Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Wednesday, 23 Syawwal 1440 / 26 June 2019

Sengketa Pemilik Televisi

Perseteruan TPI dan MNC Berlanjut

Rabu 15 Jan 2014 08:11 WIB

Red: Zaky Al Hamzah

MNC TV

MNC TV

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Perseteruan yang terjadi dengan perusahaan milik Siti Hardianti Rukmana (Tutut), PT Cipta Televisi Pendidkan Indonesia (CTPI), membuat pergerakan saham Grup MNC fluktuatif. Pada perdagangan Senin (13/1), saham PT Media Nusantara citra Tbk (MNCN) ditutup melemah.

Saham perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo ini turun lima poin atau 0,2 persen ke level 2.505. Saham perseroan bergerak fluktuatif dan sempat mencapai posisi tertinggi di level 2.525 dan posisi terendah 2.500.

Analis Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, kasus yang menimpa Grup MNC ini akan mengganggu pergerakan saham perseroan karena memberikan sentimen negatif kepada pasar. “Pergerakannya akan variatif, bahkan cenderung melemah kalau belum ada kejelasan soal masalah TPI,” kata Reza kepada Republika, Senin (13/1).

Untuk itu, Grup MNC perlu melakukan penyelesaian terhadap masalah TPI atau yang kini bernama MNC TV. MNC juga perlu membeberkan seberapa besar kontribusi TPI terhadap pendapatan dan laba perseroan. Reza menilai TPI memberikan kontribusi cukup besar meskipun tidak sebesar stasiun TV milik MNC lain, seperti RCTI dan Global TV.

Namun demikian, TPI cukup memberikan keuntungan bila dibandingkan media lain milik perseroan. Jika MNC kehilangan TPI, hal ini akan berdampak pada kinerja perusahaan secara keseluruhan. Kinerja dan aset Grup MNC akan merosot dan labanya tergerus.

Sebelumnya dilaporkan, sejumlah orang mendatangi kantor MNC TV di Taman Mini, Jakarta Timur. Awalnya manajemen MNC TV mengira orang-orang tersebut ingin bertamu. Namun ternyata, ketika dipersilakan masuk, mereka mengaku berasal dari PT CTPI.

Dalam keterangan persnya, MNC TV mengatakan, MNCN merupakan pemegang saham mayoritas MNC TV, yaitu sebesar 70 persen. “Sampai saat ini, MNCN tidak pernah digugat di pengadilan manapun atau sebagai pihak yang bersengketa sehingga jika ada masalah yang terjadi dengan pihak lain, bukan menjadi masalah MNCN,” katanya.

MNC masuk ke TPI pada 2002 ketika stasiun televisi terancam pailit karena terbelit utang sebanyak 55 juta dolar AS. MNC kemudian melakukan perjanjian dengan Mbak Tutut yang sepakat bila semua utang tersebut diambil alih MNC.

MNC juga menambah modal agar kinerja TPI membaik. Sebagai imbalannya, Mbak Tutut memberikan 75 persen sahamnya di TPI kepada MNC dan menjadi pengendali penuh operasional perusahaan tersebut. Namun, belakangan, Mbak Tutut menuntut kembali saham tersebut dan membatalkan perjanjian. n friska yolandha ed: fitria andayani

Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA