Sunday, 16 Muharram 1444 / 14 August 2022

Ramadhan dan Kemenangan Indonesia

Senin 06 Aug 2012 15:11 WIB

Red: Miftahul Falah

Leadership (ilustrasi)

Leadership (ilustrasi)

Foto: ideachampions.com

 

Sejatinya, bulan Ramadhan dimanfaatkan sebagai bulan introspeksi diri baik secara individu, keluarga, masyarakat bahkan dalam lingkup kenegaraan. Apa saja yang telah dilakukan selama ini? Apakah hari ini sama dengan hari kemarin, lebih baik, ataukah malah lebih buruk? Setiap lingkup perlu yang namanya introspeksi.

Bagaimana jadinya, jika dalam setiap fase hidup yang telah dilalui, berlalu begitu saja tanpa ada unsur introspeksi diri. Setelah sekali terperosok dalam got, ternyata tidak mengambil pelajaran hingga membuatnya terperosok kembali pada got yang sama.

Indonesia perlu perbaikan! Jelas, banyak sekali yang harus diperbaiki bersama-sama. Indonesia yang diproklamirkan 65 tahun yang lalu, tepat pada suasana bulan Ramadhan, masih perlu banyak perbaikan.

Mungkin para pendiri bangsa yang gugur itu, menangis melihat negeri yang dibela dengan pengorbanan jiwa raga itu terlunta-lunta seperti saat ini. Mungkin mereka akan kecewa mendalam, melihat para pemimpin negeri banyak yang tidak amanah.

Hasil survei menunjukkan, bahwa Indonesia menempati peringkat pertama se-ASEAN sebagai negara terkorup. Kemudian survei terbaru tahun 2011 menunjukkan, bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada level 0,617 pada tahun 2011, dengan posisi peringkat pada nomer 124 dari 187 negara di dunia. Indonesia berada di bawah posisi Singapura dan Malaysia yang merdekanya belakangan. 

"IPM Indonesia tahun lalu berada pada level 0,613, tapi tahun ini meningkat tipis pada level 0,617," kata Staf Ahli Menkokesra Bidang Kreativitas dan Inovasi Teknologi, Dr H TB Rahmad Sentika (Republika 27 November 2011).

Kemudian, Indonesia dibanggakan sebagai negara yang kaya. Kekayaan alamnya begitu melimpah, baik di daratan maupun di lautan. Namun nyatanya, masyarakatnya sebagian besar dalam kondisi miskin. Tahun 2011, jumlah penduduk miskin masih 27 juta jiwa.

Belum lagi kasus korupsi para pejabat-pejabat daerah dan pusat yang semakin menggila. Bahkan yang lebih heboh lagi, pengadaan Alquran pun dikorupsi oleh oknum di Kementerian Agama. Lalu, akan dibawa kemana negeri yang katanya kaya raya ini? Tepat kiranya ungkapan Jaya Suprana bahwa kekayaan negeri ini telah menjadi kutukan yang sangat mengerikan.

Masalah-masalah yang saya paparkan di atas, hanyalah beberapa saja. Masih banyak permasalahan lain yang perlu diselesaikan. Itulah tantangan bagi manusia saat ini dan di masa yang akan datang. Tentu kita tidak bisa menyelesaikan semua permasalahan itu semua dalam waktu singkat.

Kepemimpinan merupakan kunci agar permasalahan-permasalahan itu bisa terselesaikan. Oleh sebab itu, yang dibutuhkan Indonesia saat ini yaitu sosok-sosok pemimpin yang memiliki sifat seperti Rasulullah; Siddiq (benar), amanah  (Jujur), fathonah (cerdas) dan tablig (menyampaikan/komunikasi).

Setidaknya, para pemimpin masa depan negeri ini berkiblat terhadap sifat-sifat kerasulan tersebut, bukan pada sifat-sifat Fir’aun yang menindas. Indonesia merupakan negara besar, sehingga butuh pemimpin yang memiliki karakter seperti Rasulullah. Tidak mungkin negeri ini diwariskan oleh orang-orang yang "kerdil".

Oleh sebab itu, kita bangsa Indonesia, sebagai pewaris sah negeri ini harus menentukan sikap. Tahun 2014 mendatang kita akan menghadapi pesta demokrasi di mana tampuk kepemimpinan nasional akan “diperebutkan”. Berarti, kita masih menunggu dua Ramadhan lagi untuk menentukan pemimpin-pemimpin yang akan membawa Indonesia menuju kemenangan.

Jangan sampai kita terperosok dalam lubang yang sama, karena “hanya keledai-lah yang jatuh dalam lubang yang sama”. Sementara, kita adalah manusia, bukan keledai.

Semarang, 27 Juli 2012

Anton Saputra

Ketua KAMMI Komisariat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA