Monday, 28 Zulqaidah 1443 / 27 June 2022

Serangan di Konsulat AS, Libya Tangkap Empat Orang

Jumat 14 Sep 2012 05:09 WIB

Red: Endah Hapsari

Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Benghazi, Libya, terbakar saat sekelompok demonstran menggelar aksi memprotes film yang diproduksi di Amerika Serikat pada 11 September.

Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Benghazi, Libya, terbakar saat sekelompok demonstran menggelar aksi memprotes film yang diproduksi di Amerika Serikat pada 11 September.

Foto: Reuters/Esam Al-Fetori

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI---Aparat keamanan Libya menangkap empat orang terkait penyelidikan serangan terhadap konsulat AS di Benghazi yang menewaskan duta besar dan tiga orang staf lain, kata Deputi Menteri Dalam Negeri Wanis Sharif, Kamis.

"Empat orang ditangkap dan kami menginterogasi mereka karena mereka diduga membantu menyulut kejadian-kejadian di konsulat AS," kata Sharif kepada Reuters.

Ia tidak memberikan penjelasan terinci lebih lanjut mengenai hal itu.

Duta Besar AS untuk Libya Christopher Stevens dan tiga warga lain Amerika tewas setelah orang-orang bersenjata menyerang konsulat negara itu dan sebuah tempat pengungsian aman di kota Benghazi, Libya timur, pada Selasa malam.

Para penyerang itu merupakan bagian dari massa yang menyalahkan AS atas sebuah film yang dianggap menghina Nabi Muhammad.

Kamis, demonstran menyerang kedutaan-kedutaan AS di Yaman dan Mesir untuk memprotes film itu, sementara kapa-kapal perang AS bergerak mendekati Libya.

Presiden AS Barack Obama berjanji mengadili mereka yang bertanggung jatab atas serangan di Benghazi, yang kata para pejabat AS mungkin telah direncanakan sebelumnya.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatakan, Washington tidak memiliki kaitan dengan film itu, yang disebutnya "menjijikkan dan tercela".

Serangan mematikan itu mendapat kecaman dari berbagai pihak, termasuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Pemimpin NATO Anders Fogh Rasmussen hari Rabu mengutuk serangan mematikan terhadap konsulat AS di Benghazi, Libya, dengan mengatakan, "kekerasan semacam itu tidak pernah bisa dibenarkan".

"Adalah penting bagi Libya yang baru untuk terus bergerak ke arah masa depan yang damai, aman dan demokratis," kata sekretaris jendral NATO itu.

Serangan terhadap konsulat AS di Libya itu dilakukan hanya beberapa jam setelah kelompok muslim garis keras menyerbu Kedutaan Besar AS di Kairo dalam protes marah serupa terhadap sebuah film buatan AS yang dianggap menghina Islam.

NATO memimpin operasi udara tujuh bulan di Libya tahun lalu yang membantu menggulingkan pemerintah Muamar Gaddafi.

Pemerintah baru Libya hingga kini masih berusaha mengatasi banyaknya individu bersenjata dan milisi yang memperoleh kekuatan selama konflik bersenjata yang menggulingkan Gaddafi.

Benghazi dilanda pemboman dan serangan-serangan terhadap konvoi dan organisasi internasional serta beberapa misi Barat.

Kota di Libya timur itu adalah tempat lahirnya pemberontakan anti-pemerintah dan menjadi markas Dewan Transisi Nasional (NTC).

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA