Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Sunday, 15 Syawwal 1441 / 07 June 2020

Bentrok Sektarian di Mesir Mulai Disidang

Senin 04 Jul 2011 15:54 WIB

Red: cr01

Gereja Saint Mena, Imbaba, lokasi bentrok sektarian Mesir.

Gereja Saint Mena, Imbaba, lokasi bentrok sektarian Mesir.

Foto: Al-Ahram

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO – Kasus bentrok sektarian antara Muslim dan Kristen Koptik di Mesir Mei lalu, mulai disidang Ahad (3/7) kemarin, di Pengadilan Pidana Giza. 

"Terdakwanya sebanyak 48 orang," kata seorang pejabat pengadilan. Mereka dituduh terlibat dalam bentrokan mematikan Muslim-Kristen pada Mei lalu yang menewaskan 12 orang."

Pengadilan membuat ruangan baru dalam rangka memisahkan terdakwa Muslim dan Kristen. Sementara di luar gedung pengadilan, para keluarga terdakwa menggelar protes yang dikawal ketat aparat keamanan.

Dari 48 terdakwa, yang hadir menjalani sidang hanyalah 28 orang, semantara sisanya masih buron. Para terdakwa yang hadir mengaku tidak bersalah atas dakwaan jaksa yang menuduh mereka terlibat pembunuhan berencana dan menghasut publik hingga memunculkan ketegangan sektarian.

Bentrokan antara Muslim dan Kristen Koptik ini terjadai pada 7 Mei lalu, di lingkungan kelas pekerja Imbaba, sebuah pemukiman sesak bak labirin yang dipenuhi bangunan rumah dan toko. Bentrok berdarah ini menyebabkan 12 orang tewas dan melukai 52 orang lainnya.

Muslim menyerang Gereja Koptik Saint Mena di Imbaba dalam upaya untuk membebaskan seorang wanita Kristen yang mereka duga ditahan di dalamnya, karena hendak masuk Islam. Tak lama kemudian bentrok justru meluas antara Koptik dengan tentara. Mereka menyalahkan militer karena tidak berbuat cukup untuk menghentikan pertempuran.

Sidang ini ditunda hingga 4 September mendatang dengan agenda pemeriksaan para saksi. Pengadilan juga meminta aparat keamanan segera menangkap para terdakwa yang masih buron.




sumber : AFP/Al-Ahram
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA