Selasa 26 Apr 2016 17:00 WIB

Bogor Butuh Penyuluh Pertanian

Red:

BOGOR -- Kabupaten Bogor menyambut baik peluncuran program rintisan (startup) industri benih padi Institut Pertanian Bogor (IPB) 3S. Meskipun diharapkan bisa memenuhi kebutuhan petani di Kabupaten Bogor, ada upaya pendukung lainnya yang dibutuhkan agar penanaman benih maksimal.

"Tidak hanya kebutuhan petani, namun kendalanya dalam sosialisasi oleh penyuluh pertanian," kata Bupati Kabupaten Bogor Nurhayanti saat peluncuran benih di Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Senin (25/4).

Nurhayanti menjelaskan, di Kabupaten Bogor ada 40 kecamatan dan 494 desa. Namun, penyuluh pertanian hanya ada di setiap kecamatan.

Idealnya, kata Nurhayanti, penyuluh pertanian ada di setiap desa sehingga inovasi pertanian dapat disosialisasikan secara maksimal. "Mudah-mudahan selanjutnya bisa disosialisasikan, penyuluh pertanian memang berkurang, tapi kami akan kembangkan yang berbasis masyarakat," kata dia menjelaskan.

Nurhayanti juga berharap, benih padi IPB 3S bisa meningkatkan produksi dan penambahan lahan pertanian di Kabupaten Bogor. Apalagi, lanjut dia, daerah Tanjungsari termasuk wilayah lumbung padi di Kabupaten Bogor.

Benih padi IPB 3S diluncurkan untuk mendukung swasembada pangan nasional. Program peluncuran benih tersebut dikembangkan oleh Departemen Argonomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB dan didukung Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI.

Padi IPB 3S

Sementara itu, Kemenristekdikti bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) meluncurkan program rintisan industri benih IPB 3S. Peluncuran benih tersebut dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia. "Program ini tak hanya untuk swasembada pangan nasional, namun penting di dalamnya untuk mengedukasi masyarakat," kata Menristekdikti Mohamad Nasir saat peluncuran benih di Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Senin (25/4).

Nasir menjelaskan, benih IPB 3S merupakan salah satu inovasi teknologi yang dikembangkan dalam penanaman padi. Meskipun benih tersebut dikatakan bagus, ia berpendapat, masalah bisa muncul ketika masyarakat terutama para petani menerima inovasi baru. "Makanya ini penanaman benih IPB 3S untuk mendapatkan bibit baru juga harus terus berdampingan dengan peneliti," katanya menjelaskan.

Nasir beranggapan, agar masyarakat bisa percaya benih tersebut bisa mempunyai nilai tambah yang baik, harus dimediasi dengan maksimal. Sebab, sambung dia, benih tersebut sudah diperkenalkan pada 2012 di Aceh dan tempat lainnya serta sudah memiliki nilai tambah bagi petani.

Selain mengenai riset benih tersebut, Nasir juga meminta adanya upaya maksimal terhadap pengelolaan hasil pertanian. Biasanya, ia mengingatkan, saat panen ada kerugian, apalagi saat musim hujan. "Bila perlu ke depannya harus ada studi yang menjurus ke sana," kata dia.

Hingga saat ini, varietas IPB 3S mampu mencatatkan produktivitas 8,5 ton gabah kering giling (GKG) per hektare. Produktivitas ini sudah lebih tinggi tiga ton dari rata-rata produksi beras biasa, yaitu 5-6 ton GKG per hektare. Meskipun ditanam selama musim kemarau, hasil panen terbukti tetap tinggi karena sifat unggul padi varietas ini tidak butuh banyak air.   c32, ed: Endro Yuwanto

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement