Sunday, 20 Jumadil Akhir 1443 / 23 January 2022

Sejarah Hidup Muhammad SAW: Penaklukan Makkah

Selasa 02 Aug 2011 23:24 WIB

Red: cr01

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: Blogspot.com

REPUBLIKA.CO.ID, Islamnya Abu Sufyan tidak akan mengurangi kewaspadaan dan kesiap-siagaan Rasulullah dalam menyiapkan diri hendak memasuki Makkah. Oleh sebab itu, beliau memerintahkan agar Abu Sufyan ditahan dulu di sela wadi, pada sebuah jalan masuk gunung ke Makkah. Sehingga bila nanti pasukan Muslimin lewat, ia akan melihat sendiri, dan dapat pula dengan jelas melaporkan kepada golongannya bagaimana kekuatan kaum Muslimin.

 

Ketika kemudian kabilah-kabilah itu lewat di hadapan Abu Sufyan, ia sangat terpesona. Pasukan dalam uniform serba hijau mengelilingi Rasulullah, yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar.

Setelah melihat keadaan demikian, Abu Sufyan berkata, "Abbas, kiranya takkan ada orang yang sanggup menghadapi mereka itu. Abul Fadhl, kerajaan kemenakanmu ini kelak akan menjadi besar!"

 

Sesudah itu, Abu Sufyan dibebaskan pergi menemui golongannya dan dengan suara kencang ia berteriak kepada mereka, "Saudara-saudara Quraisy, Muhammad sekarang  datang dengan kekuatan yang takkan dapat kalian lawan. Tetapi barangsiapa datang ke rumah Abu Sufyan orang itu selamat. Barangsiapa menutup pintu rumahnya, orang itu selamat. Dan barangsiapa masuk ke dalam masjid orang itu juga selamat!"

 

Rasulullah sudah berangkat bersama pasukannya sampai ke Dzu Tuwa. Setelah dilihatnya dari tempat itu tak ada perlawanan dari pihak Makkah, pasukannya dihentikan. Beliau bersujud menyatakan rasa syukur kepada Allah, yang telah membukakan pintu Lembah Wahyu dan tempat Rumah Suci itu kepadanya dan kaum Muslimin, sehingga mereka dapat masuk dengan aman dan tenteram.

 

Walau demikian, beliau tetap selalu waspada dan berhati-hati. Diperintahkannya pasukannya supaya dipecah menjadi empat bagian, dan jangan melakukan pertempuran, atau jangan sampai meneteskan darah, kecuali jika sangat terpaksa sekali. 

Zubair bin Awwam ditempatkan di sayap kiri dan diperintahkan memasuki Makkah dari sebelah utara. Khalid bin Walid ditempatkan pada sayap kanan dan diperintahkan memasuki Makkah dari jurusan bawah. Sa'ad bin Ubadah yang memimpin orang Madinah supaya memasuki Makkah dari sebelah barat. Sedang Abu Ubaidah bin Jarrah ditempatkan dalam barisan Muhajirin dan bersama-sama memasuki Makkah dari bagian atas, di kaki Gunung Hind.

 

Ketika pasukan sudah memasuki kota, dari pihak Makkah tidak ada perlawanan, kecuali pasukan Khalid bin Walid yang berhadapan dengan mereka yang tinggal di daerah bagian bawah Makkah. Mereka ini terdiri dari orang-orang Quraisy yang paling keras memusuhi Rasulullah dan yang ikut serta dengan Bani Bakar melanggar Perjanjian Hudaibiyah dengan mengadakan serangan terhadap Khuza'ah.

Mereka tidak mau memenuhi seruan Abu Sufyan. Bahkan mereka telah menyiapkan diri hendak berperang, sementara yang lain juga telah bersiap-siap pula hendak melarikan diri. Mereka dipimpin oleh Shafwan, Suhail dan Ikrimah bin Abu Jahal. Ketika pasukan Khalid datang, mereka menghujaninya dengan serangan panah. Tetapi secepat itu pula Khalid berhasil mencerai-beraikan mereka.

Melihat malapetaka yang kini sedang menimpa mereka ini, Shafwan, Suhail dan Ikrimah cepat-cepat angkat kaki melarikan diri, meninggalkan orang-orang yang tadinya mereka kerahkan untuk menghadapi kekuatan pasukan Khalid.

Rasulullah berhenti di hulu kota Makkah, di hadapan  Bukit Hind. Di tempat itu dibangunnya sebuah kubah (kemah lengkung), tidak jauh dari makam Abu Talib dan Khadijah. Kemudian beliau masuk ke dalam kemah lengkung itu, beristirahat dengan hati penuh rasa syukur kepada Tuhan. 

Saat itu juga terasa oleh beliau bahwa tugasnya sebagai komandan sudah selesai. Tidak lama tinggal dalam kemah itu, beliau segera keluar lagi. Mengendarai untanya, Al-Qashwa, dan meneruskan perjalanan ke Ka'bah. Rasulullah berthawaf di Ka'bah tujuh kali dan menyentuh sudut Hajar Aswad dengan sebatang tongkat di tangan.

Selesai melakukan thawaf, beliau memanggil Utsman bin Talhah untuk membuka pintu Ka'bah. Rasulullah berdiri di depan pintu, orang pun mulai berbondong-bondong datang.

Beliau berkhutbah di hadapan mereka serta membacakan firman Allah: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS Al-Hujuraat: 13)

 

Kemudian Rasulullah bertanya kepada mereka, "Orang-orang Quraisy, menurut pendapat kalian, apa yang akan kuperbuat terhadap kalian sekarang?"

 

"Yang baik-baik. Saudara yang pemurah, sepupu yang pemurah," jawab mereka.

 

"Pergilah kamu sekalian. Kamu sekarang sudah bebas!" kata Rasulullah. Dengan ucapan itu, maka kepada Quraisy dan seluruh penduduk Makkah telah mendapatkan pengampunan.

 

Alangkah indahnya pengampunan itu di kala beliau mampu. Alangkah besarnya jiwa ini, jiwa yang telah melampaui segala kebesaran, melampaui segala rasa dengki dan dendam di hati. Jiwa yang telah dapat menjauhi segala perasaan duniawi, telah mencapai segala yang di atas kemampuan insani.

Orang-orang Quraisy kini dalam genggaman tangan Rasulullah, berada di bawah  telapak kakinya. Perintah beliau akan segera dilaksanakan terhadap mereka. Nyawa mereka semua kini tergantung hanya di ujung bibirnya dan pada wewenangnya atas  ribuan balatentara yang bersenjatakan lengkap, yang akan dapat mengikis habis Makkah dengan seluruh penduduknya dalam sekejap mata. Namun beliau memberikan pengampunan.

sumber : Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal
Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA