Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

Jumat, 19 Safar 1441 / 18 Oktober 2019

BMT Dorong Masyarakat Menabung

Senin 07 Jul 2014 17:00 WIB

Red: operator

YOGYAKARTA -- Baitul mal wat tamwil (BMT) dapat menggerakan masyarakat kecil untuk menabung. Meskipun, tabungannya tidak sebesar kalangan menengah atas.

Selama ini, kata Ahli Keuangan Mikro Islam Indonesia Saat Suharto Amjad, masyarakat menabung tidak dalam bentuk uang. Tapi, berwujud hewan ternak, perhiasan, tanah, dan lain-lain.

"Agar masyarakat kecil mau menabung, BMT harus melakukan jemput bola," kata Saat Suharto Amjad dalam seminar bulanan Dashboard Ekonomi Kerakyatan (DEK) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Jumat (4/7).

Adanya tabungan ini membuat BMT dapat memberikan pembiayaan bagi nasabah yang membutuhkan. "Dana yang ada di BMT 90 persen dari masyarakat," kata Saat.

Saat ini, kata Saat, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang dibiayai BMT banyak yang dikelola para sarjana. Sehingga, kondisi UMKM dapat diajak untuk “berlari” dalam meningkatkan volume usahanya. “BMT dilahirkan oleh orang-orang dengan visi misi serta kepentingan yang sama. Yaitu, pertama, orang yang memiliki keinginan kuat melakukan perbaikan taraf hidup komunitas masyarakat di sekitar BMT. Kedua, merindukan berseminya sistem ekonomi syariah," katanya.

Dalam kesempatan sebelumnya, Saat mengemukakan, meski dukungan pemerintah belum cukup optimal terhadap gerakan koperasi, nyatanya banyak koperasi yang berkembang dengan baik. Seperti, Koperasi Simpan Pinjam atau Koperasi Jasa Keuangan, termasuk yang berbasis syariah atau dikenal dengan BMT. "Karena itu, saat menilai koperasi, termasuk di dalamnya BMT, harus didudukkan sebagai soko guru atau pilar utama ekonomi Indonesia," ujar Saat Suharto Amjad di Jakarta, Kamis (12/6).

Alasannya, selain merupakan bagian demokrasi ekonomi, tiga asas koperasi kini menjadi kiblat para pelaku ekonomi dunia. Mereka menyadari bahwa prinsip-prinsip kebersamaan, kegotongroyongan, dan kekeluargaan adalah esensi utama perekonomian. "Persaingan usaha liberal yang telah dipraktikkan para pelaku kapital terbukti membawa resesi ekonomi berkepanjangan," tuturnya. rep:heri purwata  ed: irwan kelana

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA