Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Presiden Mesir akan Kunjungi Iran untuk Pertama Kali

Ahad 26 Aug 2012 17:25 WIB

Rep: Gita Amanda/ Red: Dewi Mardiani

Presiden Mesir Muhammad Mursi

Presiden Mesir Muhammad Mursi

Foto: Amr Abdallah Dalsh/Reuters

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO-- Presiden Mesir Muhammad Mursi berencana menghadiri pertemuan puncak konferensi Gerakan Non-Blok (GNB) di Teheran, Iran. Ini akan menjadi kunjungan pertama Mesir sejak memutuskan hubungan dengan Teheran tiga dekade lalu.

Mengutip salah satu sumber di kepresidenan mengatakan, Mursi akan menghadiri KTT GNB di Teheran pada 30-31 Agustus mendatang. Saat itu Mursi sekaligus akan melakukan transfer kepemimpinan GNB, yang selama ini dijabat Mesir, kepada Iran.

Kehadiran Mursi diharapkan dapat meningkatkan hubungan Teheran dan Kairo. Kunjungan ini juga menandai pencarian antara kedua negara setelah bertahun-tahun permusuhan. Namun belum ada kepastian, apakah Mursi akan menggelar pertemuan dua arah dengan pejabat Iran.

Selama ini Kairo telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Teheran setelah revolusi Iran tahun 1979. Saat itu Mesir menuduh Teheran mendukung militan di wilayah tersebut. Namun para analis mengatakan, masih terlalu dini untuk menilai implikasi dari kunjungan tersebut. Sebab analis percaya, kunjungan Mesir ke Teheran akan membawa Mesir kembali ke panggung politik regional.

"Ini benar-benar respon pertama untu permintaan populer. Serta cara untuk meningkatkan margin manuver untuk kebijakan luar negeri Mesir di wilayah tersebut," ujar salah seorang ilmuan politik Mesir Mustafa Kamel el-Sayyed. 

Menurutnya, kunjungan Mursi ini menunjukkan kebijakan luar negeri Mesir masih aktif di wilayah tersebut. Ini juga merupakan cara untuk memberi tahu negara-negara Teluk, bahwa Mesir tak akan hanya mematuhi keinginan mereka dan menerima posisi inferior. Selama kepemimpinan Husni Mubarak, beberapa upaya perdamaian telah dilakukan.

Seperti yang dilakukan oleh menteri perdagangan dan pemimpin bisnis untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara. Namun mereka menemui protes keberatan dari kementerian luar negeri dan kalangan intelijen.

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA