Inilah Keutamaan Menghidupkan Malam Ramadhan (2)

Rep: Hannan Putra/ Red: Heri Ruslan

 Rabu 08 Aug 2012 05:25 WIB

Orang berdoa (ilustrasi) Foto: Esam Al-Fetori/Reuters Orang berdoa (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah sya’ir Arab mengatakan, "Malam hari mereka seperti pendeta, dan ketika bertemu musuh, mereka adalah orang yang paling berani."

Rumah-rumah kaum Muhajirin dan Anshar pada saat malam tiba berubah menjadi sekolah-sekolah untuk membaca Alquran, universitas untuk mendidik, dan lembaga keimanan. Sedang rumah kebanyakan manusia kini menjadi kamp-kamp nyanyi, hura-hura, tempat untuk perbuatan dungu dan sia-sia. Ya Allah, kami mohon ampunan-Mu.

Ketika kita kehilangan shalat malam, hati kita mengeras, air mata kita mengering, iman kita melemah. Dalam hadits shahih Rasulullah bersabda, "Orang yang meramaikan Ramadhan (dengan puasa, shalat, membaca Alquran dan ibadah lain) karena iman dan mengharap keridhaan Allah, ia akan diampuni dosanya yang telah lalu."

Ada beberapa hal yang dapat membantu kita dalam melaksanakan shalat malam antara lain, yaitu;

1. Mengingat hari yang amat dahsyat itu, kiamat. Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam. Hari dimana apa yang ada di dalam kubur dibangkitkan, dan apa yang ada dalam dada ditampakkan.

2. Mengingat kegelapan, keganasan dan derita kubur. Shalat malam akan menjadi nur dalam kegelapan kubur.

3. Mengingat pahala dan ampunan atas kesalahan dan dosa.

Bagaimana mungkin bisa tidur orang yang ingat akan terbaring di kubur, yang mengingat akan dikumpulkan pada hari kebangkitan, dan mengingat semua amal akan ditampakkan. 

Kita tidak mengira bahwa diantara generasi muda Muslim ada yang tidak tidur sampai larut malam untuk hura-hura, berpesta ria, mendengarkan lagu, dan melakukan hal-hal yang tidak berfaedah.

Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda kepada Ibnu Umar, “Wahai Abdullah, janganlah seperti si fulan, ia bangun waktu malam tetapi meninggalkan shalat (dan ibadah lain) malam hari." 

Bila ada orang-orang berpaling dari mengingat Allah, maka mereka akan diselimuti dan didera kesedihan berturut-turut. Sesungguhnya mereka punya obat, tetapi mereka tidak meminumnya, mereka punya terapi tetapi tidak mengetahuinya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X