Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Monday, 20 Zulhijjah 1441 / 10 August 2020

Tarekat Spirit Perlawanan Kolonial

Kamis 12 Feb 2015 16:00 WIB

Red:

''Kamu adalah seorang sufi!'' Pernyataan ini ditegaskan Kiai Maja kepada Pangeran Diponegoro ketika mereka berjuang melakukan perang terhadap kolonial Belanda. Sejarawan Inggris Peter Carey mengulangi kembali ketika ditanya soal hubungan kekuatan spiritual Diponegoro yang ternyata juga sebagai pengikut tarekat Satariyah atau seorang sufi.

Memang di benak banyak orang, masih banyak menganggap praktik dan pemikiran pengikut tarekat itu jumud (terbelakang dan tak maju-maju). Bahkan, sempat dituduh pula sebagai kumpulan orang yang tak revolusioner, tak berani berjuang, dan hanya sibuk dengan dirinya "mengejar" surga untuk dirinya sendiri.

Akan tetapi, apa kenyataannya? Jawabnya, berbalik total 180 derajat. Pengikut tarekat, dalam hal ini tarekat Satariyah, justru merupakan mesin penggerak perlawanan terhadap kolonial. Ini sudah dibuktikan di Afrika Utara dalam perlawanan dengan kolonial Inggris dan Spanyol, juga di India, dan termasuk juga di Indonesia. Salah satu contohnya nyatanya adalah Perang Diponegoro yang merupakan perlawanan paling menikam dan berdarah rakyat Jawa terhadap Belanda.

                    *****

Namun, selain menjalankan praktik ritual keagamaan, sebenarnya tarekat itu merupakan sebuah jaringan organisasi sosial yang liat. Pada masa kolonial dulu (rubrik "Kazanah" Republika tujuh tahun silam) sudah mengurai betapa tarekat pun telah tampil sebagai sebuah gerakan perlawanan untuk memerangi penjajah.

Tarekat dalam tasawuf berarti jalan menuju Allah SWT untuk meraih ridha-Nya dengan menaati segala ajaran-Nya. Sebagai sebuah organisasi tempat berkumpulnya orang-orang yang berupaya untuk mengikuti kehidupan tasawuf, tarekat tak cuma menjalankan ritual-ritual kegiatan keagamaan. Kehadiran tarekat tak serta-merta menjadikan salik (pengikutnya) meninggalkan kehidupan duniawi.

Tarekat-tarekat yang menjalankan tasawuf pun memiliki peran yang cukup besar dalam beragam kegiatan, seperti sosial, ekonomi, pendidikan, hingga politik. Sebagai sebuah jejaring sosial yang mampu menjangkau wilayah yang begitu luas, tarekat pun tercatat telah melakukan gerakan perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat Muslim.

Pada masa kolonial dulu, tarekat pun tampil sebagai sebuah gerakan perlawanan untuk memerangi penjajah. Sejarah mencatat, ada sejumlah gerakan perlawanan besar yang dilakukan para tokoh tarekat dan pengikutnya di nusantara terhadap Belanda. Menurut Prof Azyumardi Azra dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, respons Muslim pribumi terhadap penjajah Belanda terbagi menjadi dua.

‘’Ada yang melakukan perlawanan secara terbuka dan ada pula yang melakukan perlawanan secara diam-diam,’’ tutur Azyumardi. Para ulama dan pengikutnya yang melakukan perlawanan secara diam melakukan uzlah atau menjauhkan diri dari penguasa kolonialis kafir. Uzlah para ulama itulah yang kemudian telah mendorong terjadinya radikalisasi tarekat dan tasawuf.

Gerakan Reformis Paderi di Minangkabau yang kemudian menjadi perang antikolonialisme, salah satunya dimotori tarekat tasawuf yang berkembang waktu itu. Menurut Azyumardi, gerakan radikalisasi tarekat terus mendapatkan momentum sepanjang abad ke-19. Peran tarekat dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan juga tampak menonjol dalam Perang Diponegoro (1825-1830).

Dalam pertempuran itu, Pangeran Diponegoro disokong para kiai, haji, dan kalangan pesantren. Dalam perjuangan yang dilakukan Diponegoro, Kiai Maja pun tampil sebagai pemimpin spiritual pemberontakan tersebut. Untuk menarik dukukan dari pondok pesantren, tokoh agama, dan pengikut tarekat, Pangeran Diponegoro menyebut pemberontakannya sebagai perang suci atau perang sabil.

Tak heran, jika kemudian para pengikut tarekat dan umat Islam lainnya pada waktu itu meyakini pemberontakan Diponegoro itu sebagai perang suci untuk mengembalikan pemerintahan Islam di Jawa. Perang itu pun digaungkan Diponegoro untuk mengusir kolonial Belanda yang tak beriman dari tanah Jawa.

Martin van Bruinessen dalam tulisannya "Tarekat dan Politik: Amalan untuk Dunia atau Akhirat?" juga mengungkapkan peran dan perjuangan tokoh dan pengikut tarekat dalam melawan Belanda. Peran tarekat yang tak kalah pentingnya dalam perlawanan penjajah Belanda juga dilakukan tarekat Sammaniyah di Palembang dalam Perang Menteng. Perjuangan para tokoh dan pengikut tarekat itu berhasil mengalahkan gempuran pertama pasukan Belanda pada 1819.

Seorang penyair Melayu menggambarkan bagaimana kaum putihan atau haji mempersiapkan diri untuk berjihad fi sabillillah. Mereka membaca asma (al-Malik, al-Jabbar), berzikir dan beratib dengan suara keras sampai "fana". Dalam keadaan tak sadar ("mabuk zikir") mereka menyerang tentara Belanda. Mereka berani mati, mungkin juga merasa kebal lantaran amalan tadi dan dibalut semangat serta keberanian, mereka berhasil membuat Belanda kocar-kacir.

Menurut Bruinessen, tarekat Sammaniyah yang berkembang di Palembang dibawa dari tanah suci oleh murid-murid Abdussamad al-Palimbani pada pengujung abad ke-18. Syekh Abdussamad dikenal, terutama sebagai pengarang syair Al-Salikin dan Hidayat Al-Salikin, dua karya sastra tasawuf Melayu yang penting. Dua karya ini berdasarkan Ihya dan Bidayat Al-Hidayah-nya Ghazali, dengan tambahan bahan dari berbagai kitab tasawuf lainnya.

Syekh Abdussamad, papar Bruinessen, adalah seorang sufi yang tidak mengabaikan urusan dunia, bahkan mungkin boleh disebut militan. Tidak mengherankan kalau murid-muridnya yang ahli tarekat juga siap untuk berjihad fisik. ‘’Meski begitu, Syekh Abdussamad bukanlah ahli tarekat Indonesia pertama yang bersemangat jihad melawan penjajah non-Muslim,’’ tutur Bruinessen.

Satu abad sebelum tarekat Sammaniyah yang dipimpin Syekh Abdussamad melakukan gerakan perlawanan terhadap Belanda, Syekh Yusuf Makassar yang bergelar "al-Taj al-Khalwati" telah melakukan hal yang sama. Di Banten, Syekh Yusuf dengan memimpin 5.000 pasukan dan 1.000 di antaranya berasal dari Makassar telah mengobarkan perang terhadap kolonial kafir.

Bahkan, ketika dibuang ke Srilanka pun, Syekh Yusuf terus mengobarkan semangat perlawanan lewat karya-karyanya kepada para sultan dan pengikutnya di Gowa dan Banten. Sebagai seorang sufi, Syekh Yusuf pun telah ikut terjun ke dunia politik saat itu dengan menjadi penasihat Sultan Ageng Tirtayasa.

Selain itu, sejarah juga mencatat banyak lagi gerakan pemberontakan melawan penjajah Belanda yang dimotori tarekat, seperti pemberontakan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (1859-1862), kasus Haji Rifa’i (Ripangi) dari Kalisasak (1859), Peristiwa Cianjur-Sukabumi (1885), Pemberontakan Petani Cilegon-Banten (1888), Gerakan Petani Samin (1890-1917), dan Peristiwa Garut (1919).

Pemberontakan di Banjarmasin dipimpin tuan guru yang mengajarkan amalan "Beratif Baamal",  suatu varian amalan tarekat Sammaniyah. Konon, orang berbondong-bondong datang dibaiat, mereka berzikir dan membaca ratib sampai tidak sadar lagi dan kemudian menyerang tentara kolonial tanpa memedulikan bahaya.

Gerakan Beratif Baamal ini meliputi hampir seluruh seluruh Banua Lima dan wilayah yang sekarang menjadi daerah Hulu Sungai Tengah dan Utara, Kalimantan Selatan, dengan pusat kegiatan di masjid dan langgar. Pimpinan dari gerakan ini kaum ulama yang disebut dengan "tuan guru".

Menurut Azyumardi, tarekat yang paling ditakuti Belanda saat itu adalah tarekat Qadariyah dan tarekat Naqsabandiyah. Kekhawatiran Belanda terhadap gerakan yang dimotori tarekat memang sangat beralasan. Sebab, begitu banyak perlawanan dan gerakan menentang penjajahan yang dipimpin tokoh tarekat atau pengikut tarekat tertentu. ‘’Karena itulah, tarekat mendapatkan pengawasan khusus dari Belanda.’’

Tak hanya di Indonesia, perlawanan para pengikut tarekat juga terjadi di Afrika. Bahkan, gerakan ini mampu melahirkan Negara Libya. Tarekat Sanusiyah yang dipimpin Syekh Muhammad al-Sanusi al-Kabir dan putranya al-Mahdi mampu menjadi jaring pemersatu Libya bisa meraih kemerdekaan.

                    *****

Lalu, bagaimana dengan Diponegoro? Menurut Pater Carey dalam bukunya, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1750), semenjak remaja Diponegoro sudah akrab dengan kitab kuning yang kini lazim diajarkan di pesantren. Kitab Tuhfah yang berisi ajaran sufisme tentang tujuh tahap "eksistensi" menjadi favoritnya. Kitab ini dijadikan perenungan tentang Tuhan dan posisi manusia. Dia juga akrab dengan kitab ushul dan tasawuf serta juga syair-syair mistis Jawa, seperti "Suluk", sejarah para nabi (Serat Annabiyya), dan tafsir Alquran.

Bidang lain yang juga mendapat perhatian khusus Diponegoro adalah kitab Taqrib, Lubabal-fiqh, Muharrar, dan Taqarrub (komentar tentang Taqrib). Bahkan, dia di kemudian hari mengatakan bangga atas koleksi buku-buku "Islam Jawa"-nya yang disimpan di Jogja selama Perang Jawa. Dan, itulah juga yang menjelaskan mengapa Diponegoro sangat kritis terhadap reformasi hukum 1812 yang diberlakukan oleh Pemerintah Inggris.

''Ada beberapa kutipan di Babad Diponegoro banyak bicara soal tarekat, seperti membahas soal syariat, hakikat, dan makrifat. Diponegoro dalam tulisannya ini banyak bicara soal jalan mistis kaum sufi itu. Maka, dari spiritualnya Diponegoro memang pasti terpengaruh ajaran tarekat,'' ujar Carey menegaskan (lihat wawancara dengan Peter Carey). n muhammad subarkah

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA