Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

WHO Tegur Indonesia karena Belum Bebas Demam Keong

Rabu 17 Jan 2018 14:55 WIB

Rep: Ahmad Fikri Noor/ Red: Indira Rezkisari

Menteri Kesehatan Nila Moeloek.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek.

Foto: Republika/Mahmud Muhyidin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengaku Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah menegur Indonesia terkait dengan masalah penyakit Schistosomiasis. Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masih menghadapi penyakit tersebut.

"WHO bahkan menegur kita karena satu-satunya di negara Asean itu hanya di Indonesia," ujar Menkes di Jakarta, Rabu (17/1).

Schistosomiasis atau lebih dikenal masyarakat dengan nama demam keong masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penyakit yang disebabkan oleh cacing Schistosoma Japonicum itu dapat menginfeksi manusia dan hewan mamalia melalui keong perantara.

Keong Oncomelania yang berukuran tidak lebih besar dari bulir padi itu berhabitat di sawah yang tidak digarap, saluran air, dan kebun masyarakat. Di Indonesia, penyakit ini hanya ditemukan di 28 desa di Kabupaten Poso dan Sigi, Sulawesi Tengah.

Demam keong, kata Menkes, bukan penyakit yang baru diketahui. Ia mengaku, sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk mengatasinya.

"Penelitiannya sudah banyak sekali. Saya ingat sekali banyak penelitian dari parasitologi yang kemudian menghasilkan doktor-doktor lewat penelitian Schistosomiasis. Tapi sampai saat ini masih menjadi masalah," ujarnya.

Angka kejadian Schistosomiasis pada manusia rata-rata berada pada kisaran 0,65 hingga 0,97 persen pada 2017. Meski prevalensi kejadian berhasil ditekan hingga di bawah satu persen, angka infeksi pada keong perantara dan hewan ternak relatif masih tinggi. Prevalensi kejadian untuk keong perantara dan hewan ternak masing-masing 1,22 hingga 10,53 persen dan 5,56 hingga 40 persen.

"Prevalensinya masih tinggi di hewan ternak. Binatang bisa menginjak keong yang kecil sekali itu lalu terinfeksi," ujarnya.

Menurut Nila, selama 35 tahun, penanganan pada penyakit tersebut hanya fokus pada manusia. Oleh karena itu, demam keong tak kunjung hilang karena masih terjadi di binatang perantara dan hewan ternak. "Kita perlu mengamati ini secara holistik dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA