Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Kamis, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

PNM Cegah Bahaya Tengkulak dan Lintah Darat

Sabtu 02 Jun 2012 18:39 WIB

Rep: Asep Wijaya/ Red: Heri Ruslan

Mantan Presiden Prof Dr.Ing B.J. Habibie berpidato pada acara hari ulang tahun PT Permodalan Nasional Madani (PNM) di gedung Smesco UKM, Jakarta

Mantan Presiden Prof Dr.Ing B.J. Habibie berpidato pada acara hari ulang tahun PT Permodalan Nasional Madani (PNM) di gedung Smesco UKM, Jakarta

Foto: Republika/Agung Fatma Putra

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga keuangan, Permodalan Nasional Madani (PNM), berdiri sejak 1999 dan saat ini menginjak tahun ke-13 kehadirannya di dunia UMKM.

Keberadaannya bertujuan untuk menghindarkan unit usaha mikro, kecil, dan menengah dari bahaya para tengkulak alias lintah darat.

Direktur Utama PNM, Parman Nataatmadja, menuturkan, lintah darat atau tengkulak yang banyak mengisi ruang usaha sangat meresahkan sejumlah UMKM. Mereka, ungkap dia, banyak bermain di dunia perdagangan dan industri kecil.

"Untuk itu, PNM hadir untuk mengeluarkan mereka dari jeratan tengkulak," tutur Parman.

Oleh sebab itu, Parman mengungkapkan, demi menjangkau sebanyak-banyaknya unit usaha di Indonesia, PNM akan mendirikan 100 kantor Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) lagi pada 2013.

 

Hingga saat ini, tutur dia, ULaMM telah memiliki 477 kantor yang bila ditambah dengan rencana pembangunan 100 kantor tersebut, jumlahnya mencapai 577 tempat pelayanan.

Parman mengatakan, untuk memperoleh pembiayaan dari ULaMM PNM itu terbilang tidak sulit. Menurut dia, ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi termasuk kejelasan jenis usaha yang akan mendapat bantuan dana.

"Setelah memperoleh dana, mereka juga akan menjalani pelatihan dan pendampingan selama enam bulan," ucap Parman di hadapan sejumlah wartawan.

Terkait nominal maksimal dana yang dapat diajukan ke ULaMM yakni Rp200 juta. Namun, ujar dia, biasanya nasabah meminjam sekitar Rp45 juta atau bahkan ada yang hanya membutuhkan Rp2 juta.

"Mereka yang mendapat dana adalah jenis usaha yang masuk ke dalam 18 subsektor yang ditentukan. Antara lain, perdagangan, industri kecil dan kerajinan" ungkap Parman di Gedung Smesco.

Lebih lanjut, Parman menuturkan, sejumlah sektor itu tergolong produktif. Bila terjadi penguatan di lini tersebut, Parman meyakini, lini lain pun akan menguat.

"Mereka harus bersatu," tegas Parman.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA