa (11/9) lalu. Mereka melaporkan pernyataan Nachrowi pada acara lebaran Betawi Senin (10/9) kemarin.

'Saya mengingatkan kepada kaum Betawi, tidak ada pilihan lain, selain satu untuk semua. Silakan keluar dari Betawi jika tidak memilih orang Betawi' begitu ucap Nara di Lapangan Bermes, Jakarta Utara.

Ketua tim advokasi Jokowi-Ahok, Habiburokhman, menilai pernyataan Nara sebagai bentuk kampanye. Yang bernada suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Sehingga melanggar UU Nomor 32 tahun 2004 pasal 78 huruf b dan c. Yakni tentang pernyataan yang mengandung fitnah, menghasut, dan menghina seseorang karena suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA).

Menurut dia, pernyataan Nara merupakan bentuk kampanye di luar jadwal. Dan menimbulkan keresahan di kalangan pendukung Jokowi-Ahok yang berdarah Betawi. "Banyak pendukung Jokowi yang berasal dari etnik Betawi. Lantas apakah mereka harus diminta keluar dari Betawi jika tidak memilih Foke-Nara?," ujar Habiburokhman.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA