Saturday, 26 Zulqaidah 1443 / 25 June 2022

Eksekusi Tahanan Cacat Mental, Pengadilan Texas Diprotes

Rabu 08 Aug 2012 12:40 WIB

Rep: Gita Amanda/ Red: Hazliansyah

Hukuman Mati

Hukuman Mati

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pengadilan Texas melakukan eksekusi hukuman mati terhadap seorang pelaku tindak pidana yang diduga cacat mental. Tindakan tersebut kemudian memicu protes dari kelompok hak asasi manusia.

Menurut Departemen Peradilan Pidana Texas, pihak berwenang telah mengeksekusi Marvin Wilson (54 tahun) seorang pria keturunan Amerika-Afrika dengan suntik mati pada pukul 18.27 waktu setempat. Wilson dinyatakan bersalah setelah melakukan pembunuhan pada 1992.

Mahkamah Agung AS menolak banding terakhir dari pengacara Wilson beberapa jam sebelum eksekusi dilakukan pihak berwenang.

Amnesti Internasional menyebut keputusan tersebut sangat mengganggu. Beberapa kelompok hak asasi juga mengkritik dakwaan yang dijatuhkan pada Wilson.

Menurut Amnesti Internasional, pada 2004 lalu, Wilson didiagnosis memiliki keterbelakangan mental ringan. Dari hasil diagnosis tersebut Wilson hanya memiliki IQ 61.

Sebelum dieksekusi, Wilson mengatakan kepada anggota keluarganya bahwa ia mencintai mereka. "Bawa aku ke rumah Tuhan. Aku mencintai kalian semua, saya sudah siap," ungkap Wilson dalam pernyataan terakhirnya.

Pada 2002, Mahkamah Agung mengeluarkan aturan yang menentang eksekusi narapidana cacat mental. Sebab mereka khawatir eksekusi terhadap tahanan cacat mental, merupakan tindakan yang tak tepat. Namun Mahkamah Agung membebaskan masing-masing negara bagian untuk menentukan batasan cacat mental.

Sementara menurut Pengadilan Texas, Wilson tak menderita cacat mental. Oleh karenannya eksekusi hukuman mati tetap dilakukan padanya.

Bulan lalu, kejadian serupa juga terjadi pada seorang keturunan Afrika-Amerika Yokamon Hearn (34 tahun). Ia diduga menderita ganguan mental, namun ia tetap dieksekusi di Texas.

Eksekusi tahanan cacat mental terus dilakukan pengadilan Texas, meski protes internasional terus bergulir.

 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA