Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Deleng Sinabung dalam Ingatan

Senin 20 Jun 2016 15:00 WIB

Red:

Gunung Sinabung di Sumatra Utara masih membutuhkan perhatian semua pihak, baik masyarakat ataupun pemerintah. Sampai sekarang, gunung yang dalam bahasa Karo disebut Deleng Sinabung ini masih terpatri dalam ingatan karena telah merenggut banyak korban dan menyisakan berbagai persoalan.

Sejak September 2013, gunung tersebut hingga saat ini masih belum menunjukkan tanda-tanda berhenti meletus. Suatu waktu, gunung tersebut bisa mengeluarkan lava kembali. Pascabencana dan relokasi, para korban terdampak pun masih belum menemukan tempat layak tinggal.

Kondisi tersebut mengundang kepedulian masyarakat, sehingga beberapa kalangan turut melakukan pengumpulan dana untuk membangun tempat relokasi mereka. Salah satu yang memelopori penggalangan dana adalah alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) di The Terrace, Senayan National Golf Club, Jakarta, Kamis (2/6) malam WIB. Bagi ratusan alumni ITB yang hadir, acara tersebut juga dijadikan ajang reuni berbagai angkatan, mulai 1960-an.

Ratusan orang yang hadir pada malam itu disajikan dengan alunan musik jazz yang dimainkan musisi dari Komunitas Musik ITB dan Ganesha Night. Penampilan band musik tersebut mengawali acara malam solidaritas bertajuk "Ingat Sinabung, Ingat Saudara Kita".

Acara yang diinisiasi Komunitas Alumni ITB Bergerak tersebut diawali dengan penampilan musik jazz. Kemudian, momen tersebut menjadi ajang bertukar pemikiran mengenai Gunung Sinabung. Namun, agar suasana tetap cair, acara dibungkus dengan permainan musik, puisi, dan budaya.

Setelah melantunkan berbagai irama musik, para pembicara dipersilakan maju ke atas panggung. Salah satunya, yaitu Bupati Kabupaten Karo Terkelin Brahmana, Dirjen Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) Budi Situmorang, dan mantan kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono alias Mbah Rono.

Ketika pemandu acara mempertanyakan, mengapa aktivitas vulkanik Gunung Sinabung belum terhenti, berarti ada persoalan besar yang belum terasi. Bupati Karo Terkelin Brahmana yang diberikan kesempatan tampil seketika berbicara dengan bahasa Karo, "Mejuah-juah!" Mejuah-juah berarti mujur, sejahtera, kesehatan, dan kelengkapan. Kata ini merupakan salam khas masyarakat suku Karo yang sering diucapkan dalam acara resmi.

Menurut Terkelin, untuk mengatasi bencana Gunung Sinabung memang diperlukan kesadaran semua pihak. Salah satunya, pemerintah dapat memasang sinyal pemberitahuan kepada masyarakat ketika aktivitas vulkanik meningkat. "Ditambah, dengan perlunya kesadaran masyarakat," ujarnya.

Terkelin menambahkan, dalam menangani korban bencana Sinabung, pemerintah masih membahas terkait lahan yang bisa ditempati para penduduk sekitar. Karena, masyarakat yang berada di sekitar Sinabung sudah tidak diperbolehkan mempunyai rumah. "Kita harapkan, untuk keadaan lahar dingin atau lahar hujan maupun erupsi awan panas, sekiranya terjadi jangan menimpa korban. Itu harapan kita," kata dia.

Dirjen Tata Ruang Kementerian ATR Budi Situmorang mengatakan, saat ini masyarakat Karo masih dihantui dengan meletusnya Gunung Sinabung. Menurut dia, masyarakat masih memerlukan perhatian serius dari pemerintah. "Adakah suatu negara yang membiarkan masyarakatnya terpanggang? Tidak ada," kata Budi.

Budi menyatakan, daerah yang menjadi tempat tinggal korban sebenarnya termasuk red zone, kawasan yang dilarang untuk dimasuki penduduk. Walaupun, lanjut dia, masyarakat sebenarnya tidak masalah memasuki daerah tersebut karena masih bisa menjalani hidup dan bercocok tanam.

"Tapi, yang dilarang adalah mempunyai rumah, nggak boleh rumah. Tapi, kejadian kemarin memberikan pembelajaran kepada kita. Ternyata, awan panas itu tidak bisa kita hindari. Karena mereka sedang bercocok tanam, sehingga ada yang meninggal," jelas alumnus ITB angkatan 1984 tersebut.

Menurut Budi, ke depannya, akan dilakukan beberapa perubahan di kawasan Karo. Ada dua alternatif yang dapat dilakukan. Pertama, bisa diterapkan, seperti di Gunung Merapi, yaitu masyarakat sekitar bisa bercocok tanam, tapi dilarang mempunyai rumah di zona merah. Kedua, yaitu bisa melakukan tukar fungsi.

"Jadi, dari fungsinya sekarang itu pertanian, bisa dikelola menjadi kita konservasi, kita proteksi, jadi kayak hutan lindung, sehingga tidak boleh masyarakat bercocok tanam," ucapnya.

Budi mengatakan, semua masyarakat yang berada di radius kilometer nantinya akan dipindahkan. Dengan catatan, kata dia, pemerintah dapat memfasilitasi untuk menyosialisasikan kebijakan itu ke masyarakat. "Ini rencana yang cukup aman, tapi cuckup besar. Dampaknya juga kalau salah sosialisasi juga ditolak."

Menurut Budi, sebenarnya semua pihak saat ini masih mempelajari keadaan Gunung Sinabung. Itu lantaran bencana Gunung Sinabung terbilang masih baru. Sementara, Gunung Merapi sudah bertahun-tahun dipelajari. Setelah meletus, kata dia, Gunung Merapi biasa akan istirahat selama dua tahun atau lebih, sehingga masyarakat masih bisa bercocok tanam.

"Nah ini kemarin (letusan terakhir) yang ternyata kita bikin (menanam), ternyata keluar lagi. Sementara, 100 kepala keluarga sudah kerja di sana. Dia lari secepat apa pun, ya tinggal berdoa," jelas Budi.

Mantan kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono mengatakan, kondisi Gunung Sinabung saat ini memiliki risiko tinggi terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Menurut dia, masyarakat dilarang mendirikan hunian di area lima kilometer dari puncak gunung. Kalau tetap dibiarkan, hal itu bisa berbahaya.

Surono mengamati, saat Sinabung meletus, sebenarnya gunung tersebut meniru gaya Gunung Merapi karena sama-sama mengeluarkan awan panas. Awan panas tersebut, kata dia, tidak mungkin dapat dihindari masyarakat. "Saran saya satu, berdoa dengan khusyuk, karena percuma. Sebab, kecepatan awan panas 300 kilometer per jam," jelasnya.

Surono menyinggung dengan nasib para korban Sinabung yang sudah terlalu lama berada di pengungsian. Sehingga, kalau tetap dibiarkan dapat menimbulkan persoalan bagi banyak pihak. "Letusan Sinabung itu awan panasnya belum keluar lebih dari lima kilometer. Kalau Merapi kan sampai 15-20 kilometer kan."

Menurut Surono, berbeda dengan Gunung Kelud, sekali meletus seluruh bandara di Pulau Jawa seketika lumpuh. Sehingga, jika dibandingkan Gunung Merapi dan Kelud, Sinabung letusannya dalam skala kecil. "Tapi kan yang namanya bencana tidak ada kaitannya dengan besar kecilnya letusan," ucapnya.

Surono mengatakan, jika letusannya besar, tapi mayarakatnya paham dan mengerti cara mengantisipasinya tentu dapat meminimalisasi adanya korban nyawa. Sementara, kata dia, walaupun letusannya kecil, tapi masyarakatnya tidak terbiasa, dapat menimbulkan banyak korban yang berjatuhan.    Oleh Muhyiddin, ed: Erik Purnama Putra

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA