Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Monday, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 January 2020

Keberhasilan Pendidikan Dinilai Bukan Tolok Ukur Kecerdasan

Selasa 06 Mar 2012 08:31 WIB

Red: Djibril Muhammad

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK - Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Hasan Alaydrus mengatakan keberhasilan pendidikan bukan tolok ukur kecerdasan otak dengan meraih prestasi di berbagai lomba akademik.

"Kita merasa prihatin jika pendidikan itu hanya diukur dengan kecerdasan dan berhasil saat meraih perlombaan akademik," katanya di Rangkasbitung, Selasa (6/3).

Menurut dia, pendidikan bukan hanya teruji kemampuan kecerdasan otak saja dengan meraih perlombaan bergengsi, seperti oliampiade sains matematika atau kimia tingkat nasional maupun internasional.

Namun, kata dia, pendidikan harus dibangun keseimbangan tiga komponan, yakni kognitif (kecerdasan), afektif (sikap) dan psiomotorik (keterampilan). Ketiga komponan itu, kata dia, tentu saling terkait antara yang satu dengan yang lainya.

"Kalau otaknya cerdas, tetapi mereka memiliki sikap bermalas-malas bagaimana orang-orang pintar itu ke depan," katanya.

Ia mengatakan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus membangun pendidikan dengan keseimbangan tiga komponan tersebut. Sebab, menurut dia, pendidikan adalah proses pembentukan karaktek manusia baik berpikir, sikap maupun keterampilan.

"Kami yakin jika tiga komponan pendidikan dasar itu diterapkan maka akan melahirkan siswa-siswa yang cerdas, bermoral juga memiliki sikap yang baik," katanya.

Kepala SMAN 2 Rangkasbitung H Ika Santika mengatakan selama ini target pencapaian keberhasilan pendidikan hanya diukur dengan kecerdasan otak dan kelulusan ujian nasional.

Padahal, kata dia, pendidikan itu harus memenuhi tiga komponan dasar yakni kognitif, afektif dan psiomotorik. Karena itu, kata dia, pihaknya mengembangkan ketiga komponan dasar pendidikan itu, selain pintar juga memiliki sikap dan ketrampilan anak didik.

"Kami merasa bangga jika siswa bertemu dengan guru selalu cium tangan. Itu proses pendidikan afektif anak," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA