Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Pemiliki Stasiun TV Ternyata Larang Anaknya Menonton, Nah Lho...

Rabu 11 Apr 2012 15:55 WIB

Red: Heri Ruslan

Nonton tv

Nonton tv

REPUBLIKA.CO.ID,  KUTA -- Pemilik dan pihak pengelola stasiun televisi swasta melarang anak-anaknya menonton tayangan yang tidak mendidik dan dapat meracuni pikiran jutaan anak di Indonesia.

"Pemilik televisi juga sempat kami tanya, ternyata mereka tidak rela kalau anaknya menonton siaran konyol yang merugikan masyarakat," kata anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Idy Muzayyad, di Kuta, Bali, Rabu.

Dia tidak menjelaskan, siapa saja pemilik stasiun televisi dimaksud. "Tapi intinya mari kita pilah, mana yang layak ditonton. Jangan biarkan anak-anak menonton televisi tanpa didampingi orang tua," katanya dalam Forum Pengembangan Literasi Media Dalam Rangka Penguatan Sadar Media.

Idy yang tampil bersama Ketua Dewan Kehormatan PWI Tarman Azzam juga menyayangkan sebagian besar stasiun televisi yang masih menayangkan program bersifat "LMGA" atau "Lu Mau Gua Ada". Namun sudah mulai ada yang mengarah ke segmentasi, seperti mengutamakan pemberitaan.

Kecenderungan media massa yang masih menerapkan jurnalisme "LMGA" itu, lanjut Idy, tak terlepas dari era kapitalisme yang mengedepankan pendapatan setinggi-tingginya dengan biaya operasional serendah-rendahnya.

Sementara itu, Tarman Azzam berharap kesadaran wartawan dan para pemilik media, termasuk televisi, untuk menyajikan informasi yang terbaik bagi masyarakat.

Mantan Ketua PWI itu juga mengingatkan kepada pemerintah untuk bertindak cepat dalam menyikapi pemberitaan dan siaran televisi agar tidak sampai merugikan masyarakat.
Menurut dia, masyarakat semakin cerdas dalam memilih dan menilai pemberitaan dan siaran media massa agar tidak salah dalam menyikapinya.

Acara yang diikuti berbagai elemen masyarakat, termasuk insan media dan kehumasan di Bali itu menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Dr Ida Bagus Radendra dari Fakultas Komunikasi Universitas Dwijendra Denpasar, M Noeh Hatumena dari PWI pusat, dan Amin Sar Manihuruk dari Badan Litbang SDM Kemkominfo.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA