Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Ine Febriyanti Sudah Muak dengan Korupsi

Rabu 25 Apr 2012 18:17 WIB

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Hafidz Muftisany

Ine Febriyanti

Ine Febriyanti

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Artis cantik Ine Febriyanti merasa muak dengan banyaknya korupsi yang terjadi di Indonesia. Dirinya bahkan mengaku telah apatis dengan kasus korupsi.

"Saya sudah muak, enek dengan berita korupsi," ucapnya saat acara nonton bareng Kita VS Korupsi di @america, Pasific Place, Jakarta, Rabu (25/4).

Saking bencinya terhadap korupsi, perempuan kelahiran Semarang, 18 Februari 1976 ini langsung mematikan televisi jika ada berita korupsi yang sedang ditayangkan. Untuk itu, dirinya sempat terkejut saat ditawari menjadi sutradara dalam film perlawanan terhadap korupsi. "Surprise dan bingung karena harus mulai dari mana karena saya udah males banget sama korupsi," ucapnya.

Namun dirinya menganggap hal tersebut sebagai pemicu terhadap pembuatan film. "Saya gunakan kebencian saya sebagai bahan bakar untuk membuat film melawan korupsi," ujarnya.

Film ini, kata Ine, merupakan pintu dari sineas Indonesia untuk memberikan sesuatu terhadap negerinya terutama berkaitan dengan pemerangan korupsi. Dalam proses pembuatan film, Ine memperoleh workshop dari pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busro Muqoddas dan Abraham Samad serta masukan dari Transparency Internastional Indonesia (TII).

Film Kita VS Korupsi terdiri dari empat film pendek yang masing-masing berdurasi kurang lebih 20 menit. Film karya Ine berada di urutan ketiga dengan judul "Selamat Siang Rissa". Cerita ini mengisahkan tentang komitmen seorang kepala gudang, Arwoko, yang diperankan Tora Sudiro.

Kisah yang berlatarbelakang tahun 1974 ini, Arwoko dengan yakin menolak suap yang diberikan oleh salah seorang penimbun beras yang hendak menyembunyikan beras di gudangnya. Padahal saat itu, anak Arwoko sedang jatuh sakit dan dirinya tidak lagi memiliki uang untuk berobat. "Sebenarnya bisa saja dia terima suap itu tapi karena rasa empatinya dengan sesama, maka Arwoko menolak," ucap Ine.

Perempuan yang mengenakan baju lengan panjang berwarna biru pada saat nobar ini menyebut tindak korupsi tidak bisa diberantas. Namun, menurutnya masyarakat Indonesia bisa membuat korupsi tidak menyebarluas dan mengakar. Kita bisa membuat korupsi bukan mayoritas," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA