Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Saturday, 21 Zulhijjah 1442 / 31 July 2021

Tahun Baru Imlek

Daftar Makanan Khas Perayaan Imlek

Selasa 17 Feb 2015 15:01 WIB

Rep: C04/ Red: Ilham

Yusheng, selada khas salah satu menu utama dalam perayaan Imlek atau tahun baru Cina.

Yusheng, selada khas salah satu menu utama dalam perayaan Imlek atau tahun baru Cina.

Foto: LOVE INDONESIA

JAKARTA -- Dalam tradisi Tionghoa, perayaan tahun baru Imlek identik dengan makan bersama. Hal ini memiliki makna sebagai ungkapan kebersamaan dan keutuhan keluarga sehingga makan malam adalah bagian yang paling penting dari perayaan ini.

Setiap makanan yang disajikan pada acara makan bersama saat perayaan tahun baru Imlek memiliki makna dan filosofi masing-masing. Menurut seorang pakar kuliner, Aji Chen Bromokusumo, ada beberapa kuliner yang identik dengan perayaan tahun baru Imlek. Berikut di antaranya:

1. Makanan Pembuka 

Makanan pembuka yang beragam seperti udang mayonnaise, irisan daging sapi, dan ubur-ubur, memiliki makna keunikan. Banyak juga yang biasanya menyantap Telur Pitan atau Thousands Years Egg, telur yang telah difermentasi. Telur ini melambangkan panjang umur dan kesehatan. Biasanya makanan pembuka berupa kombinasi makanan panas dan makanan dingin. 

2. Sup Hipio

Sup hipio yang orisinal menggunakan sirip ikan hiu. Jadi jika sup ini memakai bahan lain selain sirip hiu akan disebut sebagai Hipio palsu.

“Jujur saja, saya sendiri lebih menyukai Sup Hipio palsu dibandingkan pakai sirip hiu asli. Karena menurut saya manusia susah menjaga habitat apalagi sekarang jumlah hiu mulai berkurang,” ungkap Aji.

Bahan yang digunakan untuk pengganti sirip hiu adalah perut ikan atau gelembung renang ikan. Gelembung renang ikan ini memiliki arti ketahanan dan keuletan dalam hidup ketika menghadapi berbagai macam kesulitan, baik dalam kehidupan, bisnis, studi, cinta, dan lain-lain. Sehingga dipercaya dengan memakan sup ini bisa menambahkan ketegaran Anda dalam menghadapi permasalahan.

3. Bebek Panggang

Bebek panggang sendiri tidak memiliki makna tertentu. Tetapi makanan ini tetap dianggap spesial karena tidak disajikan setiap saat di meja makan. Orang Tionghoa hanya menyediakan bebek panggang di momen spesial salah satunya saat tahun baru Imlek.

4. Pindang Bandeng

Aji mengatakan bahwa menu Pindang Bandeng atau Nian Nian You Yu ini hanya bisa ditemukan di Indonesia saja. Menu ini merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa di Indonesia. Makna dari "Nian Nian You Yu" sendiri adalah setiap tahun ada 'sisa', artinya mengharapkan tahun ini memiliki rezeki yang berlebih dan tidak pas-pasan dalam bisnis, karir, dan lain lain. Serta mengharapkan kesejahteraan yang baik dari tahun ke tahun.

5. Ca Rebung

Ca Rebung atau Bu Bu Gao Sheng juga merupakan salah satu makanan yang khas saat perayaan Imlek karena melambangkan hidup dengan semangat yang baru sesuai dengan filosofi tunas bambu yang semakin lama semakin tinggi dan besar. Bu Bu Gao Sheng berarti semakin lama semakin sukses dalam segala aspek kehidupan dan kesehatan.

6. Haisom

Haisom atau timun laut ini mempunyai makna sebuah harapan berlimpahnya rezeki yang banyak dan mendoakan keuletan. Menu ini tidaklah murah dan mudah untuk ditemukan dengan kualitas bagus. Jadi belum tentu di setiap perayaan Imlek akan disediakan Haisom.

“Sekali lagi, ini juga menu yang jarang karena proses pembuatan kuliner ini tidaklah mudah dan juga tidaklah murah. Haisom ketika baru dibeli perlu dibakar terlebih dahulu hingga kulit keras di luarnya mengelupas. Lalu didiamkan 3-4 hari sebelum bisa dimasak,” ulas Aji Chen.

7. Nuomi Fan 

Nuomi Fan atau kue ketan ala Kanton, menyiratkan kebersamaan dan kekompakan dalam keluarga. Oleh karena itu, orang Tionghoa memakan beras ketan yang lengket. Bentuk aslinya adalah seperti kwetiau yang berantakan. Namun ada pula yang menggunakan daun lotus untuk membuat bentuk yang bagus dan juga aroma yang lebih harum.

8. Kue Keranjang Kukus

Salah satu makanan yang harus ada saat tahun baru Imlek adalah Kue Keranjang. Kue Keranjang ini disebut juga dengan Nian Gao. Bentuk aslinya mirip lontong dan tawar rasanya. Namun di Indonesia karena pengaruh lokal, berubah menjadi manis dan cokelat warnanya karena gula yang terkaramelisasi. 

Asal usul dari kue keranjang ini karena dahulu pembuatannya dicetak dalam keranjang-keranjang kecil dari anyaman bambu. Kue keranjang ini melambangkan kebersamaan dan kekompakan keluarga.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA