Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Daya Tarik Balet

Senin 30 Jan 2017 17:00 WIB

Red:

Clara Clarissa dan Lineya Mayu merupakan satu dari sekian banyak bukti kalau tari balet sudah lama disukai anak-anak Indonesia. Kedua gadis berusia 11 tahun ini sudah lama mempelajari balet di salah satu sekolah Jakarta, Cicilia Ballet School Jakarta.

Clara sudah menghabiskan waktu selama tujuh tahun untuk terlibat dalam tarian ini. "Kalau saya, baru empat tahun," ujar Lineya dengan malu-malu di Jakarta, belum lama ini.

Tak ada alasan khusus yang membuat mereka tertarik dengan tarian tersebut. "Saya suka tariannya, karena bagus pas dilihat terus jadi mau ikut," kata Lineya.

Meski sulit, entah mengapa kedua gadis kecil ini sangat menikmati setiap gerakan yang dipelajarinya. Bahkan, keduanya bercita-cita menjadi seorang balerina kelas dunia di masa depan.

Kecintaan balet juga dirasakan penyanyi Indah Dewi Pertiwi (IDP). Pada dasarnya, dia memang lebih dikenal masyarakat dengan gaya tari hip-hop. Namun, bukan berarti dia tak tertarik sama sekali dengan balet. Menurut dia, gerakan balet merupakan fondasi bagi tarian mana pun termasuk hip-hop. Untuk itu, IDP mengaku, tertarik mempelajari tarian itu ke depannya.

10 penari kelas dunia

Indonesia Dance Society (IDS) kembali menyelenggarakan International Ballet Star Gala (IBSG). Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini IDS akan mendatangkan 10 penari balet kelas dunia sekaligus ke Indonesia.

Tak tanggung-tanggung, kesepuluh orang tersebut merupakan penari yang dikenal dengan sebutan principal dancer yang terkenal di dunia. Sebutan ini berkaitan tentang penari balet tingkat utama di peringkat tertinggi dalam sebuah grup tari profesional dunia. Untuk mencapai level tersebut memang tidak mudah, mengingat persaingan ketat antara satu sama lain. Bahkan, untuk mendapatkan gelar tersebut dapat menghabiskan waktu yang cukup lama.

Founder & Managing Director IDS Juliana Tanjo mengatakan, kesepuluh penari tersebut berasal dari lima negara, yakni Denmark, Rusia, Amerika Serikat, Inggris, dan Korea Selatan. Mereka berasal dari institut-insitut terkenal dunia, seperti American Ballet Theatre USA, Royal Danish Ballet Denmark, Mariinsky Ballet Rusia, English National Ballet USA, San Fransisco Ballet USA, dan Universal Ballet Korea.

Adapun kesepuluh penari yang akan diundang pada 4 Februari mendatang di Teater Jakarta, Taman Ismail Jakarta tersebut, yaitu Daniil Simkin, Adiarys Almeida dan Ulrik Birkkjaer. Kemudian, terdapat pula Ida Praetorius, Igor Kolb, Sofia Gumerova, Alejandro Virelles dan Lorena Feijoo. Selanjutnya, ada juga Jae Yong Ohm, dan Hye Min Hwang dari Korea Selatan.

Tarian kombinasi

Juliana mengatakan, mereka nantinya tidak hanya tampil secara solo, tapi berpasangan juga. Tak hanya itu, sejumlah jenis tarian balet, baik klasik maupun modern juga akan ditampilkan. Beberapa di antaranya bahkan, memperlihatkan tarian kombinasi antara balet klasik dan tradisional negara masing-masing, seperti dari Korea Selatan.

"Nanti yang dari Korea akan menampilkan tarian balet yang bercampur dengan unsur tradisional Korea. Dan, ini yakin pasti akan menarik," ujar Juliana kepada wartawan di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia Jakarta.

Yang paling menarik, Juliana mengungkapkan, Adiarys Almeida akan memerlihatkan koreografi terbarunya. Jakarta akan menjadi tempat pertama yang akan melihat karya baru dari penari balet kelas dunia itu. Karena itu, Jakarta akan menjadi tempat spesial para penikmat tarian balet.

Persiapan pagelaran yang menargetkan 1.200 penonton ini sudah cukup lama, yaitu sekitar satu tahun lalu. Hal ini karena agak sulit mengajak kesepuluh penari tersebut. Apalagi, dia melanjutkan, mereka memiliki jadwal padat, baik latihan maupun penampilan.

Meski akan diisi para penari dunia, Juliana menambahkan, akan ada beberapa penari lokal yang terlibat. Mereka akan tampil dalam acara pembukaan IBSG di Jakarta nanti. Di sini mereka dapat merasakan bagaimana menari balet yang sudah masuk kelas dunia itu.

Hadirnya para penari lokal ini membuktikan minat dan antusiasme besar masyarakat Indonesia. Juliana menjelaskan, balet hadir di Indonesia sejak 89 tahun lalu. Saat itu dianggap sebagai salah satu genre tari nontradisional yang paling diminati oleh para pelaku dan penikmat seni.

Anna Pavlova

Catatan sejarah menyebutkan, eksistensi balet Indonesia ditandai dengan kunjungan Anna Pavlova dan grup tarinya ke Batavia. Mereka juga mengunjungi Semarang, Surabaya, dan Bandung pada Maret 1929 untuk mengenalkan balet.

Kemudian hal itu berlanjut pada 1934 dengan dijadikannya Batavia sebagai tuan rumah pertama kedatangan grup tari Dandre-Levitoff Russian Ballet. Banyak masyarakat dari berbagai kota yang menjadi saksi mata keindahan tari klasik balet kala itu, seperti Bandung, Semarang, Surabaya dan Bali.

Seiring berjalannya waktu, balet pun beralih dari pertunjukan panggung. Tidak hanya jadi aktivitas seni biasa, tapi mampu menghasilkan maestro balet di Indonesia. Dari situlah, banyak maestro mendirikan sekolah tari yang ternyata berhasil mencetak balerina.

Menurut Juliana, hal ini tentu menjadi faktor kuat akan bertambahnya minat balet di kalangan masyarakat Indonesia. Selain tersedianya sekolah tari balet di kota-kota besar, mudahnya akses untuk menikmati tarian melalui internet juga memberikan pengaruh.

Penayangan program dance reality show dan kekuatan persuasif teman sebaya berhasil menumbuhkan minat itu. Dengan cara demikian, tarian teknikal ini pun kini dapat lebih dikenal dan mampu diapresiasi masyarakat dalam skala lebih besar di Indonesia.n ed: mansyur faqih

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA