Sunday, 28 Syawwal 1443 / 29 May 2022

Pilihan Grha Wiyata Yudha

Jumat 29 May 2015 16:00 WIB

Red:

Tatapan mata tertuju ke arah podium. Itulah yang dilakukan para perwira siswa (pasis) yang mayoritas berpangkat mayor. Dalam posisi duduk tegak, mereka konsentrasi mendengarkan pengarahan. Di atas podium berdiri seorang jenderal bintang empat dengan postur gempal, berkulit sawo matang, dan potongan rambut model 3-2-1 cm atau cukur ala militer.

Menggunakan pakaian dinas upacara (PDU) lengan pendek warna hijau tua. Pakaian model safari yang dilengkapi tali pinggang kain di bagian perut bagi tentara laki-laki itu, dikenal sebagai PDU IV. Ya, Jenderal Gatot Nurmantyo (55 tahun), tampil gagah di hadapan 300 perwira menengah yang mengikuti upacara pembukaan pendidikan reguler ke 53, Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad), di Bandung, pertengahan Januari 2015 lalu.

Gedung Prof Dr Satrio di Kompleks Seskoad menjadi saksi ketika Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu memberikan penegasan dalam pengarahannnya di tempat itu. "Kamu berada di sini bukan untuk dididik menjadi perwira biasa, melainkan menjadi perwira luar biasa. Hanya perwira terpilih yang bisa mengikuti pendidikan di sini. Kamu harus menjadi perwira yang tangguh dan bisa memimpin."

Sebagai inspektur upacara, Gatot memang tidak berlebihan. Sebab, tidak ada gunanya mengikuti pendidikan jika tidak menghasilkan perwira yang tangguh dan bisa memimpin. Perwira luar biasa! Itulah yang hendak dicetak lembaga pendidikan tertinggi Angkatan Darat yang kini dipimpin Mayor Jenderal Agung Risdhianto (54 tahun). Seskoad kerap disebut juga sebagai sekolah untuk menjadi jenderal.

Menjadi jenderal, tidak cukup hanya mengandalkan otot atau kekuatan, tetapi juga otak atau kecerdasan dan memiliki mental kepemimpinan yang tangguh. Pendidikan pembentukan perwira, baik melalui akademi militer, sekolah perwira prajurit karier, atau sekolah calon perwira, pada awalnya memang diarahkan untuk menjadi pemimpin dari unit terkecil atau komandan peleton. Selanjutnya, diarahkan menjadi komandan kompi di satuan lapangan atau yang setingkat di bagian staf. Namun kemudian, setelah mencapai tingkat Seskoad, seorang perwira diarahkan untuk memiliki kemampuan staf dan komando pada level yang lebih tinggi. Mulai dari tingkat batalion, resimen atau brigade, hingga divisi.

Menjasi perwira siswa Seskoad memang spesial bagi para perwira. Bahkan, hanya segelintir perwira lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil) peraih adhimakayasa atau trisakti wiratama yang bisa menjadi lulusan terbaik Seskoad. Dalam 64 tahun sejarah Seskoad, hanya tujuh orang yang mampu meraih dua penghargaan tertinggi sekaligus.

Mereka adalah Jenderal Kehormatan (Purnawirawan) Susilo Bambang Yudhoyono (Akmil 1973, Seskoad 1989), Jenderal (Purnawirawan) Budiman (Akmil 1978, Seskoad 1994), dan Jenderal Moeldoko (Akmil 1981, Seskoad 1995). Butuh waktu hingga 10 tahun, prestasi serupa baru bisa disamai, oleh Kolonel Kavaleri Eko Susetyo (Akmil 1991, Seskoad 2005) dan Kolonel Infanteri Bambang Trisnohadi (Akmil 1993, Seskoad 2008).

Selanjutnya diteruskan oleh Letkol Infanteri Lucky Avianto (Akmil 1996, Seskoad 2011). Kemudian, ditorehkan pula oleh Letkol Infanteri Dwi Sasongko (Akmil 1998, Seskoad  2012). Itulah tujuh orang spesialis yang dihasilkan oleh Akmil dan Seskoad.

Ironi

Bukan cuma itu. Hingga kini, baru empat alumni terbaik Seskoad yang meraih jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Keempatnya adalah Jenderal (Purnawirawan) Maraden Panggabean (Seskoad 1963), Jenderal (Purnawirawan) Wiranto (Seskoad 1984), Jenderal (Purnawirawan) Budiman, dan Jenderal Moeldoko. Dari keempat orang itu, kecuali Budiman, ketiganya kemudian mendapatkan promosi sebagai Panglima ABRI/TNI.

Ironisnya, tidak ada lulusan terbaik Akmil yang dipercaya menjadi komandan Seskoad. Sementara, hanya dua orang lulusan terbaik Seskoad yang dipercaya menjadi komandan Seskoad. Mereka adalah Letjen (Purnawirawan) Syarifuddin Tippe, lulusan terbaik Seskoad 1990 dan menjadi komandan Seskoad pada 2003-2006. Sedangkan Mayjen (Purnawirawan) Hotma Marbun, lulusan terbaik Seskoad 1993, menjadi komandan Seskoad 2007-2008.

"Yang terpilih menjadi Komandan Seskoad pastilah perwira cerdas di atas rata-rata. Walau mungkin mereka bukan lulusan terbaik saat menjadi perwira siswa. Tetapi, merekalah yang terbaik dibandingkan perwira tinggi lainnya untuk menjadi komandan sekolah," ujar Jenderal Rudini, Kepala Staf Angkatan Darat, ketika melantik Mayor Jenderal Theo Soemantri menjadi komandan ke-15 Seskoad menggantikan Mayor Jenderal Bagus Sumitro, awal Juni 1983.

Sejak saat itulah secara normal, Komandan Seskoad dipegang abituren atau lulusan akademi militer. Komandan ke-14, Mayjen Bagus Sumitro, lulusan Akademi Militer Yogyakarta pada 1949, dari kecabangan infanteri. Sedangkan Mayjen Theo Soemantri, abituren Akademi Militer Breda, Belanda, pada 1955, dari kecabangan artileri pertahanan udara. Theo teman seangkatan Rudini di Akmil Breda. Namun, Rudini dari kecabangan infanteri.

Beberapa waktu kemudian, Wakil KSAD Letnan Jenderal Bambang Triantoro juga mengunjungi Seskoad sekaligus untuk reuni. Sebab, Bambang pernah menjadi komandan ke-13 Seskoad dan digantikan Bagus Sumitro. Bambang mengawali karier militer saat bergabung menjadi Tentara Genie (Zeni) Pelajar (TGP) Brigade XVII. Ia berasal dari kecabangan peralatan.

Setelah abituren Akmil Yogyakarta dan Akmil Breda menjadi Komandan Seskoad, selanjutnya Akmil Jurusan Teknik (Jurtek) atau disebut juga Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) Bandung pun mendapatkan kesempatan yang sama. Mayjen Darwanto, abituren Akmil Jurtek 1959, menjadi Komandan Seskoad ke-16 pada awal Maret 1986. Ia berasal dari kecabangan zeni. Darwanto teman seangkatan Jenderal Try Sutrisno yang saat itu menjadi KSAD.

Setelah itu, giliran abituren Akmil Magelang 1961, Mayjen Feisal Tanjung, dari kecabangan infanteri. Ia menggantikan Mayjen Darwanto pada medio Maret 1988. Hal yang menarik, Feisal Tanjung bukan lulusan Seskoad Bandung, melainkan Seskoad di Jerman Barat. Ia juga tercatat sebagai komandan Seskoad yang kelak menduduki jabatan tertinggi, sebagai Panglima ABRI pada 1993-1998. Setelah era Tanjung dan seterusnya hingga Mayjen Agung Risdhianto, semuanya berasal dari Akmil Magelang.

Tidak mulus

Adapun komandan pertama dan ketiga Seskoad, Ahmad Junus Mokoginta, juga bekas kadet akademi militer Kerajaan Belanda di Bandung, yakni Koninklijke Militaire Academie (KMA). Ia teman seangkatan AH Nasution, TB Simatupang, dan AE Kawilarang.

Produk lulusan Belanda lainnya pun pernah menjadi Komandan Seskoad, yakni GPH Djatikusumo. Komandan kedua Seskoad itu lulusan CORO (Corps Opleiding Reserve Officeren) atau Korps Pendidikan Perwira Cadangan Militer Kerajaan Belanda di Jakarta pada 1940. Begitu juga dengan komandan ketujuh Seskoad, Soewarto, adalah kadet CORO, tapi tidak tamat.

Selebihnya, seperti komandan keempat, Abdul Latief Hendraningrat; komandan kelima, Suadi Suromihardjo; komandan keenam, Sudirman; komandan kedelapan, Safiudin Tjakradipura; komandan kesembilan, R Kartidjo; komandan ke-10, Soetanto Wiryoprasonto, dan komandan ke-12, EWP Tambunan, merupakan lulusan sekolah Pembela Tanah Air (PETA) hasil didikan tentara Jepang.  

Sementara komandan ke-11, Yogi Supardi, merupakan abituren Akmil Yogyakarta 1948 dari kecabangan artileri medan. Jadi, berbeda dengan organisasi lainnya, termasuk Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Seskoad menjadi organisasi yang lebih terbuka karena pernah dipimpin oleh berbagai lulusan akademi militer, bahkan dipimpin oleh lebih banyak perwira multi korps. Mulai dari infanteri, zeni, artileri medan, artileri pertahanan udara, peralatan, dan kavaleri. Lulusan terbaiknya juga multikorps.

Memang infanteri sebagai satuan tempur mendominasi lulusan terbaik. Namun, perwira siswa dari korps lainnya juga membuktikan diri bisa menjadi yang terbaik dalam kursus reguler. Tercatat dari satuan bantuan tempur: zeni, artileri medan, artileri pertahanan udara, kavaleri, perhubungan, dan peralatan. Serta dari satuan bantuan administrasi: ajudan jenderal, kesehatan militer, dan polisi militer.

Selain itu, di era modern, lulusan terbaik pun bisa diraih oleh perwira yang berasal dari sekolah perwira prajurit karier (sepa PK) atau wajib militer. Kurdi Mustofa, lulusan sepa PK 1981 dari kecabangan ajudan jenderal, mampu mengungguli perwira lulusan akademi militer pada kursus regular Seskoad 1996. Begitu juga dengan Vicktor P Tobing, sepa PK 1985 dari kecabangan perhubungan menjadi yang terbaik pada pendidikan reguler Seskoad 2002. 

Jika mengamati alih generasi para komandan sekolah tertinggi di lingkungan Angkatan Darat itu, terlihat begitu mulus pada awalnya. Setidaknya setelah era profesional dan modern, sejak dipimpin lulusan akademi militer. Sejak era Bagus Sumitro, abituren Akmil 1949, hingga Agus Wirahadikusuma, abituren Akmil 1973/infanteri, regenerasi kepemimpinan berlangsung dengan normal. Artinya, senior digantikan juniornya.

Namun setelah itu, pada era reformasi, justru alurnya terlihat zig-zag. Senior digantikan junior, junior digantikan senior. Contoh; Agus Wirahadikusuma (1998-1999) digantikan seniornya Djoko Besariman, Akmil 1970 /zeni (1999-2000). Begitu juga Bibit Waluyo, Akmil 1972 /infanteri (2000-2001) digantikan Suadi Atma, Akmil 1970 /infanteri (2001-2002). Juga ketika Hotma Marbun, Akmil 1977/infanteri (2007-2008) digantikan Bambang Suranto, Akmil 1974/infanteri (2008-2010).

Dengan kondisi alih generasi yang tidak mulus tersebut, terlihat Angkatan Darat justru kurang berhasil menata organisasinya di lembaga pendidikan. Padahal, lembaga pendidikan merupakan contoh bagaimana seharusnya regenerasi kepemimpinan berlangsung secara alamiah dan normal. Akibatnya, ada tiga abituren Akmil 1970 yang menjadi komandan Seskoad: Affandi (1997-1998), Djoko Besariman (1999-2000), dan Suadi Atma (2001-2002).

Ada dua abituren Akmil 1975, yakni: Syarifudin Tippe /zeni (2003-2006) dan Markus Kusnowo /infanteri (2010). Kemudian ada dua Akmil 1977, yakni: Hotma Marbun (2007-2008) dan Nanang Djuana Priadi/infanteri (2010-2011).

Kondisi tersebut, bisa disebabkan perubahan usia pensiun perwira TNI dari sebelumnya 55 tahun, menjadi 58 tahun, seperti tertuang dalam pasal 75 Undang-Undang No 34 Tahun 2004 tentang TNI. Atau ada unsur politis mengingat saat itu baru saja terjadi pergantian kepemimpinan nasional. Dalam kurun waktu 1998 hingga 2004, atau enam tahun, terjadi lima kali pergantian pemimpin nasional, mulai Soeharto (1998), BJ Habibie (1998-1999), Abdurrahman Wahid (1999-2002), Megawati (2002-2004), dan selanjutnya Susilo Bambang Yudhoyono, sejak 2004.

Barulah setelah era Nanang, kembali normal. Nanang digantikan juniornya, Burhanuddin Siagian, Akmil 1980/kavaleri (2011-2013). Kemudian Arief Rachman, Akmil 1984/infanteri (Mei-Desember 2013) digantikan Agung Risdhianto, Akmil 1985/infanteri, Desember 2013 hingga kini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA