Wednesday, 17 Syawwal 1443 / 18 May 2022

Pasar Global Bikin FDI untuk Ekspor Sulit Dilakukan

Senin 10 Sep 2012 14:55 WIB

Rep: A.Syalaby Ichsan/ Red: Djibril Muhammad

Kepala Bappenas Armida Alisjahbana

Kepala Bappenas Armida Alisjahbana

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Orientasi Foreign Direct Investment (FDI) untuk sektor ekspor masih sulit untuk dilakukan pada saat ini. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida Alisjahbana, mengungkapkan kondisi ekonomi global yang masih belum membaik membuat jatuhnya permintaan dari negara-negara tujuan.

"Sebetulnya sudah, cuma masalahnya pasar lagi susah di luar negeri," ungkap Armida usai rapat dengar pendapat dengan komisi XI DPR RI, di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (10/9). Menurutnya, perlu waktu bagi komoditas Indonesia untuk kembali bersaing di luar negeri.

Jika ekonomi dunia sudah membaik, tuturnya, maka dengan otomatis akan memperbaiki daya saing ekspor Indonesia. Armida menjelaskan pemerintah sudah mengalokasikan masuknya investasi asing untuk ke sektor manufaktur.

Sehingga, hilirisasi dari bahan mentah dan bahan baku untuk bisa mendapatkan nilai tambah bisa terjadi. "Memang kesitu, cuma kan permintaan dunia lagi turun," ungkap Armida. Menko Perekonomian, Hatta Rajasa, sempat menyatakan kalau target pemerintah untuk perolehan investasi langsung asing di Indonesia pada 2013 mencapai US$30 miliar atau sekitar Rp 270 triliun pada 2013.

Target ini meningkat 50 persen dibandingkan capaian tahun kemarin yang mendekati angka US$ 20 miliar. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi PMA pada kuartal II/2012 naik 30,2 persen dari Rp 43,1 triliun pada kuartal II/2011 menjadi Rp 56,1 triliun.

Sedangkan realisasi PMDN hanya naik 10,1% pada periode yang sama dari Rp18,9 triliun menjadi Rp20,8 triliun. Sekitar 46% FDI itu ditanamkan di dalam manufaktur terutama terkait dengan industri kendaraan bermotor, kimia, dan farmasi serta tekstil.

Dalam jawaban tertulisnya pada Rapat Dengar Pendapat dengan DPRRI, pemerintah menyatakan terus melakukan berbagai langkah pembenahan untuk terus menjaga dan mendorong arus FDI. Caranya, pemerintah berkomitmen akan terus melakukan perbaikan iklim usaha dan administrasi dalam rangka meningkatkan kemudahan usaha (ease of doing bussines).

Pemerintah pun mengungkapkan akan terus menjaga stabilitas ekonomi serta kesehatan fiskal untuk lebih meningkatkan kepercayaan investor. Stabilitas ekonomi yang disertai dengan pasar domesik yang cukup besar akan menjadi daya tarik tersendiri.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA